Sabtu, 30 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Potensi Lumut Kerak untuk Bumbu Masakan hingga Antbiotik

Lumut ini telah lama digunakan dalam masakan tradisional, tetapi ketersediaannya semakin terbatas.

Sabtu, 5 April 2025
A A
Lumut kerak. Foto BRIN.

Lumut kerak. Foto BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Indonesia memiliki kekayaan hayati yang belum sepenuhnya terungkap, baik dari segi jumlah jenis maupun potensinya. Banyak sumber daya hayati telah dimanfaatkan secara tradisional maupun melalui penelitian, tetapi masih memerlukan data yang lebih lengkap untuk pengembangannya ke tingkat industri.

Salah satu yang menarik perhatian adalah Usnea spp (lumut kerak) kaya metabolit sekunder dengan berbagai potensi pemanfaatan.

Pemilihan bahan baku dalam masakan daerah dipengaruhi oleh ekologi, ketersediaan sumber daya, dan tradisi budaya. Salah satu contohnya adalah Sayur Babanci, kuliner tradisional khas Betawi yang semakin langka akibat sulitnya memperoleh bahan baku bumbu seperti Usnea spp, rempah yang dikenal dengan berbagai nama seperti ‘tai angin’ atau ‘janggot kai’, ‘kayu angin’. Lumut ini telah lama digunakan dalam masakan tradisional, tetapi ketersediaannya semakin terbatas.

Baca juga: Mengamati Ratusan Trinil Semak Bersiap Mudik dari Tulungagung ke Eropa

Kuliner tradisional khas Betawi merupakan cerminan kekayaan budaya dan identitas rasa yang melekat dalam kehidupan suatu komunitas. Hidangan kuliner sayur babanci dikenal dengan perpaduan rasa dan rempah yang kompleks, mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat betawi. Namun keberadaan kuliner tradisional kini mulai tergerus oleh modernisasi dan perubahan gaya hidup masyarakat.

Ada sekitar 512 jenis Usnea spp, terutama di Pulau Jawa. Selain sebagai bumbu, lumut ini juga berpotensi sebagai pewarna alami, antibiotik, hingga obat herbal. Sayangnya, penelitian mengenai pemanfaatannya dalam kuliner masih sangat terbatas. Perlu eksplorasi lebih lanjut diperlukan untuk menggali potensi Usnea spp, baik dalam pengembangan makanan fungsional maupun sebagai bahan baku obat tradisional.

Riset berbasis kearifan lokal

Untuk mendukung riset ini, Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) BRIN bekerja sama dengan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia (UKI) melalui penelitian bertajuk “Pengungkapan dan Pemanfaatan Keanekaragaman Rempah (Usnea spp) Berbasis Masyarakat Lokal Suku Betawi”. Kerja sama hingga Maret 2028 ini ditandai dengan penandatanganan perjanjian secara virtual pada 26 Maret 2025.

Baca juga: Kisah Petani Kopi Cibulao, Dari Penjarah hingga Penjaga Hutan

Kerja sama ini bertujuan membangun jejaring riset antara BRIN dan UKI untuk mengungkap keanekaragaman Usnea spp sebagai bahan pangan, obat, dan kosmetika tradisional. Penelitian ini juga akan mengidentifikasi jenis-jenis potensial, menganalisis morfologi, serta memahami ekologi dan populasi Usnea spp di Jawa. Guna mendukung pelestarian bahan pangan berbasis kearifan lokal dan membuka peluang eksplorasi lebih lanjut.

Ketua Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Kristen Indonesia (UKI), Sunarto menekankan pentingnya melakukan riset mengenai lingkungan dan biodiversitas berbasis kearifan lokal.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRINbumbu masakankuliner Betawilumut keraksumber daya hayati

Editor

Next Post
Kuku Seloputro, jjenis burung hantu di Cagar Alam Manggis Gadungan. Foto Dok. BBKSDA Jatim.

Kukuk Seloputo, Hantu di Cagar Alam Manggis Gadungan

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media