“Konservasi di Indonesia masih cenderung fokus pada spesies, bukan ekosistem. Padahal gajah dan harimau tidak bisa bertahan tanpa hutan yang utuh,” kata dia.
Ia menegaskan diperlukan penyadartahuan secara berkelanjutan kepada masyarakat, penegak hukum, dan pihak terkait agar perlindungan satwa liar dapat berjalan lebih efektif.
Krisis konservasi satwa
Menanggapi isu ini, Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) sekaligus Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi Setiadi Daryono menyampaikan duka dan keprihatinan yang mendalam atas kematian Gajah dan Harimau Sumatra di Bentang Seblat, Bengkulu. KOBI mengecam keras segala bentuk perburuan dan peracunan satwa dilindungi.
“Setiap kehilangan satwa kunci ini bukan hanya tragedi biodiversitas, tapi juga sinyal tekanan pada habitat dan konflik manusia-satwa sudah berada di titik kritis,” ungkap Budi, Rabu, 3 Juni 2026.
Akar persoalannya adalah fragmentasi habitat dan minimnya pencegahan konflik. Tanpa koridor jelajah yang aman dan tata kelola bentang alam berbasis sains, kasus serupa akan terus berulang di kemudian hari.
“Gajah dan harimau punya peran ekologis vital yang tidak dapat digantikan. Menjaga hutan dan keseimbangan ekosistem adalah suatu keharusan, baik pada tingkat masyarakat maupun pemerintah dan negara,” kata dia.
KOBI menyampaikan rekomendasi kepada pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan untuk melakukan beberapa langkah upaya strategis untuk melindungi satwa yang sudah terancam punah di Sumatra.
Pertama, audit forensik dan pemetaan titik rawan konflik secara transparan oleh KLHK dan BKSDA Bengkulu. Kedua, penguatan sistem peringatan dini konflik serta kompensasi adil bagi masyarakat terdampak. Ketiga, pelibatan masyarakat lokal sebagai penjaga hutan dengan insentif dan kewenangan nyata.
KOBI juga siap bekerja sama dengan pemerintah, NGO, akademisi dan masyarakat serta akan menurunkan ahli biologi satwa untuk membantu. Bentang Seblat adalah salah satu benteng terakhir harimau dan gajah liar di Sumatra. Dan Bentang Seblat harus tetap menjadi rumah bersama bagi satwa, khususnya gajah dan harimau serta manusia agar dapat hidup berdampingan secara harmoni.
“Jika hutan sehat, maka desa-desa di tepinya juga akan sejahtera,” kata dia. [WLC02]
Sumber: IPB University, UGM






Discussion about this post