Ali juga menekankan pendekatan ekoteologi bukan sekadar wacana normatif, melainkan fondasi moral dalam mitigasi dan pemulihan bencana.
“Ekoteologi bukan sekadar wacana normatif, tetapi fondasi moral dalam mitigasi dan pemulihan bencana,” tegas dia.
Trauma pascabencana bersifat multidimensi, baik fisik, psikologis, dan ekologis, sehingga pemulihan harus menyentuh seluruh dimensi tersebut secara bersamaan. Dengan demikian, ketahanan sosial dan spiritual masyarakat dapat dibangun secara berkelanjutan.
Baca juga: Bioplastik Berbahan Pati Singkong dan Gelatin Cangkang Telur Ayam Kampung
Ia juga mengingatkan pemulihan pascabencana harus bersifat holistik. Trauma, bukan hanya luka fisik dan psikis manusia, tetapi juga luka pada ekosistem.
“Restorasi lingkungan, penguatan praktik keagamaan yang membangun harapan, serta pendekatan berbasis komunitas menjadi bagian penting dari proses penyembuhan bersama,” jelas dia.
Pengetahuan lokal dan memori kolektif mempunyai kekuatan dalam menghadapi bencana. Tradisi lisan, ritual, simbol budaya, serta sistem tanda alam sering kali lebih efektif menggerakkan respons cepat dibandingkan sistem formal yang kaku. Ketika kearifan lokal diintegrasikan dengan teknologi modern, sistem peringatan dini menjadi lebih relevan secara sosial dan lebih diterima masyarakat.
Pengetahuan lokal berbasis citizen science
Konsep citizen science membuka ruang baru dalam demokratisasi pengetahuan. Warga tidak lagi diposisikan sebagai objek kebijakan. Melainkan sebagai subjek pengamat lingkungan, pengumpul data, sekaligus aktor utama dalam sistem mitigasi risiko.
Efektivitas mitigasi bencana akan tercapai ketika pengetahuan mampu berubah menjadi perilaku yang konsisten. Dengan memadukan ekologi, pengetahuan lokal, riset ilmiah, serta partisipasi warga, manusia tidak hanya membangun ketahanan fisik. Namun juga memperkuat ketahanan sosial dan spiritual masyarakat dalam menghadapi tantangan di masa depan.
Baca juga: Coronavirus Anjing Sulit Menular pada Manusia
Dalam banyak komunitas, keputusan saat darurat tidak semata-mata dipengaruhi informasi teknis. Melainkan dipengaruhi bahasa, memori kolektif, dan otoritas lokal yang telah dipercaya secara turun-temurun. Namun, informasi kebencanaan sering kali berhenti sebatas pengetahuan, belum bertransformasi menjadi perilaku yang konsisten.
Padahal mitigasi bencana akan efektif ketika pengetahuan, baik ilmiah maupun lokal berubah menjadi tindakan kolektif yang dipatuhi. Di sinilah pentingnya mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan riset ilmiah melalui pendekatan citizen science yang menempatkan masyarakat bukan hanya sebagai objek kebijakan.
“Tetapi sebagai subjek dan aktor utama dalam kesiapsiagaan bencana,” kata Peneliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PRMLTL) Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR ARBASTRA) BRIN, Fakhriati.
Pengetahuan lokal yang hidup dalam manuskrip kuno, tradisi lisan, pepatah, ritual komunitas, hingga tanda-tanda alam menyimpan potensi besar sebagai fondasi mitigasi bencana yang efektif. Salah satu contohnya adalah manuskrip takwil gempa yang mencatat makna bencana berdasarkan waktu dan bulan terjadinya.
“Naskah-naskah ini menunjukkan bagaimana leluhur Nusantara membaca pola bencana dari pengalaman yang berulang,” jelas dia.
Baca juga: Demi Palestina, Jatam Desak Pemerintah Cabut Izin Perusahaan Geothermal Afiliasi Israel di Halmahera
Begitupun tafsir gempa yang terjadi pada waktu tertentu, seperti Subuh atau Asar yang dimaknai sebagai pertanda perubahan sosial atau perpindahan alam. Dalam konteks kekinian, penafsiran tersebut dapat dipahami sebagai indikasi ketidakstabilan sosial atau fenomena seperti likuifaksi. Meski bukan prediksi ilmiah, pengetahuan semacam ini berfungsi sebagai perangkat kewaspadaan dan disiplin kolektif.
Selain manuskrip, tradisi lokal seperti smong di Simeulue menunjukkan bagaimana memori kolektif mampu menyelamatkan banyak nyawa saat tsunami. Tradisi penolak bala dan ritual komunitas juga berperan dalam membangun solidaritas dan kepedulian lingkungan sebagai pilar resiliensi sosial.
Dalam penelitiannya, Fakhriati juga mengangkat contoh Majelis Bersila di komunitas Betawi Jakarta, yang membangun kesiapsiagaan bencana melalui jejaring majelis taklim. Hubungan guru – murid dan interaksi antarmajelis membentuk sistem solidaritas yang memperkuat ketangguhan komunitas.
Untuk menjembatani pengetahuan lokal dengan generasi masa kini, tim peneliti BRIN mengembangkan platform digital dan animasi berbasis pengetahuan lokal di sejumlah wilayah seperti Sumatra Barat, Yogyakarta, dan Palu. Upaya ini bertujuan agar pengetahuan tradisional tetap hidup, dipahami, dan dipraktikkan dalam konteks modern.
Namun pengetahuan lokal perlu divalidasi lintas sumber dan diselaraskan dengan data ilmiah agar dapat diintegrasikan dalam sistem mitigasi modern. Integrasi ini memungkinkan pengetahuan lokal tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi instrumen praktis pengurangan risiko bencana.
Baca juga: Tak Ada Fase Aman Melihat Gerhana Matahari Cincin Tanpa Penapis
“Manuskrip dan tradisi Nusantara bukan hanya warisan budaya, tetapi juga instrumen praktis mitigasi bencana,” tegas dia.
Integrasi pengetahuan lokal dengan teknologi dan sains modern menjadi kunci untuk membangun sistem kesiapsiagaan yang relevan secara sosial dan efektif di lapangan.
Bagi Ali Yansyah Abdurrahim, kekuatan pengetahuan lokal sering kali lebih efektif dalam menggerakkan respons cepat masyarakat dibandingkan bahasa teknis semata.
“Tradisi lisan, ritual, simbol budaya, serta sistem tanda alam sering kali lebih efektif menggerakkan respons cepat dibandingkan bahasa teknis ilmiah,” ujar dia.
Pendekatan citizen science membuka ruang demokratisasi pengetahuan. Warga tidak lagi diposisikan sebagai objek kebijakan, tetapi sebagai subjek, baik pengamat lingkungan, pengumpul data, sekaligus aktor utama dalam sistem mitigasi risiko.
Efektivitas mitigasi bencana hanya dapat tercapai ketika pengetahuan berubah menjadi perilaku yang konsisten. Integrasi antara pengetahuan lokal, sains modern, nilai spiritual, dan partisipasi warga menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan sosial dan ekologis masyarakat di masa depan. [WLC02]
Sumber: BRIN







Discussion about this post