Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Keindahan Langit Indonesia Jadi Peluang Pengembangan Astrowisata

Tak banyak yang tahu, keindahan langit menyimpan banyak potensi untuk astrowisata. Apa sajakah itu?

Rabu, 25 Oktober 2023
A A
Wisatawan Gunung Bromo melihat detik-detik sinar matahari merekah di langit pagi hari. Foto wanaloka.com.

Wisatawan Gunung Bromo melihat detik-detik sinar matahari merekah di langit pagi hari. Foto wanaloka.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Pada tahun 2016, Dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Dr. Chatief Kunjaya mulai berpikir untuk mengembangkan astrowisata. Yakni kegiatan yang melibatkan benda langit sebagai objek keindahan, baik natural maupun buatan.

“Ide itu muncul karena banyak turis asing yang berkunjung ke Indonesia untuk melihat gerhana,” kata Chatief dalam talkshow bertema “Uncover the Treasures of the Sky, Astro-Tourism in Indonesia and its Future Potensial” untuk memperingati World Space Week 2023 yang diadakan Astara Ganesha (AstaGa) 2023 di Ruang Seminar FSRD, ITB Kampus Ganesha pda 30 September 2023.

Kegiatan astrowisata itu pun,sebenarnya sudah ada sejak lama. Namun sebatas dalam bentuk kunjungan atau public outreach. Dan banyak hal yang harus dipersiapkan untuk menggelar astrowisata, terutama pada infrastruktur serta regulasinya.

Baca Juga: BMKG Ajak Global Kolaborasi Pengamatan Laut Demi Informasi Cuaca yang Akurat

Berdasarkan pada ilmu pengetahuan dan data, Chatief mulai memetakan daerah-daerah yang berpotensi. Semisal, daerah di Indonesia yang berpotensi memiliki langit cerah, misalnya daerah Nusa Tenggara Timur. Sedangkan salah satu tempat yang berpotensi tinggi mempunyai langit yang cerah adalah Pulau Sabu.

Pulau Sabu memiliki 75 persen hari cerah selama satu tahun. Pulau tersebut juga memiliki langit yang gelap sehingga bisa melihat Galaksi Bima Sakti dengan jelas. Namun, akses menuju pulau masih sulit dan hanya ada perahu sebagai alat transportasinya.

“Pulau Sabu ini punya potensi sebagai astrowisata dan observatorium”, ujar Chatief.

Baca Juga: Terinspirasi Yin Yang, Tim Kuya Sigma ITB Raih Sertifikat Tahan Gempa

Pengembangan astrowisata di Indonesia tentu tak luput dari tantangan. Langit yang gelap perlu dilindungi dengan regulasi dan peraturan daerah agar tidak terjadi polusi cahaya. Begitu juga dengan akses menuju lokasi yang sulit, serta banyak daerah di Indonesia yang tinggi curah hujan dan tutupan awannya, misalnya di pegunungan Papua.

Chatief membeberkan beberapa inspirasi kegiatan astrowisata yang dianggap menarik. Seperti langit yang bermandikan cahaya bintang. Bentuk astrowisatanya adalah melakukan pengamatan langit malam di pantai.

Belum banyak yang menganggap keindahan langit menajdi potensi karena orang-orang tidak tahu keindahan langit, belum pernah melihat langit yang indah karena tertutup polusi cahaya, terutama di kota-kota besar.

Baca Juga: Perusahaan Tambang Nikel Gugat UU 27 Tahun 2007, Walhi: Ancaman Kelangsungan Hidup Pulau Kecil

“Di Kupang, kita bisa melihat banyak bintang di langit. Bahkan bisa melihat Galaksi Bima Sakti yang membentang hingga setengah lingkaran,” tutur Chatief.

Ide lainnya mengenai astrowisata adalah pengamatan Gerhana Matahari dan hari tanpa bayangan di setiap kota yang berbeda di Indonesia. Astrowista juga bisa dikembangakan di daerah tengah kota, seperti yang dilakukan Founder Imahnoong, Hendro Setyanto yang berfokus pada astrowisata buatan. Hal lain adalah memanfaatkan objek sejarah yang memiliki aspek astronomi, seperti Candi Borobudur.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Astronomi ITBastrowisataGalaksi Bima Saktikeindahan langitNusa Tenggara TimurPulau Sabu

Editor

Next Post
Pantai Glagah, saah satu pantai selatan DIY. Foto wanaloka.com.

Selatan Jawa Jadi Lokasi Uji Sistem Peringatan Dini Tsunami IOWave23

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media