Tanggal 11-20 Maret dan 21–30 Maret 2026, cuaca relatif serupa, didominasi hujan ringan hingga sedang.
“Prakiraan akan terus diperbarui berdasarkan analisis dan data terkini,” kata Faisal.
Pada Maret 2026, potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (CB) perlu diwaspadai di kawasan Sumatera Barat, Samudra Hindia, Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, Papua hingga Pasifik Utara. Dampak yang dapat ditimbulkan antara lain turbulensi dan petir pada rute penerbangan, serta hujan lebat, badai guntur, wind gust, dan wind shear di area bandara (aerodrome).
Ia juga mengingatkan potensi banjir rob pada Maret 2026 akibat kombinasi fase Bulan Baru pada 19 Maret 2026 dan fase Perigee pada 22 Maret 2026 yang dapat meningkatkan ketinggian pasang air laut. Wilayah pesisir Indonesia diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi genangan.
Baca juga: Ikan Dewa Mati Massal di Kuningan, Apa Penyebabnya?
Untuk mendukung kelancaran Angkutan Lebaran 2026, BMKG menyediakan berbagai platform informasi cuaca untuk sektor transportasi, antara lain: Digital Weather for Traffic (DWT), System of Interactive Aviation Meteorology (Ina-SIAM), Indonesia Weather Information for Shipping (InaWIS), Website dan aplikasi InfoBMKG, Media sosial resmi BMKG, Dynamic Message Sign (DMS) di jalan tol, SMS Blast dan display cuaca outdoor.
BMKG juga menyampaikan informasi cuaca ekstrem melalui grup WhatsApp kepada stakeholder serta menerbitkan press release kepada kepala daerah dan pemangku kepentingan.
Pada tingkat pusat, Posko BMKG berada di Kantor Pusat BMKG dan bergabung di Posko Kementerian Perhubungan. Di tingkat daerah, terdapat 38 UPT BMKG di setiap provinsi serta posko gabungan di 13 pelabuhan dan 96 bandara.
BMKG juga melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) secara situasional dan berbasis kebutuhan untuk mendukung mitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya dalam menekan intensitas hujan di wilayah berisiko. [WLC02]
Sumber: BMKG







Discussion about this post