Temuan ini penting karena kawasan khatulistiwa merupakan lokasi muara-muara dangkal yang sangat sensitif terhadap perubahan pasang surut. Analisis harmonik yang dilakukan tim peneliti menunjukkan amplitudo berbagai komponen pasang surut terus meningkat, sementara fasenya justru menurun. Kenaikan amplitudo berarti energi pasang surut menjadi semakin besar.
“Di daerah khatulistiwa, tren peningkatan amplitudo jauh lebih kuat,” kata Ulung.
Dampak nyata dapat berupa peningkatan abrasi pantai, banjir, dan perubahan pola aliran di sungai.
Jadi isu kebijakan
Salah satu temuan menarik dari riset ini adalah kenaikan muka laut tidak mengubah jenis gelombang Bono di Sungai Kampar. Artinya, ombak Bono yang selama ini menjadi ikon wisata dan olahraga ekstrem berpotensi menjadi jauh lebih kuat di masa depan.
Ulung memaparkan bagaimana kenaikan muka laut global ini berpotensi mengubah karakter pasang surut, memperkuat gelombang pasang, mempercepat erosi, dan pada akhirnya mengancam kehidupan masyarakat di sepanjang muara sungai.
“Kenaikan permukaan laut tidak hanya menyebabkan banjir dan penyusutan garis pantai, tetapi juga mengubah proses hidrodinamika di muara sungai,” jelas dia.
Penelitian Ulung memperlihatkan ancaman perubahan iklim di wilayah pesisir tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata seperti tenggelamnya pulau kecil. Di Selat Malaka dan pesisir timur Sumatra, ancaman itu muncul melalui perubahan yang lebih kompleks: pasang surut yang semakin tinggi, ombak Bono yang kian kuat, sedimentasi yang tidak menentu, serta erosi yang menggerus tepian sungai sedikit demi sedikit.
Temuan ini menjadi peringatan keras bahwa adaptasi perubahan iklim tidak cukup hanya dilakukan dengan membangun tanggul atau merelokasi kawasan pesisir. Pemahaman terhadap dinamika muara dan sistem pasang surut harus diintegrasikan ke dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan wilayah pesisir masa depan. [WLC02]
Sumber: BRIN






Discussion about this post