Minggu, 18 Januari 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Putu Santikayasa, Regulasi Ketat Modifikasi Cuaca Cegah Dampak Buruk Lingkungan

Perak iodida dalam cloud seeding berpotensi menghambat pertumbuhan organisme akuatik dan mengganggu siklus nutrisi di ekosistem air tawar.

Jumat, 11 April 2025
A A
Pakar klimatologi terapan IPB University, I Putu Santikayasa. Foto Dok. IPB University.

Pakar klimatologi terapan IPB University, I Putu Santikayasa. Foto Dok. IPB University.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Ancaman bencana masih membayangi berbagai daerah di Indonesia. Di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, teknologi modifikasi cuaca (TMC) hadir sebagai harapan baru dalam mitigasi bencana.

TMC semakin berkembang menjadi solusi untuk mengendalikan intensitas hujan, baik untuk meredam potensi bencana maupun mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air.

Namun Sekretaris Pusat Pengelolaan Peluang dan Risiko Iklim Kawasan Asia Tenggara dan Pasifik (CCROM-SEAP) IPB University, Dr I Putu Santikayasa mengingatkan, meski modifikasi cuaca tidak berdampak permanen, dampak jangka panjang pada lingkungan tetap perlu diperhatikan. Terutama apabila dilakukan secara rutin di lokasi yang sama. Untuk memastikan implementasi yang bertanggung jawab, diperlukan pemantauan dan penelitian berkelanjutan.

Baca juga: Gempa Bogor M4,1 Dipicu Sesar Citarik yang Pernah Aktif Sejak 1968

“Regulasi ketat harus diterapkan agar teknologi ini tidak menimbulkan dampak negatif yang tidak diinginkan. Pendekatan berbasis data dengan bantuan teknologi serta analisis yang tepat dapat meminimalkan risiko dari TMC. Jadi masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara maksimal tanpa merugikan lingkungan,” ucap Putu.

Lantas apakah dampak buruk TMC bagi lingkungan?

Putu menjelaskan bahwa TMC merupakan teknik yang digunakan untuk mengubah atau memodifikasi kondisi cuaca tanpa mengubah iklim secara permanen.

Baca juga: Tyto alba, Predator Alami Penyeimbang Ekosistem yang Tak Dilindungi

“Teknik modifikasi cuaca hanya berdampak sesaat karena yang dimodifikasi adalah cuaca, bukan iklim,” kata dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University ini.

Salah satu metode yang paling umum digunakan dalam TMC adalah penyemaian awan (cloud seeding). Teknik ini memanfaatkan garam untuk mempercepat proses kondensasi dalam awan agar hujan turun lebih cepat.

Manfaat percepatan hujan ini bervariasi tergantung kondisi. Saat musim kemarau, cloud seeding dapat membantu sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air dengan menyediakan curah hujan tambahan.

Baca juga: Anggota Komisi IV DPR Usul Pusat Dapat 50 Persen Pendapatan TWA Pulau Weh

Sebaliknya, saat musim penghujan, teknik ini bisa digunakan untuk mengalihkan hujan dari daerah rawan banjir ke lokasi lain yang lebih aman.

Putu kembali mengingatkan, bahwa modifikasi cuaca tetap harus mempertimbangkan kondisi stabilitas dan status uap air di atmosfer. Selain itu, penggunaan bahan tertentu seperti perak iodida (AgI) dalam cloud seeding masih menuai pro dan kontra terkait dampak lingkungan.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: cloud breakingcloud seedingDepartemen Geofisika dan Meteorologi IPB UniversityI Putu SantikayasaTeknologi Modifikasi Cuaca

Editor

Next Post
Bibit siklon 96S berpotensi menguat di Laut Timor. Foto Dok. BMKG.

Bibit Siklon Tropis di Laut Timor Menguat, Waspada Gelombang Tinggi 4 Meter

Discussion about this post

TERKINI

  • Sinkhole di lahan warga di Dusun Kandri, Desa Pucung, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Foto desapucung.gunungkidulkab.go.id.Rekayasa Geoteknik Cegah Sinkhole yang Sering Terjadi di Kawasan Karst
    In IPTEK
    Sabtu, 17 Januari 2026
  • Ilustrasi interaksi kucing dengan manusia. Foto vaclavzavada/pixabay.com.Kucing Tak Akibatkan Infertilitas Manusia, Justru Makanan Jadi Sumber Utama
    In Rehat
    Sabtu, 17 Januari 2026
  • Tim medis melakukan nekropsi pada gajah sumatera betina yang ditemukan mati di Dusun Aras Napal, Besitang, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Foto ksdea.menlhk.go.idIndonesia Peringkat Kedua Rawan Bencana, Kehilangan Biodiversitas Tertinggi di Sumatra
    In Lingkungan
    Jumat, 16 Januari 2026
  • Peta area tambang PT Agincourt, WKP Sibual Buali, PLTA Batang Toru. Foto JATAM.KLH Gugat Enam Perusahaan Perusak Lingkungan di Sumatra Utara Rp4,84 Triliun
    In News
    Jumat, 16 Januari 2026
  • WHO Goodwill Ambassador for Leprosy Elimination, Yohei Sasakawa dan Menkes Budi Gunadi Sadikin berkunjung ke Sampang, Madura dalam program eliminasi kusta, 8 Juli 2025. Foto Dok. Kemenkes.Jangan Takut Periksa Kusta, Sepekan Usai Diobati Tak Menular Lagi
    In Rehat
    Kamis, 15 Januari 2026
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media