Minggu, 28 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

KTT AIS Forum 2023 Bahas Perubahan Iklim, Ekonomi Biru dan Masa Depan Laut  

Kamis, 5 Oktober 2023
A A
Delegasi negara-negara partisipan AIS Forum 2023. Foto Dok Sekretariat AIS Forum.

Delegasi negara-negara partisipan AIS Forum 2023. Foto Dok Sekretariat AIS Forum.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Archipelagic and Island States (AIS) Forum yang merupakan wadah kerja sama antarnegara pulau dan kepulauan sedunia akan mengelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pada 10-11 Oktober 2023 di Bali. KTT AIS Forum akan menyerukan penguatan solidaritas untuk mengatasi permasalahan bersama di bidang maritim.

Ada tiga persoalan utama yang akan dibahas, yaitu perubahan iklim, ekonomi biru, serta masa depan laut. Ketiga bahasan itu terangkum dalam empat fokus kerja AIS Forum selama ini, yakni adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, serta penanganan bencana, ekonomi biru, penanganan sampah plastik di laut, dan tata kelola maritim yang baik.

“AIS Forum akan menjadi wadah negara pulau dan kepulauan menghadapi common enemy (masalah bersama), seperti kenaikan permukaan air laut dan perubahan iklim. Biar lebih terkoordinir, terstruktur, dan tajam. Jadi tidak lagi sporadis,” kata Peneliti Universitas Padjajaran yang juga menjadi perwakilan Indonesia pada AIS RnD Conference 2023, Alexander Muhammad Khan saat menyampaikan dalam Forum Merdeka Barat (FMB9) Road to KTT AIS FORUM 2023 bertajuk “Langkah Nyata Kelola Laut” secara daring pada 4 Oktober 2023.

Baca Juga: November Diprediksi Awal Penghujan, El Nino Masih Bertahan Hingga Maret 2024

Menurut Alex, butuh strategi berbeda untuk menghadapi permasalahan di daratan dan lautan. Mengingat ada perbedaan batas-batas wilayah, di darat akan terlihat jelas, sementara laut tidak sehingga masalah perikanan dan kelautan tidak bisa diselesaikan sendiri.

“Adanya forum komunikasi seperti The Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Security (CTI-CFF) dan sekarang AIS Forum, masalah-masalah tersebut dibingkai sebagai kepentingan bersama yang bisa dibagi dan bisa dikelola bersama-sama,” jelas Alex.

Ia menilai langkah Indonesia tepat dalam menggalang negara-negara lain untuk menyelesaikan masalah bersama.

Baca Juga: Ini Sumber Gempa Kepulauan Talaud 6,7 Magnitudo

“Indonesia sudah on the right track menginisiasi terbentuknya CTI-CFF pada 2009 dan AIS Forum di 2018. Ini menunjukkan visi dan kepemimpinan Indonesia di tingkatan global, khususnya dalam isu-isu kelautan,” kata Alex.

Ia mencontohkan, yang paling terdampak perubahan iklim di Indonesia adalah masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil, seperti di Maluku Utara, Maluku, atau Papua. Beberapa masalah yang dihadapi adalah kenaikan permukaan air laut, masalah sampah plastik, hingga penurunan tangkapan nelayan.

Indonesia berusaha bekerja sama (hand in hand) dengan negara-negara yang mempunyai kepentingan dan visi yang sama untuk menjaga kelestarian lingkungan perikanan serta kelautan agar menjadi aksi global bersama.

Baca Juga: Tiga Fokus Mitigasi El Nino Hasil Rapat Terbatas Presiden

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: AIS Forumbidang maritimekonomi biruKTT AIS Forum 2023negara kepulauanperubahan iklimsampah plastik

Editor

Next Post
Konferensi Internasional ASTECHNOVA ke-7. Foto ugm.ac.id.

Jepang Targetkan Bebas Emisi Karbon Lebih Cepat 2050

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media