Wanaloka.com – Teknologi DNA telah banyak digunakan secara global, terutama dalam forensik kehutanan. Secara global, sekitar 80 persen forensik kehutanan, khususnya untuk timber tracking (penelusuran kayu), telah menggunakan pendekatan DNA. Namun penerapan di Indonesia masih relatif terbatas.
Menjawab tantangan tersebut, IPB University mengambil peran strategis melalui pengembangan teknologi identifikasi kayu berbasis DNA lewat konsorsium riset Indonesian-Based Wood Identification Program. Mengingat teknologi identifikasi jenis dan asal-usul kayu berbasis DNA mampu memperkuat sistem timber tracking dan mendukung penegakan hukum kehutanan di Indonesia.
Metode DNA ini memungkinkan penelusuran kayu hingga tiga tingkat analisis. Mulai dari mengidentifikasi kayu pada level famili, genus, atau spesies, kemudian menentukan asal-usul populasi, hingga memverifikasi kecocokan antara log kayu dengan tunggak atau stump tertentu.
“Pendekatan ini memungkinkan pembuktian ilmiah apakah sebatang kayu yang ditemukan di lapangan benar-benar berasal dari lokasi atau tunggak tertentu,” kata Dosen Silvikultur IPB University dan sekaligus penelitinya, Fifi Gus Dwiyanti.
Baca juga: Tinjauan Lingkungan Hidup 2026, Tak Ada yang Aman dari Ancaman Kerusakan Lingkungan
Metode DNA yang digunakan
Metode DNA barcoding digunakan untuk identifikasi spesies. Prosesnya meliputi ekstraksi DNA, polymerase chain reaction (PCR), hingga sequencing. Hasilnya kemudian dicocokkan dengan basis data global seperti National Center for Biotechnology Information (NCBI) atau DNA Data Bank of Japan (DDBJ).
“Melalui proses ini, spesies kayu yang sebelumnya tidak diketahui dapat diidentifikasi secara akurat berdasarkan kecocokan sekuens DNA,” ulas dia.
Sementara untuk menentukan asal-usul kayu, digunakan metode genetika populasi. Tantangan utama tahap ini adalah keterbatasan basis data populasi alami setiap spesies di Indonesia.
Peneliti harus mengembangkan database dari seluruh populasi alami setiap spesies kayu, yang jumlahnya bisa mencapai ratusan spesies komersial. Data ini menjadi kunci untuk membuktikan klaim asal-usul kayu yang tercantum dalam dokumen resmi.
Baca juga: Dampak Ekspansi Agro-Ekstraktif, Sawit Tak Sejahterakan Masyarakat Adat Papua
Adapun DNA profiling atau DNA fingerprinting dipakai untuk pencocokan antara log kayu dan tunggak. Metode ini menggunakan ukuran fragmen DNA dari berbagai lokus untuk memastikan kecocokan individu kayu dengan tunggulnya. Pendekatan ini telah banyak diterapkan di negara lain dan menjadi rujukan dalam kasus forensik kehutanan.
Keberhasilan identifikasi DNA sangat bergantung pada keragaman genetik, penanda DNA yang diskriminatif, kualitas dan kuantitas DNA, serta ketersediaan database yang kuat.
IPB University bersama konsorsium terus mengembangkan database sequence, protokol ekstraksi DNA, hingga genom kloroplas berbagai spesies kayu tropis Indonesia sebagai pilar ilmiah identifikasi kayu berbasis DNA.
Peran near infrared
Sementara Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Lina Karlinasari menjelaskan identifikasi kayu terdapat dua pendekatan utama, yakni identifikasi taksonomi kayu dan identifikasi berdasarkan asal geografis.







Discussion about this post