Wanaloka.com – Indonesia memiliki keunggulan strategis karena karakter geografisnya sebagai negara maritim sekaligus kawasan cincin api. Kondisi tersebut menyediakan habitat mikroalga dengan mekanisme adaptasi ekstrem yang jarang dimiliki negara lain.
“Berdasarkan penelitian, mikroalga dapat menjadi solusi berbasis alam untuk mitigasi perubahan iklim,” kata Dosen dan Peneliti Kelompok Keahlian Biokimia dan Rekayasa Biomolekul, FMIPA ITB, Alfredo Kono, Jumat, 30 Januari 2026.
Sebab mikroalga memiliki kemampuan alami menangkap karbon dioksida (CO₂) melalui fotosintesis dan mengonversinya menjadi biomassa, sehingga berpotensi menjadi alternatif solusi cepat di tengah urgensi krisis iklim global.
Baca juga: PLTU Cirebon-1 Batal Pensiun Dini, Bukti Komitmen Transisi Energi Rapuh dan Tidak Akuntabel
Eksplorasi mikroalga ini dilakukan di berbagai lokasi, mulai dari laut tropis hingga kawasan vulkanik di Jawa Barat, seperti Kawah Kamojang, Talaga Bodas di Garut, dan Kawah Domas Tangkuban Parahu. Dari kawasan tersebut, tim peneliti berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi mikroalga merah Galdieria sulphuraria yang mampu hidup dalam kondisi ekstrem dengan tingkat keasaman sangat tinggi.
Salah satu keunggulan utama mikroalga adalah kecepatan pertumbuhan dan efisiensi penggunaan lahan. Mikroalga lebih cepat untuk fotosintesis optimal, sekitar 1-2 hari daripada pohon yang memerlukan waktu bertahun-tahun untuk bisa bertumbuh dan memiliki daun.
Mikroalga dapat dibudidayakan dalam sistem tertutup seperti tangki, sehingga memungkinkan implementasi di berbagai lokasi. Termasuk kawasan perkotaan dan industri, tanpa memerlukan lahan luas.
Baca juga: Penelusuran Forensik Kayu dengan Teknologi Berbasis DNA dan Near Infrared
“Salah satu yang membuat powerful adalah ukurannya yang kecil. Tapi kemampuan penangkapannya bisa jauh lebih tinggi dari tanaman yang ada di darat,” terang dia.







Discussion about this post