Rabu, 28 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Pilah Sampah Kunci Pengelolaan Sampah Dua Tahun 100 Persen

Selasa, 9 Juni 2026
A A
Ilustrasi pilah sampah plastik. Foto Dok. KLH/BPLH.

Ilustrasi pilah sampah plastik. Foto Dok. KLH/BPLH.

Share on FacebookShare on Twitter

Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini harus menjadi momentum untuk beralih dari kesadaran menuju tindakan nyata.

“Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum bagi kita semua untuk merenung, menyadari kesalahan, dan bergerak memperbaiki hubungan kita dengan alam,” tegas Jumhur di hadapan 10.000 peserta acara puncak peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka Cibubur.

Kondisi lingkungan saat ini menuntut adanya pertobatan ekologis, yaitu perubahan cara pandang dan perilaku manusia terhadap alam. Menjaga lingkungan tidak cukup hanya melalui komitmen dan kepedulian, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari yang nyata dan berkelanjutan.

Tema “Saatnya Bekerja untuk Iklim” pada peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi ajakan bagi seluruh elemen bangsa untuk mengambil bagian dalam aksi iklim, mulai dari lingkungan terdekat hingga skala yang lebih luas.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy pun menegaskan, bahwa isu lingkungan hidup tidak dapat dipisahkan dari agenda pembangunan nasional.

“Urusan lingkungan hidup adalah urusan masa lalu, masa kini, dan masa depan,” ujar Pambudy.

KLH/BPLH menekankan aksi iklim tidak selalu dimulai dari langkah besar. Justru perubahan dapat dimulai dari tingkat paling dekat dengan kehidupan masyarakat. Salah satu aksi yang paling sederhana dan memiliki dampak besar adalah memilah sampah dari sumber.

Langkah ini menjadi penting karena persoalan sampah tidak hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan, tetapi juga berkontribusi terhadap perubahan iklim. Mengingat sampah organik yang menumpuk di TPA menghasilkan gas metana, yaitu gas rumah kaca yang memiliki potensi pemanasan jauh lebih besar dibandingkan karbon dioksida.

Semakin banyak sampah yang dipilah, dikurangi, digunakan kembali, didaur ulang, maupun diolah dari sumbernya, semakin kecil pula emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Pada saat sama, beban TPA dapat dikurangi dan kualitas lingkungan hidup masyarakat dapat ditingkatkan.

Melalui Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI), KLH/BPLH mengajak masyarakat menjadikan pemilahan sampah sebagai budaya baru dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan ini merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran, bahwa aksi iklim tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau investasi besar. Namun dapat dimulai dari perubahan perilaku yang dilakukan secara konsisten oleh setiap individu.

Semangat “No Generation Left Behind” menjadi bagian penting dalam upaya tersebut. Tidak boleh ada satu generasi pun yang tertinggal dalam memahami, menghadapi, dan mengambil peran dalam mengatasi krisis lingkungan. Generasi hari ini memiliki tanggung jawab untuk memastikan generasi mendatang tetap memiliki akses terhadap lingkungan yang sehat, sumber daya alam yang lestari, dan kualitas hidup yang lebih baik. [WLC02]

Sumber: KLH/BPLH

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Bank sampahGas MetanaKLH/BPLHMaterial Recovery FacilityPilah SampahWaste to Energy

Editor

Next Post
Workshop Advancing Multi-hazard Exposure Information in the Java Trench Region, Indonesia: For Enhanced Risk Assessment and Resilience di Jakarta, 8 Juni 2026. Foto Dok. BRIN.

Ancaman Gempa Megathrust, Sesar Aktif di Jawa Belum Banyak Terpetakan

Discussion about this post

TERKINI

  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media