Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pasca Gempa Cianjur, Waspada Bencana Longsor dan Hindari Bangunan Retak

Selasa, 22 November 2022
A A
Kepala BMKG tengah menjelaskan potensi bencana lanjutan gempa Cianjur. Foto bmkg.go.id
Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati meminta masyarakat dan Pemerintah Cianjur mewaspadai kolateral hazard atau bahaya ikutan usai gempa guncangan gempa magnitudo 5,6 pada 21 November 2022. Bahaya ikutan yang dimaksud adalah bencana lanjutan berupa tanah longsor dan banjir bandang usai. Terutama bagi masyarakat Cianjur yang bermukim di daerah lereng perbukitan, lembah, dan bantaran sungai.

“Besar kemungkinan lereng-lereng perbukitan di Cianjur menjadi rapuh usai gempa,” kata Dwikorita.

Hujan deras dapat memicu terjadinya longsor dan banjir bandang dengan membawa material runtuhan lereng yang rapuh akibat gempa.

Baca Juga: Temui Pengungsi Gempa Cianjur, Presiden Jokowi Pastikan Beri Bantuan Perbaikan Rumah

Bahaya ikutan lainnya berupa bangunan-bangunan yang retak atau rusak akibat gempa. Dwikorita menjelaskan, bahwa korban jiwa yang banyak terjadi gempa Cianjur akibat tertimpa bangunan yang tidak mampu menahan guncangan gempa.

“Sebenarnya gempa tidak membunuh dan melukai. Bangunanlah yang membunuh dan melukai manusia,” jelas Dwikorita.

Ia meminta masyarakat untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi. Sebab bangunan-bangunan rusak itu dikhawatirkan tidak kuat menopang dan ambruk apabila sewaktu-waktu terjadi gempa susulan.

Baca Juga: Korban Tewas Dampak Gempa Cianjur Bertambah Jadi 103 Orang

“Untuk sementara, jangan memaksakan kembali ke rumah apabila bangunannya rusak atau retak-retak,” kata Dwikorita.

Kepala Pusat Studi Bencana (PSBA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Muhammad Anggri Setiawan menambahkan, bahaya ikutan lainnya adalah setiap kejadian gempa besar selalu diikuti gempa-gempa susulan dengan skala yang relatif lebih kecil.

“Walaupun lebih kecil, tetap harus waspada. Jadi perlu evakuasi warga di daerah-daerah yang berdekatan dengan tebing tinggi,” pesan Anggri, 22 November 2022.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: bangunan yang retak dan rusakBanjir BandangBMKGgempa Cianjurgempa susulanKepala BMKG Dwikorita Karnawatipenyempurnaan tata ruangPSBA UGMTanah Longsor

Editor

Next Post
Presiden Jokowi dalam rapat terbatas di lokasi pengungsian, Selas, 22 November 2022, menginstruksikan segera membuka akses daerah terisolir dampak gempa Cianjur, jika diperlukan pakai heli. Foto Laily Rachev | Biro Pers Sekretariat Presiden.

Dilapori Daerah Terisolir Dampak Gempa Cianjur, Presiden Jokowi: Pakai Heli

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media