Rabu, 11 Februari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Minimalisir Risiko Kecelakaan Laut, Nelayan Ikut Sekolah Lapang Cuaca

Perubahan iklim berdampak pada nelayan dalam menentukan waktu yang tepat untuk melaut. Salah satu solusinya dengan SLCN. Apakah itu?

Sabtu, 13 Agustus 2022
A A
Ilustrasi nelayan tradisional menangkap ikan. Foto Quangpraha/pixabay.com.

Ilustrasi nelayan tradisional menangkap ikan. Foto Quangpraha/pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Upaya meminimalisir kecelakaan laut, nelayan Indonesia perlu meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang informasi cuaca maritim melalui Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN). Sekolah itu digelar Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) di berbagai wilayah pesisir sebagai bentuk dukungan BMKG terhadap pembangunan sektor perikanan dan kelautan Indonesia.

“Risiko kecelakaan laut kecil, produktivitas hasil tangkapan ikan dan kesejahteraan nelayan akan meningkat,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam SLCN 2022 bertema “Dengan SLCN Wujudkan Nelayan Hebat, Selamat dan Sejahtera” di Desa Tayu Wetan Kecamatan Tayu Kabupaten Pati, Jawa Tengah pada 10 Agutus 2022. Juli lalu, SLCN serupa juga digelar untuk para nelayan Cilacap.

Lantas apa fungsi SLCN? Bukankah selama ini para nelayan punya cara sendiri untuk memprediksi kapan waktu tepat melaut dan tidak?

Baca Juga: Walhi: Krisis Iklim dan Penangkapan Ikan Terukur Sebabkan Jumlah Nelayan Turun

Persoalannya, cuaca masa ini tak mudah ditebak seiring perubahan iklim. Musim kemarau masih diwarnai hujan, bahkan di beberapa daerah hujan deras dan banjir. Selama ini, Dwikorita menjelaskan, BMKG bertugas melakukan observasi, analisis, dan prakiraan kondisi cuaca, iklim hingga gelombang.

Cuaca ekstrem di laut tidak jarang mengakibatkan kecelakaaan laut yang fatal. Sewaktu-waktu terjadi peringatan dini, BMKG bisa menyebarluaskan informasi prakiraan.

“Dan informasi itu harus dipahami oleh pengguna. Pengguna yang membutuhkan di laut adalah nelayan,” ucap Dwikorita.

Baca Juga: Diserang Buaya 3 Meter, Sampan Nelayan Pelalawan Karam

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: gelombang tingginelayanperubahan iklimriiko kecelakaanSekolah Lapang Cuaca NelayanSLCN

Editor

Next Post
BKSDA Aceh berhasil selamatkan harimau sumatra korban jerat. Foto ppid.menlhk.go.id.

Gerak Cepat BKSDA Aceh Selamatkan Harimau Sumatra Korban Jerat

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi rumah adat Sumatra Barat. Foto IndrabinYusuf/pixabay.com.Program Gentengisasi, Pakar Ingatkan Rumah Tradisional di Indonesia Tak Seragam 
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi makanan daging. Foto johnstocker/freepik.com.Diet Karnivora Tidak Aman, Ini Risikonya
    In Rehat
    Minggu, 8 Februari 2026
  • Ilustrasi kelelawar di pepohonan. Foto ignartonosbg/pixabay.com.Pakar Ingatkan, Virus Nipah Berpotensi Menular Antarmanusia
    In Rehat
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Bencana tanah bergerak di Desa Padasari, Kecamatan Jatinegara, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, 6 Februari 2026. Foto BPBD Tegal.Bencana Tanah Bergerak di Tegal, Dua Ribu Lebih Warga Mengungsi
    In Bencana
    Sabtu, 7 Februari 2026
  • Ilustrasi manusia terdampak cuaca panas ekstrem. Foto Franz26/pixabay.com.Dampak Cuaca Ekstrem, Suhu, Banjir dan Longsor Meningkat 16 Tahun Terakhir
    In News
    Jumat, 6 Februari 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media