Sabtu, 5 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kisah Mark Zuckerberg hingga Raja Belanda Blusukkan ke Kampoeng Cyber

Kalau yang di luar masih kaget dengan kebiasaan baru ini karena harus beli data, kami sudah siap.

Sabtu, 1 Januari 2022
A A
Kampoeng Cyber di Kota Yogyakarta. Foto Wanaloka.com

Kampoeng Cyber di Kota Yogyakarta. Foto Wanaloka.com

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Nama Kampoeng Cyber yang berada di RT 36 RW 09, Kampung Taman, Kelurahan Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta sudah tak asing didengar. Disebut kampoeng cyber, karena warga yang terdiri dari 55 kepala keluarga di RT itu sudah melek internet.

Sekitar 40 rumah yang berdiri di sana sudah terkoneksi dengan jaringan maya itu sejak 2015. Tak heran, ketika banyak orang harus beralih kerja di rumah, begitu pun anak-anak sekolah di rumah secara daring karena pandemi Covid-19, warga Kampoeng Cyber tak lagi terlalu kaget.

“Kalau yang di luar masih kaget dengan kebiasaan baru ini karena harus beli data, kami sudah siap,” kata inisiator Kampung Cyber, Antonius Sasongko, 42 tahun, saat saya temui di rumahnya, 29 Desember 2021.

Kesiapan itu tak hanya terkait jaringan yang sudah mencapai bandwidth 100 Mbps untuk melayani satu kampung. Melainkan juga kesiapan warga menyediakan perangkatnya, baik komputer PC, laptop, atau minimal telepon pintar. Secara bertahap, sejak dinisiasi pada 2008 dengan bandwidth 3 Mbpd, kemudian dilanjutkan dengan melakukan edukasi melek internet terhadap warga, kini berbuah manis. Tak hanya untuk berselancar, warga juga memanfaatkan internet untuk mempromosikan usaha rumahan mereka. Mulai dari kerajinan batik, sablon, alat pancing, kumis palsu, dan banyak lagi.

Baca Juga: Catatan Bencana Alam Tahun 2021

“Paling speed-nya ditambah. Karena penggunaan selama pandemi kan makin tinggi,” imbuh Koko, panggilan akrabnya. Untuk perawatan dan biaya jaringan, warga berdikari. Mereka iuran Rp60 ribu per rumah saban bulan.

Pesohor datang berkunjung

Kampoeng Cyber pertama di Yogyakarta itu menarik sejumlah pesohor untuk blusukkan ke sana. Sebut saja pendiri media sosial Facebook, Mark Zuckerberg yang datang ke sana pada Oktober 2014. Ketika itu Mark Zuckerberg memang berkunjung ke sejumlah tempat wisata di Indonesia. Salah satunya, Candi Borobudur di Magelang. Namun rencana Mark Zuckerberg mampir ke Kampoeng Cyber, tak ada warga yang tahu.

“Dia ke sini sekitar pukul 3 sore,” kata Koko.

Lantaran kampung yang bersisihan dengan wisata pemandian keluarga raja “Taman Sari” itu memang terbiasa didatangi rombongan wisatawan, termasuk bule, warga menganggap hal biasa. Tak terbersit salah satu orang dalam rombongan itu adalah pendiri media sosial yang banyak digunakan warga.

Mural di Kampoeng Cyber di Kota Yogyakarta. Foto Wanaloka.com

“Bahkan ada warga yang sempat ngobrol dengan Mark pun tak tahu,” kata Koko sambil tertawa.

Pesohor lainnya adalah tamu negara, Raja dan Ratu Belanda Willem Alexander dan Maxima pada Maret 2020. Ketika itu, Indonesia belum dinyatakan tertutup untuk tamu asing akibat pandemi. Untuk yang satu ini, persiapan dilakukan jauh hari. Setidaknya sebulan sebelum kedatangan Willem dan rombongan, pihak Kedutaan Besar Belanda wara wiri ke sana terkait protokoler. Salah satunya mempersiapkan di titik mana saja di kampung itu rombongan akan berhenti. Termasuk soal pengamanan.

“Kami latihan sebulan itu,” ungkap Koko.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Kampoeng CyberKota YogyakartaMark ZuckerbergMaximaRaja dan Ratu BelandaWillem Alexander

Editor

Next Post
Kondisi banjir di Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh. Foto BNPB

Akhir Tahun 2021, Aceh Timur Dilanda Banjir, 4.841 Warga Mengungsi

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media