Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Si-AZA, Deteksi Alkohol dan Zat Adiktif pada Pangan secara Langsung

Ke depan, teknologi ini akan dikembangkan untuk mendeteksi gas-gas berbahaya penyebab keracunan makanan, terutama untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Rabu, 15 Oktober 2025
A A
Si-Aza, alat deteksi alkohol dan zat adiktif pada pangan secara real-time. Foto Dok. BRIN.

Si-Aza, alat deteksi alkohol dan zat adiktif pada pangan secara real-time. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca juga: Yang Bertahan dan Hilang dari Kemandirian Pangan Lokal di Gunungkidul

Salah satu nilai tambah Si-AZA adalah integrasi data. Hasil pengujian bisa langsung dikirim ke server web melalui koneksi Wi-Fi atau hotspot dan diakses pihak berwenang secara real-time.

“Kami mendesain sistem ini agar mendukung pengawasan pangan yang terintegrasi secara nasional,” ujar Novita.

Deteksi gas berbahaya MBG

Meski masih tahap prototipe fungsional, alat ini sudah mengantongi nomor pendaftaran paten dari Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual. BRIN kini tengah menyiapkan proses komersialisasi dan standardisasi bersama mitra industri.

Sementara tantangan pengembangan alat ini pun tidak sedikit. Salah satunya menjaga kestabilan sensor dalam berbagai kondisi lingkungan.

“Namun, berkat kolaborasi lintas bidang di tim, hambatan-hambatan itu bisa diatasi,” klaim dia.

Baca juga: 192 Kali Gempa Landa Sumenep dan Pulau Sapudi Jawa Timur

BRIN juga membuka peluang kerja sama dengan industri alat kesehatan, lembaga pengawas pangan, maupun pemerintah daerah untuk mendukung pemanfaatan luas Si-AZA di seluruh Indonesia. Ke depan, BRIN berencana untuk mengembangkan Si-AZA sebagai alat sensor multimoda yang tidak hanya untuk mendeteksi zat aditif berbahaya pada bahan pangan. Melainkan juga gas-gas berbahaya penyebab keracunan makanan, terutama untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Kami sedang menyiapkan versi yang bisa mendeteksi gas yang dihasilkan bakteri pada makanan, seperti VOC, NH₃, H₂S, dan CO₂. Jadi Si-AZA bisa menjadi alat analisis awal untuk menentukan apakah makanan layak dikonsumsi atau tidak,” jelas dia.

Dengan inovasi berkelanjutan, BRIN berharap Si-AZA menjadi solusi nyata meningkatkan keamanan pangan di Indonesia. Masyarakat bisa merasa lebih aman. Sementara, petugas punya alat bantu modern yang praktis untuk melindungi konsumen dari bahaya zat aditif dan kontaminan berbahaya. [WLC02]

Sumber: BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: alkohol dan zat adiktifBRINprogram MBGSi-AZA

Editor

Next Post
Ilustrasi lahan sawah yang tidak dijual. Foto Soetana Hasby/Wanaloka.com.

Hari Pangan Sedunia, Pakar IPB Sebut Lahan Sawah Indonesia Hanya 7,3 Juta Hektare

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media