Senin, 7 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Penurunan Muka Air Danau Toba Pasca 1984 Ekstrem, Mengapa?

Selama ini, penurunan muka air Danau Toba sering dikaitkan dengan perubahan iklim.

Rabu, 22 Juli 2026
A A
Penampakan permukaan peraran Danau Toba di Sumatra Utara. Foto Thiadon/Pixabay.com.

Penampakan permukaan peraran Danau Toba di Sumatra Utara. Foto Thiadon/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

“Perubahan tata guna lahan di kawasan tangkapan air juga berkontribusi terhadap perubahan cadangan air Danau Toba,” terang dia.

Hasil analisis citra satelit memperlihatkan selama periode 1988-2020, luas hutan alami di kawasan Danau Toba berkurang sekitar 29 persen. Sebaliknya, luas hutan tanaman cenderung meningkat signifikan. Sementara kawasan permukiman dan lahan pertanian juga terus bertambah.

“Berkurangnya tutupan hutan alami diperkirakan mengurangi kemampuan kawasan tangkapan air dalam menyerap dan menyimpan air hujan, sehingga turut memengaruhi fluktuasi muka air danau,” papar dia.

Ia menekankan perubahan muka air Danau Toba merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang saling berkaitan. Variabilitas iklim masih berperan penting, namun pengaruh aktivitas manusia terhadap dinamika danau juga semakin nyata. Oleh karena itu, upaya menjaga keberlanjutan Danau Toba tidak cukup hanya berfokus pada adaptasi terhadap perubahan iklim, tetapi juga memerlukan pengelolaan tata guna lahan dan pemanfaatan sumber daya air yang lebih bijaksana.

Ia berharap temuan ini dapat menjadi dasar ilmiah bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan pengelolaan Danau Toba. Harapannya, fungsi ekologis, ekonomi, dan sosialnya tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Kepala PRIMA BRIN, Albertus Sulaiman menjelaskan penelitian mengenai Danau Toba penting dilakukan untuk memberikan dasar ilmiah dalam memahami dinamika salah satu danau vulkanik terbesar di dunia tersebut. Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi rujukan dalam menyusun kebijakan pengelolaan kawasan yang lebih tepat dan berkelanjutan.

Mengingat selama ini, penurunan muka air Danau Toba sering dikaitkan dengan perubahan iklim. Padahal, penelitian menunjukkan persoalannya lebih kompleks karena melibatkan interaksi antara faktor iklim dan aktivitas manusia.

“Temuan ini memberikan dasar ilmiah yang penting bagi para pemangku kepentingan untuk merumuskan langkah pengelolaan Danau Toba yang lebih adaptif dan berkelanjutan,” jelas Albertus. [WLC02]

Sumber: BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Bendungan Sigura-guraDanau Tobapenurunan muka tanahperubahan iklimPRIMA BRIN

Editor

Next Post
Harimau sumatra. Foto ppid.menlhk.go.id.

Putusan Sela PN Medan Dinilai Tak Pertimbangkan Penyebab Kerusakan Habitat Hutan Sumatra dengan Perusakan Lingkungan

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media