Senin, 29 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Satwa Liar Masuk Permukiman, Sinyal Keseimbangan Alam Hutan yang Terganggu

Fragmentasi hutan merupakan akar permasalahan meningkatnya konflik manusia dengan satwa liar. Fragmentasi terjadi ketika hutan besar terpecah-pecah menjadi potongan kecil yang terisolasi dengan jalan, ladang, atau permukiman.

Rabu, 22 Oktober 2025
A A
Penampakan harimau di kawasan Kantor BRIN di Sumtra Barat. Foto Dok. BRIN Sumbar.

Penampakan harimau di kawasan Kantor BRIN di Sumtra Barat. Foto Dok. BRIN Sumbar.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Seekor macan tutul Jawa masuk ke sebuah kawasan hotel di Bandung dan harimau Sumatra terlihat di kawasan Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Agam, Sumatra Barat. Video dan foto-foto kedua satwa liar ini dengan cepat viral di media sosial. Di balik kehebohan itu, ada pesan ekologis penting tentang kondisi hutan Indonesia yang kian terfragmentasi.

“Apa yang tampak aneh itu sebenarnya tanda bahaya adanya keseimbangan alam yang terganggu,” tegas Peneliti Ahli Utama Bidang Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi BRIN, Prof. Hendra Gunawan dalam wawancara di KST Soekarno, Cibinong-Bogor, Selasa, 21 Oktober 2025.

Menurut Hendra, kejadian seperti ini tidak bisa disebut kebetulan. Harimau dan macan tutul sejatinya adalah satwa penghuni inti hutan (core habitat species), dimana mereka hidup tersembunyi, jauh dari manusia.

“Kalau mereka sekarang muncul di kebun, jalan raya, bahkan hotel, itu bukan perilaku alami. Itu tanda mereka terpaksa keluar dari hutan untuk bertahan hidup,” tutur Hendra.

Baca juga: DIY Siapkan Tiga TPST untuk Kelola Sampah Menjadi Energi Listrik

Penyebabnya berlapis. Pertama, kerusakan habitat akibat pembukaan lahan, pembangunan jalan, dan permukiman membuat ruang hidup mereka semakin sempit. Kedua, mereka sering kali mengejar mangsa seperti babi hutan atau monyet ekor panjang yang memang hidup di tepi hutan (habitat edge).

Ketiga, ada kemungkinan satwa tersesat atau mengalami disorientasi spasial atau kehilangan orientasi karena terjebak di lingkungan yang tidak dikenalnya.

“Bagi macan tutul, hutan dengan pepohonan adalah referensi visualnya. Begitu ia masuk ke bangunan beton tanpa vegetasi, ia kehilangan arah dan bisa panik. Inilah yang terjadi ketika macan masuk hotel atau kantor,” papar dia.

Akar masalah fragmentasi hutan

Fragmentasi hutan merupakan akar permasalahan meningkatnya konflik manusia dengan satwa liar. Fragmentasi terjadi ketika hutan besar terpecah-pecah menjadi potongan kecil yang terisolasi dengan jalan, ladang, atau permukiman.

Baca juga: Air Hujan antara Ancaman Mikroplastik dan Solusi Krisis Air Masa Depan

“Fragmentasi lebih berbahaya daripada sekadar pengurangan luas hutan,” tegas dia.

Ia tidak hanya mengurangi luas, tapi juga memutus konektivitas antarhabitat, menghilangkan area inti (core habitat), dan memperpanjang tepian hutan (edge) yang memungkinkan satwa liar menjadi semakin sering berinteraksi dengan manusia.

Dampaknya serius. Predator puncak seperti harimau Sumatra dan macan tutul Jawa membutuhkan wilayah jelajah luas untuk bertahan hidup. Saat ruangnya terpotong, mereka berebut teritori.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRIN Sumatra Baratfragmentasi hutanHarimau Sumatrakeseimbangan alamkonflik manusia dengan satwa liarmacan tutul Jawa

Editor

Next Post
Ilustrasi biwak yang diperjualbelikan di Indonesia. Foto tomas_a_r_81/pixabay.com.

Perdagangan Biawak Diperbolehkan, Tapi Jangan Merusak Ekosistem

Discussion about this post

TERKINI

  • Penggusuran PT BSMJ di wilayah adat Muara Tae, Kabupaten Kutai Barat untuk sawit. Foto Dok. Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Ekspansi Sawit di Wilayah Adat Muara Tae Dihentikan
    In News
    Sabtu, 27 Juni 2026
  • Bentang alam Masyarakat Adat Kasepuhan Pasir Eurih di Kecamatan Sobang, Kabupaten Lebak, Banten. Komunitas ini mempertahankan sistem zonasi tradisional sebagai dasar pengelolaan wilayah adat yang diwariskan. Foto Dok. WGII.Paradoks Penetapan Taman Nasional, Pengetahuan Hidup Masyarakat Adat Terancam Punah
    In Lingkungan
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media