Kamis, 22 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Proyek PSEL Yogyakarta Ditunda, Mengapa Konsorsium Pemenang Tender Sudah Diumumkan?

Selasa, 21 Juli 2026
A A
Dampak diberlakukannya penutupan TPA Piyungan mulai 23 Juli hingga 5 September, sejumlah tumpukan sampah mulai terlihat di Kota Yogyakarta. Foto Forpi Kota Yogyakarta.

Dampak diberlakukannya penutupan TPA Piyungan mulai 23 Juli hingga 5 September, sejumlah tumpukan sampah mulai terlihat di Kota Yogyakarta. Foto Forpi Kota Yogyakarta.

Share on FacebookShare on Twitter

Walhi Yogyakarta menilai penundaan ini bukan sekadar hambatan administratif, melainkan indikasi bahwa skala proyek (1.000 ton/hari) dipaksakan mengikuti kebutuhan minimum kelayakan investasi konsorsium, bukan disesuaikan dengan volume sampah riil di lapangan.

“Skema ini justru menunjukkan bahwa WtE tidak dirancang untuk mengurangi produksi sampah. Melainkan berpotensi menimbulkan semakin masifnya produksi sampah,” papar Elki.

Sementara insinerasi dirancang untuk sampah kering bernilai kalor tinggi. Rata-rata 39,6–55 persen sampah domestik di Indonesia adalah sampah organik basah bernilai kalor rendah, sedangkan di Yogyakarta mencapai 45–50 persen dari total volume sampah di daerah itu.

“Karakter sampah ini menurunkan efisiensi pembakaran dan meningkatkan risiko residu berbahaya,” imbuh dia.

Ia mencontohkan, pengujian terhadap residu FABA (fly ash dan bottom ash) di PLTSa Bantargebang menemukan kandungan dioksin, furan, dan logam berat yang melebihi baku mutu. Preseden yang relevan mengingat sampah dengan karakter serupa akan diolah di Yogyakarta. Berpotensi mempunyai dampak yang sama.

Tuntutan Walhi Yogyakarta

Sehubungan dengan penundaan dan penunjukan konsorsium ini, Walhi Yogyakarta mendesak Denera, Cakra Energi Lestari Consortium, dan Pemerintah Daerah Yogyakarta untuk:

Satu, Membuka secara terbuka skema perhitungan kebutuhan 1.000 ton/hari dan konsekuensi finansial bagi Pemda DIY apabila kuota tidak terpenuhi, termasuk isi draf MoU yang saat ini belum dipublikasikan.

Dua, Mempublikasikan dokumen studi kelayakan dan AMDAL sejak tahap paling awal, sebelum proyek berlanjut ke kontrak final.

Tiga, Menjelaskan secara rinci teknologi, ambang emisi, dan mekanisme pengawasan independen yang akan diterapkan sebagai bukti konkret dari klaim “standar Eropa”.

Empat, Mendesak Tianjin TEDA Environmental Protection Co., Ltd. dan CITICC International Investment Limited mempublikasikan profil korporat, rekam jejak proyek, kapasitas finansial, serta hasil audit lingkungan independen dari operasi mereka di negara lain, sebagai syarat kelayakan sebelum kontrak final diteken.

Lima, Melibatkan masyarakat terdampak, pemerintah kabupaten/kota, dan pemulung/pengepul di kawasan Yogyakarta Raya sejak tahap perencanaan, bukan sebagai formalitas pasca-keputusan.

Walhi Yogyakarta menegaskan krisis sampah tidak dapat diselesaikan dengan memaksakan skala proyek yang tidak sesuai kapasitas riil daerah, apalagi dengan konsorsium yang sebagian anggotanya belum memiliki rekam jejak yang dapat diverifikasi publik. Pendekatan berbasis pengurangan dari sumber, pemilahan, dan mengoptimalkan dukungan kepada komunitas yang mempunyai inisiatif untuk mengelola sampah. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Kota YogyakartaPemda DIYPLTsaPSELWalhi Yogyakarta

Editor

Next Post
Penampakan permukaan peraran Danau Toba di Sumatra Utara. Foto Thiadon/Pixabay.com.

Penurunan Muka Air Danau Toba Pasca 1984 Ekstrem, Mengapa?

Discussion about this post

TERKINI

  • Aktivis Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Monumen Selamat Datang, Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Foto Greenpeace Indonesia.Dua Tahun Rezim Prabowo, Aktivis Greenpeace Bentangkan Spanduk ‘Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah’
    In News
    Selasa, 20 Oktober 2026
  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
  • Gedung KPK | kpk.go.id.OTT KPK di BNPB, Kepala BNPB Langsung Diganti
    In News
    Kamis, 15 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media