Wanaloka.com – Beredarnya anggapan bahwa earphone bluetooth berbahaya bagi otak akibat efek radiasi diluruskan Dosen Ilmu Biomedik Biologi Sel dan Molekuler Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Widya Eka Nugraha. Dari sudut pandang medis, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang konsisten menunjukkan penggunaan earphone bluetooth merusak otak manusia.
“Tidak semua radiasi berbahaya bagi tubuh manusia. Dampaknya bergantung pada jenis radiasi, besar paparan, durasi, serta jaraknya,” ucap Widya.
Bluetooth memancarkan gelombang radio atau radio frequency (RF) yang termasuk radiasi non-ionisasi. Radiasi ini berbeda dengan radiasi pengion seperti sinar X (X-ray) atau sinar gamma yang diketahui dapat merusak DNA pada dosis tertentu.
Pada paparan RF, mekanisme efek biologis yang terjadi adalah pemanasan jaringan (thermal effect). Ia mengklaim, sejauh ini alat bluetooth yang beredar di pasaran memenuhi standar keamanan dan tidak memberikan efek yang signifikan terhadap jaringan tubuh manusia.
Baca juga: Waspada Penularan Penyakit Campak
Mengutip tinjauan sistematis Karipidis, dkk (2024) mengenai paparan RF dan risiko kanker, termasuk tumor otak. Bahwa kesimpulan, penelitian tersebut adalah paparan dari penggunaan ponsel dimungkinkan tidak meningkatkan risiko kanker otak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2010 juga menyatakan riset tidak menunjukkan bukti konsisten adanya dampak kesehatan merugikan dari paparan RF pada level di bawah batas aman.
Alih-alih radiasi, Widya menekankan risiko kesehatan yang lebih realistis justru berkaitan dengan pola penggunaan. Gangguan pendengaran akibat volume terlalu keras dan durasi terlalu lama sebagai risiko paling sering ditemui di layanan klinik.
Selain itu, terdapat risiko infeksi telinga luar apabila earphone dipakai lama dalam kondisi lembap, jarang dibersihkan, atau digunakan bergantian.







Discussion about this post