Rabu, 12 Agustus 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Mengintip Dua Planet Gas Raksasa Jupiter dan Saturnus dari Langit Kupang

Jupiter dan Saturnus adalah planet terbesar di tata surya. Keduanya tersusun dari partikel gas.

Minggu, 5 November 2023
A A
Ilustrasi Jupiter dan Saturnus (bercincin), dua planet terbesar di tata surya. Foto Tumisu/pixabay.com.

Ilustrasi Jupiter dan Saturnus (bercincin), dua planet terbesar di tata surya. Foto Tumisu/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Di daerah perbatasan gelap terang tersebut terdapat friksi yang sangat sering mengakibatkan turbulensi dan badai di permukaan Jupiter. Badai paling terkenal yang selalu terlihat sejak manusia pertama kali mengarahkan teleskop ke Jupiter adalah The Great Red Spot. Disebut demikian karena badai itu terlihat seperti titik merah besar di permukaan Jupiter apabila diamati dari Bumi.

Saturnus juga mengalami fenomena aurora yang merupakan hasil interaksi partikel bermuatan dari matahari (angin matahari) dengan medan magnet Jupiter. Berbeda dengan medan magnet Bumi yang berasal inti Bumi, medan magnet Jupiter berasal dari interaksi elektron-elektron gas hidrogen penyusunnya.

Baca Juga: Wisata Healing dari Minum Jamu hingga Berenang Bersama Hiu

Serupa dengan Saturnus, Jupiter juga memiliki cincin yang hanya dapat terlihat dengan detektor inframerah karena material penyusunnya bukan es serta strukturnya tidak terlalu masif. Selain itu, Jupiter juga memancarkan energinya sendiri yang lebih besar daripada energi yang diterimanya dari matahari. Kondisi ini sering menimbulkan miskonsepsi yang menganggap bahwa Jupiter adalah bintang yang gagal.

“Reaksi fusi paling tidak bisa terjadi kalau massa dari sebuah benda itu kira-kira 1/12 massa matahari. Sementara Jupiter massanya 1/1000 massa matahari, artinya dia masih terlalu jauh untuk menjadi sebuah bintang,” ujar Yusuf.

Baca Juga: Singkil Banjir Lagi, BMKG Ingatkan Cuaca Ekstrem Saat Pancaroba

Satelit-satelit Jupiter pertama kali teramati oleh Galileo pada 400 tahun lalu. Dia mengamati titik-titik kecil di sekitar Jupiter yang ternyata bergerak mengelilingi planet tersebut. Dari pengamatannya, Galileo mengambil kesimpulan bahwa Bumi mengorbit sesuatu yang lebih besar darinya seperti halnya satelit-satelit yang diamati mengorbit Jupiter, sehingga lahirlah teori heliosentris. Keempat satelit yang diamati Galileo dikenal sebagai Galilean Moons yang merupakan empat satelit terbesar Jupiter, yaitu Ganymede, Europa, Io, dan Callisto.

Malam itu, karena langit Lembang tertutup awan tebal, pengamatan difokuskan dari Kupang menggunakan teleskop berdiameter 20 sentimeter dengan panjang fokus 2 meter. Target pengamatan adalah planet Saturnus dan Jupiter yang sedang mengalami fase oposisi sehingga dapat terlihat jelas dari Bumi. [WLC02]

Sumber: ITB

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: fenomena auroraGalilean Moonsgas hidrogenJupiterObservatorium BosschaSaturnusThe Great Red Spot

Editor

Next Post
Kerjasama laboratorium bersama antara ITB dan CSU. Foto itb.ac.id.

Indonesia dan Cina Bangun Laboratorium Teknologi Bahan Energi Baru dan Metalurgi

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi gerhana matahari total. Foto Dok. BMKG.Masyarakat Indonesia Bisa Saksikan Fase Gerhana Matahari Total 12 Agustus di Kanal NASA
    In News
    Minggu, 9 Agustus 2026
  • Bencana ekologis di Sumatra. Foto Walhi.Deklarasi Desk Disaster Walhi: Hentikan Narasi “Bencana Alam” untuk Menghapus Tanggung Jawab
    In Lingkungan
    Rabu, 5 Agustus 2026
  • Menteri LH M. Jumhur Hidayat dalam Pelatihan Sertifikasi Lingkungan Hidup bagi Hakim Peradilan Umum, Militer, dan Tata Usaha Negara Seluruh Indonesia Angkatan XXIII di Bogor, 3 Agustus 2026. Foto Dok. KLH/BPLH.Menteri Jumhur: Putusan Pengadilan Harus Pulihkan Ekosistem dan Hentikan Perusakan Alam
    In News
    Rabu, 5 Agustus 2026
  • Ilustrasi semangka tanpa biji. Foto Congerdesign/Pixabay.comBudidaya Buah Tanpa Biji Tetap secara Alami
    In IPTEK
    Selasa, 4 Agustus 2026
  • Tongkang pengangkut batubara di perairan Sungai Mahakam. Foto Dok Wanaloka.com.Ribuan Ton Batu Bara Tumpah di Perairan Jepara, BRIN Survei Verifikasi Pencemaran
    In News
    Selasa, 4 Agustus 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media