Sabtu, 5 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Krisis Konservasi Satwa, Hukum Ditegakkan Usai Gajah dan Harimau Mati

Rabu, 3 Juni 2026
A A
Salah satu dari 42 ekor harimau Sumatera yang tertangkap kamera trap di Bengkulu. Foto Dok. Kemenhut.

Salah satu dari 42 ekor harimau Sumatera yang tertangkap kamera trap di Bengkulu. Foto Dok. Kemenhut.

Share on FacebookShare on Twitter

“Konservasi di Indonesia masih cenderung fokus pada spesies, bukan ekosistem. Padahal gajah dan harimau tidak bisa bertahan tanpa hutan yang utuh,” kata dia.

Ia menegaskan diperlukan penyadartahuan secara berkelanjutan kepada masyarakat, penegak hukum, dan pihak terkait agar perlindungan satwa liar dapat berjalan lebih efektif.

Krisis konservasi satwa

Menanggapi isu ini, Ketua Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) sekaligus Dekan Fakultas Biologi UGM, Prof. Budi Setiadi Daryono menyampaikan duka dan keprihatinan yang mendalam atas kematian Gajah dan Harimau Sumatra di Bentang Seblat, Bengkulu. KOBI mengecam keras segala bentuk perburuan dan peracunan satwa dilindungi.

“Setiap kehilangan satwa kunci ini bukan hanya tragedi biodiversitas, tapi juga sinyal tekanan pada habitat dan konflik manusia-satwa sudah berada di titik kritis,” ungkap Budi, Rabu, 3 Juni 2026.

Akar persoalannya adalah fragmentasi habitat dan minimnya pencegahan konflik. Tanpa koridor jelajah yang aman dan tata kelola bentang alam berbasis sains, kasus serupa akan terus berulang di kemudian hari.

“Gajah dan harimau punya peran ekologis vital yang tidak dapat digantikan. Menjaga hutan dan keseimbangan ekosistem adalah suatu keharusan, baik pada tingkat masyarakat maupun pemerintah dan negara,” kata dia.

KOBI menyampaikan rekomendasi kepada pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan untuk melakukan beberapa langkah upaya strategis untuk melindungi satwa yang sudah terancam punah di Sumatra.

Pertama, audit forensik dan pemetaan titik rawan konflik secara transparan oleh KLHK dan BKSDA Bengkulu. Kedua, penguatan sistem peringatan dini konflik serta kompensasi adil bagi masyarakat terdampak. Ketiga, pelibatan masyarakat lokal sebagai penjaga hutan dengan insentif dan kewenangan nyata.

KOBI juga siap bekerja sama dengan pemerintah, NGO, akademisi dan masyarakat  serta akan menurunkan ahli biologi satwa untuk membantu. Bentang Seblat adalah salah satu benteng terakhir harimau dan gajah liar di Sumatra. Dan Bentang Seblat harus tetap menjadi rumah bersama bagi satwa, khususnya gajah dan harimau serta manusia agar dapat hidup berdampingan secara harmoni.

“Jika hutan sehat, maka desa-desa di tepinya juga akan sejahtera,” kata dia. [WLC02]

Sumber: IPB University, UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Gajah SumateraHarimau SumatraKOBIKrisis Konservasi Satwa

Editor

Next Post
Ilustrasi ombak tinggi. Foto jpleni/pixabay.com

Lonjakan Ombak Bono di Pesisir Timur Riau Bisa Capai Kiloan Meter ke Daratan

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
  • Pantomimer Wanggi Hoed melakukan aksi pertunjukan untuk memprotes ekspor monyet ekor panjang pada Hari Primata Interasional di Titik Nol Kota Yogyakarta, 2 september 2026. Foto Dok. Forum United For Primates .Petisi untuk Pemerintah Indonesia: Hentikan Ekspor Monyet Ekor Panjang untuk Penelitian!
    In News
    Rabu, 2 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media