Sabtu, 28 Maret 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Paul Ho: Dulu Lubang Hitam Hanya Bisa Didengar dan Kini Bisa Dilihat

Perkembangan teknologi astronomi memudahkan publik untuk melihat dan mempelajari benda-benda antariksa.

Minggu, 5 Februari 2023
A A
Direktur East Asian Observatory, Prof. Paul Ho. Foto gruber.yale.edu.

Direktur East Asian Observatory, Prof. Paul Ho. Foto gruber.yale.edu.

Share on FacebookShare on Twitter

Para ilmuwan juga sejak lama memprediksi wilayah yang menjadi orbit bintang tersebut sebagai lubang hitam. Pola orbit yang terbentuk memberikan bukti, bahwa Sagitarius A* adalah lubang hitam supermasif di tengah galaksi. Fenomena ini sekaligus menjadi pembenaran dari teori relativitas umum Einstein yang akhirnya terbukti setelah 100 tahun lamanya.

Baca Juga: Arif Nur Muhammad, Temukan Vaksin Covid-19 Halal Tanpa Penolakan Tubuh

“Seiring teknologi yang terus berkembang, penelitian lubang hitam mencapai suatu titik di mana manusia tidak hanya sekadar dapat mendengar atau merasakan. Namun juga bisa melihat wujud lubang hitam,” papar Ho.

Tantangan utama yang dihadapi para astronom dalam merekonstruksi gambar lubang hitam adalah jauhnya jarak bumi dengan lubang hitam itu sendiri. Dengan metode observasi konvensional, dibutuhkan sebuah teleskop seukuran bumi untuk menangkap gambar lubang hitam.

Namun para astronom mengakalinya dengan teknik Very Long Baseline Interferometry (VLBI) yang menggabungkan beberapa teleskop di berbagai belahan bumi. Teleskop-teleskop ini bekerja bersama membentuk citra lubang hitam secara utuh melalui penggabungan gelombang radio yang ditangkap oleh masing-masing teleskop.

Baca Juga: Mengenal Komet ZTF yang Melintas secara Hiperbola Sekali Seumur Hidup

“Ide utama dari VLBI adalah merekayasa teleskop seukuran bumi untuk menangkap gambar utuh layaknya rangkaian cermin. Perhitungannya harus benar-benar presisi,” jelas Ho.

Dalam kolokium tersebut, Ho mengingatkan bahwa ilmu astronomi yang berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir turut menstimulasi negara-negara Asia. Terutama yang berada di kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia untuk ikut serta dalam penelitian astronomi skala internasional. Apalagi dengan besarnya potensi sumber daya manusia dan Gross Domestic Product (GDP) yang dimiliki negara-negara ini, semakin besar pula kemungkinan untuk menjadi perintis penelitian-penelitian astronomi baru.

Ho juga mengungkapkan satu pencapaian Observatorium Bosscha yang tidak banyak diketahui. Observatorum tersebut turut berkontribusi dalam pengambilan foto event horizon black hole pada 12 Mei 2022 lalu. Bahkan observatorium yang tergabung dalam jaringan East Asian Observatories (EAO) dan ITB sebagai koordinator nasional itu ikut dalam pengumpulan citra radio event horizon. [WLC02]

Sumber: ITB

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: 100 Tahun100 Tahun Observatorium Bosschablack holegelombang gravitasiGravitational-Wave Observatoryilmuwan astronomilubang hitamObservatorium BosschaorbitProf. Paul Ho

Editor

Next Post
Patung pendiri Observatorium Bosscha, Karel Albert Rudolf Bosscha. Foto itb.ac.id.

Observatorium Bosscha Lahir di Tengah Keluarga Ilmuwan di Kebun Teh

Discussion about this post

TERKINI

  • Westa, aplikasi pengelolaan sampah berbasis AI. Foto Dok. FEB UGM.Aplikasi Westa, Identifikasi Jenis dan Berat Sampah untuk Menghitung Emisi Karbon
    In IPTEK
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Seorang mahout memandikan gajah di aliran sungai kawasan Konservasi Gajah Tangkahan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.Instruksi Presiden untuk Selamatkan 21 Kantong Gajah yang Tersisa
    In News
    Sabtu, 14 Maret 2026
  • Dua perempuan menanam padi di sawah. Foto Wanaloka.com.Terdampak Perjanjian Dagang Timbal Balik Indonesia-USA, Perempuan Adat Melawan
    In Lingkungan
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Desakan pengesahan RUU Masyarakat Adat dalam Aksi Kamisan, 5 September 2024. Foto AMAN.Hari Masyarakat Adat Nasional, Tak Ada Alasan RUU Masyarakat Adat Tak Disahkan
    In Rehat
    Jumat, 13 Maret 2026
  • Pengolahan sampah di PIAT UGM. Foto Dok. Humas UGM.Tragedi Bantargebang Akibat Pengelolaan Sampah Berorientasi pada Pembuangan
    In Lingkungan
    Kamis, 12 Maret 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media