Rabu, 14 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Satwa Liar Masuk Permukiman, Sinyal Keseimbangan Alam Hutan yang Terganggu

Fragmentasi hutan merupakan akar permasalahan meningkatnya konflik manusia dengan satwa liar. Fragmentasi terjadi ketika hutan besar terpecah-pecah menjadi potongan kecil yang terisolasi dengan jalan, ladang, atau permukiman.

Rabu, 22 Oktober 2025
A A
Penampakan harimau di kawasan Kantor BRIN di Sumtra Barat. Foto Dok. BRIN Sumbar.

Penampakan harimau di kawasan Kantor BRIN di Sumtra Barat. Foto Dok. BRIN Sumbar.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Seekor macan tutul Jawa masuk ke sebuah kawasan hotel di Bandung dan harimau Sumatra terlihat di kawasan Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Agam, Sumatra Barat. Video dan foto-foto kedua satwa liar ini dengan cepat viral di media sosial. Di balik kehebohan itu, ada pesan ekologis penting tentang kondisi hutan Indonesia yang kian terfragmentasi.

“Apa yang tampak aneh itu sebenarnya tanda bahaya adanya keseimbangan alam yang terganggu,” tegas Peneliti Ahli Utama Bidang Konservasi Keanekaragaman Hayati Pusat Riset Ekologi BRIN, Prof. Hendra Gunawan dalam wawancara di KST Soekarno, Cibinong-Bogor, Selasa, 21 Oktober 2025.

Menurut Hendra, kejadian seperti ini tidak bisa disebut kebetulan. Harimau dan macan tutul sejatinya adalah satwa penghuni inti hutan (core habitat species), dimana mereka hidup tersembunyi, jauh dari manusia.

“Kalau mereka sekarang muncul di kebun, jalan raya, bahkan hotel, itu bukan perilaku alami. Itu tanda mereka terpaksa keluar dari hutan untuk bertahan hidup,” tutur Hendra.

Baca juga: DIY Siapkan Tiga TPST untuk Kelola Sampah Menjadi Energi Listrik

Penyebabnya berlapis. Pertama, kerusakan habitat akibat pembukaan lahan, pembangunan jalan, dan permukiman membuat ruang hidup mereka semakin sempit. Kedua, mereka sering kali mengejar mangsa seperti babi hutan atau monyet ekor panjang yang memang hidup di tepi hutan (habitat edge).

Ketiga, ada kemungkinan satwa tersesat atau mengalami disorientasi spasial atau kehilangan orientasi karena terjebak di lingkungan yang tidak dikenalnya.

“Bagi macan tutul, hutan dengan pepohonan adalah referensi visualnya. Begitu ia masuk ke bangunan beton tanpa vegetasi, ia kehilangan arah dan bisa panik. Inilah yang terjadi ketika macan masuk hotel atau kantor,” papar dia.

Akar masalah fragmentasi hutan

Fragmentasi hutan merupakan akar permasalahan meningkatnya konflik manusia dengan satwa liar. Fragmentasi terjadi ketika hutan besar terpecah-pecah menjadi potongan kecil yang terisolasi dengan jalan, ladang, atau permukiman.

Baca juga: Air Hujan antara Ancaman Mikroplastik dan Solusi Krisis Air Masa Depan

“Fragmentasi lebih berbahaya daripada sekadar pengurangan luas hutan,” tegas dia.

Ia tidak hanya mengurangi luas, tapi juga memutus konektivitas antarhabitat, menghilangkan area inti (core habitat), dan memperpanjang tepian hutan (edge) yang memungkinkan satwa liar menjadi semakin sering berinteraksi dengan manusia.

Dampaknya serius. Predator puncak seperti harimau Sumatra dan macan tutul Jawa membutuhkan wilayah jelajah luas untuk bertahan hidup. Saat ruangnya terpotong, mereka berebut teritori.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRIN Sumatra Baratfragmentasi hutanHarimau Sumatrakeseimbangan alamkonflik manusia dengan satwa liarmacan tutul Jawa

Editor

Next Post
Ilustrasi biwak yang diperjualbelikan di Indonesia. Foto tomas_a_r_81/pixabay.com.

Perdagangan Biawak Diperbolehkan, Tapi Jangan Merusak Ekosistem

Discussion about this post

TERKINI

  • Bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, yang terjadi pada Jumat, 9 Oktober 2026. Foto BPBD Kabupaten Gayo Lues.Bencana Banjir dan Longsor Landa Aceh dan Sumatra Barat Ratusan Penduduk Mengungsi
    In Bencana
    Senin, 12 Oktober 2026
  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
  • Pusat gempa dangkal 5,4 magnitudo di Pantai Timur Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan pada Kamis malam, 1 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Gempa Dangkal di Laut Flores Kepulauan Selayar Dirasakan IV MMI
    In News
    Kamis, 1 Oktober 2026
  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media