Kamis, 14 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pakar UGM Desak Proyek Lahan 20 Juta Ha Ditinjau Ulang, Manfaatkan Lahan Tak Produktif

Sabtu, 18 Januari 2025
A A
Deforestasi hutan di Sumatera. Foto Facebook Yayasan WWF Indonesia.

Deforestasi hutan di Sumatera. Foto Facebook Yayasan WWF Indonesia.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca juga: Proyek Pagar Laut, Komisi II DPR Tegaskan Menteri ATR Jangan Lepas Tangan

Pemerhati kebijakan sosial ekonomi pertanian, Prof. Subejo menyebutkan banyak faktor yang memengaruhi stabilitas produksi pangan yang terganggu. Antara lain karena penggunaan pupuk tidak efisien, peralatan pertanian masih terbatas, hingga masih minimnya irigasi pertanian.

Selain itu, kondisi sektor pertanian dihadapkan pada persoalan regenerasi petani, bahwa rata-rata petani semakin menua dan tidak banyak anak muda yang tertarik dan berminat menjadi petani.

“Tugas yang harus dilakukan pemerintah adalah mendorong masyarakat Indonesia usia muda untuk masuk ke dunia pertanian untuk regenerasi,” kata Subejo.

Baca juga: Status Awas, Warga Sekitar Gunung Ibu Lakukan Evakuasi Mandiri

Selain itu, tingkat kompetensi SDM petani masih rendah karena sebagian besar pendidikan petani rata-rata hanya lulusan sekolah dasar.

“Semua faktor tersebut perlu diperbaiki dan dikelola dengan baik, sehingga sangat berpengaruh pada ketahanan pangan Indonesia ke depan,” imbuh dia.

Soal kebijakan untuk melakukan alih fungsi lahan sebanyak 20 juta hektar yang direncanakan untuk sumber energi juga dinilai belum perlu diimplementasikan. Sebab, kebutuhan akan energi berbahan dasar kelapa sawit atau bioetanol masih bisa dicukupi dengan jumlah hutan sawit yang ada saat ini.

Di samping itu, pembukaan lahan hutan juga memiliki banyak efek samping yang akan dirasakan. Sebagaimana rencana pembangunan berkelanjutan yang perlu mempertimbangkan keseimbangan keragaman hayati dan ketersediaan pangan. [WLC02]

Sumber: UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: 20 Juta haDewan Guru Besar UGMkarbon emisikeragaman hayatilahan tak produktif

Editor

Next Post
Ilustrasi hewan ternak sakit. Foto ugm.ac.id.

Kasus PMK Ternak di Indonesia Butuh Penanganan Segera dan Serius

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi kualitas udara di kota besar yang memburuk. Foto Yamu_Jay/Pixabay.com.Walhi: Pantauan Kualitas Udara Lima Kota Besar Indonesia Memburuk
    In News
    Rabu, 13 Mei 2026
  • Ilustrasi tikus pembawa virus. Foto Bergadder/Pixabay.com.Mengenal Hantavirus, Penyakit Zoonosis dengan Rantai Penularan Utama dari Tikus
    In Rehat
    Rabu, 13 Mei 2026
  • Mengapati dan mendokumentasikan letusan Gunung Sakurajima di Jepang pada 2013 dari jauh. Foto Dok. Mirzam Abdurrachman.Erupsi Dukono, Pentingnya Pemahaman Risiko dan Peringatan Dini yang Mudah Dipahami
    In Rehat
    Selasa, 12 Mei 2026
  • Salah satu jenis anggrek Merapi. Foto Dok. TNG Merapi.Anggrek Merapi, Beraroma Wangi dan Mampu Bertahan Saat Erupsi
    In Rehat
    Selasa, 12 Mei 2026
  • Ilustrasi ,krisis air bersih. Foto Andres_maura_ph/Pixabay.com.Pemerintah Harus Antisipasi Krisis Sampah dan Air Bersih Dampak Godzilla El Niño 2026
    In Lingkungan
    Senin, 11 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media