Jumat, 2 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Mahmud Aditya, Pangan Lokal Solusi Makan Siang Gratis 10 Ribuan Tapi Bergizi

Tantangan lain, dalam pengembangan bahan pangan lokal, masyarakat masih awam terkait pangan lokal..

Sabtu, 21 Desember 2024
A A
Dosen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair Mahmud Aditya Rifqi. Foto Dok. Unair.

Dosen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair Mahmud Aditya Rifqi. Foto Dok. Unair.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Pemerintah Indonesia baru-baru ini mendapat sorotan terkait pemangkasan biaya makan siang gratis menjadi hanya sebesar Rp10.000 per porsi. Kebijakan itu menuai kontroversi dalam masyarakat.

Dosen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) Mahmud Aditya Rifqi mengatakan, perubahan itu justru memberikan tantangan kepada ahli gizi untuk dapat memberikan menu yang memiliki nilai gizi baik dengan biaya terbatas.

Sebagai ahli gizi, Mahmud menyebut bahan pangan lokal dapat menjadi alternatif yang baik. Penggunaan bahan pangan lokal dapat menjawab keterbatasan dana yang ada untuk penyediaan makan siang gratis. Bahan pangan lokal dinilai lebih terjangkau, tetapi kandungan gizinya tidak kalah dengan bahan pangan konvensional.

Baca juga: Rumah Kaca Kantong Semar di Kebun Raya Cibodas Dibuka Lagi

Mahmud menjelaskan, dalam penyediaan makanan yang bergizi dan berimbang perlu memperhatikan porsi, zat gizi dan komposisi. Umumnya dalam satu piring yang paling mahal adalah protein.

“Ini dapat disiasati dengan menggunakan bahan pangan lokal, seperti protein dari ikan,” kata Mahmud.

Sumber protein berpotensi adalah ikan air tawar. Nila, gurami dan lele menjadi opsi yang bagus dengan melimpahnya komoditas tersebut dalam masyarakat, sehingga memiliki harga yang terjangkau serta mudah didapatkan. Kandungan protein ikan lele, gurami dan nila juga tidak kalah dengan ayam maupun daging.

Baca juga: Anggota Komisi III DPR Minta Aparat Jangan Jadi Beking Kekerasan di Rempang

“Dari segi bahan nabati, penggunaan kacang-kacangan dapat menjadi opsi,” imbuh dia.

Kacang hijau, kacang merah dan produk olahannya dapat menjadi contoh. Kedelai lokal dapat digunakan sebagai bahan tempe dan tahu. Selain itu, di Indonesia sudah banyak dikembangkan kacang edamame.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Mahmud Aditya Rifqimakan siang gratisPangan LokalUnair

Editor

Next Post
Ilustrasi nelayan tradisional menangkap ikan. Foto Quangpraha/pixabay.com.

Penangkapan Ikan dengan Bom Masih Marak di Indonesia Timur

Discussion about this post

TERKINI

  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media