Kamis, 27 Agustus 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Nyadran di Wadas: Mendoakan Keselamatan Bumi dari Perampasan dan Perusakan Lingkungan

Kamis, 17 Maret 2022
A A
Pengajian usai acara Nyadran Wadas. Foto Twitter @Wadas_Melawan.

Pengajian usai acara Nyadran Wadas. Foto Twitter @Wadas_Melawan.

Share on FacebookShare on Twitter

Salah satu pendamping warga, Sana Ulaili dari Solidaritas Perempuan (SP) Kinasih memaparkan, ada 117 perempuan dan 40 anak usia 8-13 tahun yang pada hari H peristiwa tersebut berada di masjid yang mengalami trauma. Mereka mengalami kekerasan psikologis karena melihat aksi penangkapan dan kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian terhadap 67 warga.

Baca Juga: Aksi Virtual Twibbon: 26 Tahun Kasus Pembunuhan Wartawan Udin Tak Tuntas

Tingkat traumatiknya beragam. Ada sejumlah perempuan yang masih mengalami ketakutan saat melihat orang yang tak dikenal, melihat aparat datang ke Wadas. Apalagi hingga saat ini masih ada aparat polisi, baik yang berseragam lengkap maupun berbaju sipil, keluar masuk Desa Wadas.

“Itu mengembalikan ingatan para perempuan pada kekerasan Februari 2022 dan April 2021 lalu,” kata Sana.

Ada juga yang mengalami gangguan emosional, seperti tiba-tiba terbangun dari tidur dan ketakutan, tiba-tiba mengangis, tiba-tiba merasa sesak karena mengingat kekerasan yang dialami warga.

“Jadi kami betul-betul berharap Komnas Perempuan melakukan investigasi mendalam di Wadas. Lembaga-lembaga negara harus bertanggung jawab pada kondisi traumatik warga,” kata Sana.

Tak hanya itu, warga juga berharap pemerintah, aparat polisi, dan para eksekutor tambang tak lagi datang ke Wadas. Lantaran kedatangan mereka akan memunculkan traumatik baru. Apalagi isu yang berhembus saat ini, lanjut Sana adalah seolah-olah warga menolak tambang karena terkait ganti rugi yang tak sesuai. Padahal warga yang menolak hingga kini pun tak pernah terpikir soal ganti rugi.

Baca Juga: Gangguan Ginjal, Ancaman Sebelum dan Selama Pandemi Covid-19

Kembulan atau makan bersama di Wadas. Foto Twitter @Wadas_Melawan.
Kembulan atau makan bersama di Wadas. Foto Twitter @Wadas_Melawan.

“Karena bagi warga yang penting adalah tak kehilangan lahan, tak kehilangan 27 sumber air yang jadi kebutuhan dasar reproduksi perempuan, tak kehilangan ruang politik dan ruang untuk melakukan kerja-kerja ekonomi dengan alam. Seperti membuat besek, menyadap aren,” papar Sana.

Meskipun kondisi psikologis belum pulih, warga masih tetap konsisten untuk tetap mempertahankan lahannya dari pengukuran untuk penambangan batu andesit.

“Itu prinsip kuat yang diugemi (diyakini) warga Wadas. Bahkan ketika Pak Ganjar Pranowo ke Wadas, sikap konsisten itu diperlihatkan kembali kesekian kalinya oleh para perwakilan yang bicara dalam forum itu,” papar Fuad.

Kuasa hukum warga Wadas, Julian Duwi Prasetia dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta pun mengabarkan, semua upaya pelaporan warga ke 11 institusi selama 24-26 Februari 2022 belum ada yang ditindaklanjuti. Meskipun dalam pelaporannya, juga telah menyertakan bukti catatan rumah sakit atas kondisi 67 warga yang ditangkap. Anak-anak di bawah umur mengalami kekerasan dan perempuan mengalami trauma sehingga membutuhkan penganganan psikiater.

“Obatnya cuma saja. Gubernur Jawa Tengah mencabut IPL. Sesederhana itu. Tapi pemerintah menolak. Itu adalah lampu hijau bagi kami untuk terus mengadvoakasi dan membersamai warga Wadas,” tegas Julian. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Desa Wadasinternetkekerasannyadrantradisitraumaziarah

Editor

Next Post
Bencana banjir dan longsor melanda 11 kecamatan di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Rabuu, 16 Maret 2022. Foto Dok BNPB.

11 Kecamatan di Purworejo Dilanda Banjir dan Longsor, 6 Ribu Warga Mengungsi

Discussion about this post

TERKINI

  • Upaya pemadaman karhutla di Kalimantan, 23 agustus 2026. Foto Dok. BNPB.Karhutla Kalimantan, Legislator: Warga Lokal Tak Bisa Terus Disalahkan, Cabut Izin Korporasi yang Terlibat
    In News
    Senin, 24 Agustus 2026
  • Penanganan karhutla di Lampung Timur, 21 Agustus 2026. Foto Dok. BNPB.Karhutla Berulang Bukan Fenomena Iklim, Walhi: Akibat Negara Salah Urus Tak Sampai Akar Masalah
    In Lingkungan
    Senin, 24 Agustus 2026
  • Titik-titik api karhutla di Pulau Kalimantan. Foto Istimewa.Hukuman Korporasi Pembakar Hutan Kalimantan: Cabut Izin dan Pulihkan Lingkungan!
    In News
    Minggu, 23 Agustus 2026
  • Pembangunan On The Rock di kawasan Pantai Watubolong di KBAK Gunungsewu di Kabupaten Gunungkidul, 8 Agustus 2026. (Foto Instimewa)Akses Dibatasi, Negara Harus Investigasi Perizinan Ekspansi Industri Wisata di Pantai Watubolong
    In News
    Minggu, 23 Agustus 2026
  • Visual pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, 20 Agustus 2026. (BNPB)Karhutla Ancaman Serius: Utamakan Penjagaan Sebelum Api Datang, Bukan Pencegahan
    In Bencana
    Sabtu, 22 Agustus 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media