Selasa, 21 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Lonjakan Ombak Bono di Pesisir Timur Riau Bisa Capai Kiloan Meter ke Daratan

Kamis, 4 Juni 2026
A A
Ilustrasi ombak tinggi. Foto jpleni/pixabay.com

Ilustrasi ombak tinggi. Foto jpleni/pixabay.com

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Gelombang pasang merupakan fenomena alam yang tidak bisa dihindari, bahkan intensitasnya terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Diperlukan riset mendalam yang dapat mendasari kebijakan strategis dalam menghadapi gelombang pasang yang kian mengancam kehidupan masyarakat pesisir.

Merespons isu tersebut, Pusat Riset Oseanografi Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRO BRIN) mengangkat fenomena gelombang pasang, khususnya di wilayah Sungai Kampar yang bermuara di pesisir timur Provinsi Riau. Peneliti PRO BRIN, Ulung Jantama Wisha memaparkan hasil penelitiannya di Selat Malaka.

Pemilihan lokasi riset itu bukan tanpa alasan. Perairan di sana berada di jalur strategis yang menghubungkan berbagai sistem laut besar, mulai dari Samudra Hindia, Laut Cina Selatan, hingga laut-laut pedalaman Indonesia. Posisi geografis tersebut menjadikan Selat Malaka sangat sensitif terhadap perubahan muka laut dan dinamika pasang surut.

Ketika muka laut terus naik, sistem muara akan mengalami ketidakstabilan yang semakin besar. Dampaknya tidak berhenti pada perubahan tinggi pasang surut semata, melainkan merembet ke transportasi sedimen, intrusi air asin, abrasi, hingga banjir pesisir (rob).

Di kawasan timur Sumatra, perubahan tersebut menjadi sangat krusial karena terdapat dua sungai yang memiliki fenomena gelombang pasang ekstrem, yaitu Sungai Kampar dan Sungai Rokan. Gelombang pasang (atau yang dikenal sebagai ombak Bono) muncul ketika massa air laut yang bergerak ke hulu bertabrakan dengan aliran sungai. Tabrakan ini menciptakan lonjakan hidrolik yang dapat menjalar hingga sekitar 60 kilometer ke daratan.

“Gelombang pasang ini sangat merusak,” ujar Ulung sambil menunjukkan dokumentasi fenomena Bono di Sungai Kampar dalam forum “Oceanology Talk Series #5: Coastal Environmental Dynamics From Sea Level Rise to Coral Transformation”, Rabu, 3 Juni 2026.

Sementara Indonesia memiliki sedikitnya lima lokasi dengan fenomena gelombang pasang serupa. Namun, penelitian mendalam mengenai karakteristiknya masih sangat terbatas.

Celah pengetahuan yang terabaikan

Selama bertahun-tahun, perhatian terhadap kenaikan muka laut lebih banyak difokuskan pada ancaman tenggelamnya wilayah pesisir. Namun, Ulung menilai ada aspek kritis yang belum banyak dipahami: bagaimana kenaikan muka laut mengubah rezim pasang surut dan memengaruhi pembentukan gelombang pasang di muara sungai.

Dalam risetnya, Ulung membangun model hidrodinamika yang mencakup Selat Malaka hingga muara Sungai Kampar dan Rokan. Model tersebut mengintegrasikan data pasang surut jangka panjang, debit sungai, angin, karakteristik sedimen, hingga proyeksi iklim masa depan. Tujuannya adalah memprediksi perubahan kondisi pasang surut dari masa kini menuju tahun 2050 dan 2100. Hasilnya menunjukkan pola yang mengkhawatirkan.

Berdasarkan data pengukuran jangka panjang, Ulung menemukan bagian selatan Selat Malaka yang dekat dengan garis khatulistiwa mengalami kenaikan muka laut lebih tinggi dibandingkan wilayah utara. Laju kenaikan tercatat mencapai sekitar 0,45 sentimeter per tahun dan tren tersebut menurun seiring bergerak ke arah utara.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Ombak BonoPRO BRINSelat Malaka

Editor

Next Post
Ilustrasi bandara antariksa. Foto www.gov.u.

LBH Papua Kecam Rencana Pengukuran Lokasi Bandar Antariksa di Biak Numfor

Discussion about this post

TERKINI

  • Dampak diberlakukannya penutupan TPA Piyungan mulai 23 Juli hingga 5 September, sejumlah tumpukan sampah mulai terlihat di Kota Yogyakarta. Foto Forpi Kota Yogyakarta.Proyek PSEL Yogyakarta Ditunda, Mengapa Konsorsium Pemenang Tender Sudah Diumumkan?
    In News
    Selasa, 21 Juli 2026
  • Ilustrasi regenerasi pohon. Foto Agnieszka/Pixabay.com.Mekanisme Regenerasi Pohon dan Nilai Spiritual Ekologis dalam Al-Qur’an
    In IPTEK
    Senin, 20 Juli 2026
  • Kebakaran di TPA Benowo di Surabaya, 19 Juli 2026. Foto Dok. DKPKP Surabaya.TPA Benowo Terbakar, Risiko Sistem Pemrosesan Sampah Open Dumping
    In Bencana
    Senin, 20 Juli 2026
  • Mengenal orangutan tapanuli. Foto Dok PPID Kemenlhk.Survei Terbaru Populasi Orangutan Sumatera dan Tapanuli Jadi Pijakan Kebijakan Konservasi
    In News
    Sabtu, 18 Juli 2026
  • Tanah longsor di Desa Petir, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Mei 2026. Foto BPBDKabupaten Bogor.Pulau Jawa Hadapi Tekanan Ekologis, Negara Harus Hentikan Perampasan Ruang Hidup
    In News
    Kamis, 16 Juli 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media