Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kisah Para Penjaga Gunung Api Jelang Erupsi hingga Banjir Pascaerupsi

Modernisasi peralatan pemantauan dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia penting untuk memperkuat mitigasi bencana geologi di Indonesia.

Kamis, 31 Oktober 2024
A A
Suasana di PGA Gamalama di Kota Ternate, 30 Okt 2024. Foto Kementerian ESDM.

Suasana di PGA Gamalama di Kota Ternate, 30 Okt 2024. Foto Kementerian ESDM.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Hidup berdampingan dengan aktivitas gunung api sudah dilakoni Iwan Amat sejak kecil. Apalagi rumahnya di Kelurahan Marikrubu, Kota Ternate, Maluku Utara bertetangga dengan Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) Gamalama. Ia sering menyambangi bangunan tinggi itu untuk membantu petugas senior pos, Darno Lamani, mengoperasikan alat-alat pos pengamatan.

“Sejak kecil saya sudah sering dipanggil untuk menemani Pak Darno bekerja,” aku Iwan, 49 tahun di Ternate, Rabu, 30 Oktober 2024.

Keseharian bersama Darno menginspirasinya untuk menjadikan petugas pengamatan gunung api sebagai profesinya. Apalagi alat-alat pemantau gunung api yang masih manual masa itu, menurut Iwan sangat menarik. Seperti seismograf Osaka. Semua pemantauan dilakukan langsung di lapangan.

Baca Juga: Rangkong Badak, Baning Cokelat dan Lutung Dilepasliarkan ke Habitatnya

“Saya tertarik menjadi pengamat gunung api, menjalankan alat-alat itu,” ujar dia.

Tak terasa, Iwan sudah tiga dekade melakoni pekerjaan itu. Secara resmi, Iwan bergabung sebagai petugas pengamatan gunung api pada 1995 di bawah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian ESDM. Penempatan pertamanya di Gunung Dukono, Halmahera Utara yang menurut dia penuh tantangan.

Gunung yang kerap erupsi itu sempat mengharuskan Iwan berjibaku selama dua hari dua malam untuk melaporkan informasi letusan secara berkala. Saat itu, laporan hanya bisa disampaikan dua kali sehari melalui radio, yaitu pukul 10.00 dan 16.00 WIT.

Baca Juga: Keunikan Geopark Vulkanik Purba di Sikka dan Budayanya

“Kesulitan menyampaikan informasi saat letusan besar terasa sekali. Bahkan, untuk mengirim laporan ke Bandung, saya harus ke Tobelo dulu, sekitar 19 kilometer dari pos tanpa kendaraan dinas,” kenang dia.

Tantangan terbesar lainnya adalah saat anggota keluarga jatuh sakit. Jumlah personel yang terbatas sering kali menyulitkan Iwan untuk meninggalkan pos. Namun, ia selalu berusaha menjalankan tugasnya sebaik mungkin.

Kini ia Kembali ke Pos PGA Gamalama. Iwan ditemani dua rekannya, Triyanto, 34 tahun dan Marjan, 37 tahun. Mereka tengah memantau aktivitas gunung yang masih dalam status Level II (Waspada). Ketiganya bersiap siaga mengawasi perkembangan visual dan instrumental Gamalama demi memastikan keselamatan masyarakat di sekitar Ternate.

Baca Juga: Indonesia Ekspor Petai ke Jepang dari Perhutanan Sosial

Keseharian mereka diisi dengan pengamatan visual, mengamati warna dan tekanan asap kawah, suhu solfatara, dan perubahan di sekitar permukaan kawah menggunakan teropong.

“Informasi yang akurat dan terkini sangat penting bagi masyarakat, apalagi dalam kondisi darurat, untuk meminimalkan risiko korban jiwa,” kata dia.

Bagi Iwan dan timnya, pengawasan Gamalama bukan sekadar pekerjaan; ini adalah pengabdian yang tak kenal lelah.

Baca Juga: Upaya Restorasi Lahan Gambut dengan Teknologi Paludikultur

“Selalu waspada, ini tugas utama kami,” ucap dia.

 Modernisasi alat PGA jadi prioritas

Dalam kunjungan ke PGA Gamalama, Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menegaskan pentingnya modernisasi peralatan pemantauan dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia guna memperkuat mitigasi bencana geologi di Indonesia. Mengingat Indonesia terletak di ring of fire sehingga rentan terhadap bencana geologi.

Peningkatan kompetensi SDM bisa melalui berbagai pelatihan, baik di dalam maupun di luar negeri untuk menambah wawasan terkait teknologi terkini dalam pengamatan gunung api. Selain itu, perlu melengkapi sarana dan prasarana pemantauan, termasuk gedung pengamatan yang memadai.

Baca Juga: Subejo, Pencapaian Swasembada Pangan Butuh Kebijakan Tepat

“Peran pengamat dalam mitigasi bencana geologi sangat penting untuk mengurangi korban jiwa. Apa pun kebutuhan peralatan tambahan di pos pemantauan, sampaikan saja dan akan kami tindak lanjuti,” janji Yuliot.

Kepala Badan Geologi Muhammad Wafid mengimbuhkan, Badan Geologi telah memiliki peta jalan (roadmap) modernisasi alat pemantauan dan renovasi pos-pos pengamatan sejak 2018 hingga 2029 yang dilakukan bertahap. Harapannya, seluruh pos PGA pada 2029 dapat memberikan fasilitas yang lebih baik bagi pengamat dalam menjalankan tugas mitigasi di lapangan.

“Jika pos-pos pengamatan lebih nyaman untuk bekerja, rotasi pegawai juga bisa lebih efektif,” ujar Wafid.

Baca Juga: Populasi Perkotaan Capai 5 Miliar Tahun 2030, Perlu Penataan Ruang Pesisir

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: banjir bandangBNPBGunung GamalamaGunung Marapipos pemantau gunung apiPVMBG Badan Geologi

Editor

Next Post
Inovasi hasil ekstraksi batu bara berkalori rendah menjadi Gamahumat. Foto Dok. UGM.

Gamahumat, Ekstraksi Batu Bara Kalori Rendah untuk Soil Stabilizer

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media