Wanaloka.com – Permasalahan sampah plastik hingga kini masih menjadi tantangan serius. Di tengah upaya mencari solusi yang dinilai lebih murah dan praktis, sempat mencuat praktik di sejumlah industri makanan yang memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan bakar dalam proses penggorengan.
Menurut dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Benedikta Diah Saraswati, praktik tersebut berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Sebab dapat menghasilkan berbagai senyawa berbahaya yang mencemari produk pangan sekaligus lingkungan di sekitar sentra industri.
Emisi gas hasil pembakaran plastik dapat mengontaminasi produk selama proses produksi. Plastik yang dibakar secara tidak sempurna akan melepaskan senyawa beracun yang sangat stabil, terutama dioksin dan furan. Karena sifatnya lipofilik, senyawa ini mudah berikatan dengan lemak dan protein sehingga berpotensi terakumulasi dalam produk pangan.
Secara biomedis, dioksin dan furan termasuk dalam kelompok polutan organik persisten yang dapat bertahan sangat lama di dalam tubuh manusia. Paparan jangka panjang bersifat genotoksik karena mampu merusak DNA.
Baca juga: Dampak Tambang Nikel di Pulau Obi, Air Jadi Cokelat dan Nelayan Menjaring Lumpur
“Akumulasi dalam jangka waktu lama dapat memicu peradangan kronis, gangguan fungsi hati, gangguan sistem hormon, serta meningkatkan risiko kanker,” jelas Diah.
Kontaminan tersebut dapat masuk ke dalam tubuh melalui konsumsi makanan yang terpapar. Selain senyawa kimia beracun, aktivitas pembakaran plastik juga berkontribusi terhadap peningkatan paparan mikroplastik di udara, yang dapat terhirup atau mengendap pada bahan pangan. Partikel berukuran sangat kecil ini berpotensi masuk ke saluran pernapasan atau pencernaan dan menyebar ke berbagai organ tubuh.
Organ yang paling rentan terdampak adalah hati atau hepar. Hati bekerja keras untuk mendetoksifikasi racun. Namun, karena struktur kimia dioksin dan furan sangat stabil dan sulit diurai, justru terjadi beban kerja berlebih yang memicu peradangan.
Selain itu, senyawa-senyawa tersebut juga dikenal sebagai endocrine disrupting chemicals (EDC) yang dapat mengganggu sistem hormon. Zat ini mampu meniru atau menghambat kerja hormon alami tubuh, sehingga berisiko mengacaukan sistem reproduksi dan metabolisme.
Bahkan, paparan dapat menembus sawar plasenta.
Baca juga: Jeron Beteng Jadi Percontohan Kawasan Rendah Emisi Kota Yogyakarta
“Artinya, pada ibu hamil, zat ini berpotensi terakumulasi dan mengganggu perkembangan janin,” ujar dia.
Risiko kesehatan tidak hanya dialami konsumen, tetapi juga masyarakat yang tinggal di sekitar sentra industri. Asap pembakaran plastik mengandung partikel halus PM2,5 serta mikroplastik di udara yang dapat terhirup hingga ke paru-paru.
“Partikel ini sulit diurai oleh sistem pertahanan tubuh dan dapat memicu peradangan secara terus-menerus,” jelas dia.
Dalam jangka pendek, paparan tersebut dapat menyebabkan gangguan pernapasan seperti batuk dan infeksi saluran pernapasan akut. Jika berlangsung dalam waktu lama, maka kondisi ini berpotensi berkembang menjadi penyakit paru kronis seperti asma dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta menurunkan daya tahan tubuh, terutama pada anak-anak dan lansia.
Diah menegaskan langkah paling penting untuk menekan risiko kesehatan adalah menghentikan penggunaan limbah plastik sebagai bahan bakar. Selama sumber polusi masih ada, risiko kesehatan akan terus berulang.
Baca juga: Istilah “Awan Kontainer”, Ada Kekeliruan Memahami Proses Pembentukan Hujan
Sebagai langkah perlindungan mandiri, ia menyarankan masyarakat menggunakan masker respirator seperti N95 saat terpapar asap, menjaga ventilasi rumah, menghindari penggunaan plastik untuk makanan panas. Serta memperbanyak konsumsi buah dan sayur yang kaya antioksidan seperti vitamin E, vitamin C, dan selenium.
“Asupan ini dapat membantu tubuh melawan kerusakan sel akibat radikal bebas dari kontaminan plastik, meskipun tidak sepenuhnya menghilangkan risiko,” kata dia.







Discussion about this post