Bagaimana dengan Indonesia?
Meski terjadi di Eropa, fenomena tersebut memiliki hubungan dengan sistem iklim global melalui mekanisme telekoneksi, yaitu keterkaitan antarkawasan yang dipengaruhi oleh sirkulasi atmosfer berskala besar.
Menurut dia, ada kaitannya walaupun tidak secara langsung, misalnya melalui telekoneksi antara Madden-Julian Oscillation (MJO) dengan sirkulasi atmosfer di wilayah ekstratropis.
Ia mengungkapkan, Indonesia juga berpotensi mengalami peningkatan kejadian suhu panas pada masa mendatang. Namun, karakteristiknya berbeda dengan gelombang panas di Eropa. Di Indonesia, suhu panas ekstrem lebih banyak dipicu perubahan penggunaan lahan dan efek urban heat island yang umum terjadi di kawasan perkotaan.
“Indonesia berpeluang mengalami peningkatan suhu ekstrem, tetapi tidak seperti di Eropa. Faktor yang lebih dominan adalah perubahan fungsi lahan sehingga wilayah yang paling rentan adalah kota-kota besar,” kata dia.
Sebagai langkah adaptasi, ia mendorong pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat upaya penghijauan melalui reboisasi, penanaman pohon, serta pengendalian alih fungsi lahan. Menurut dia, langkah tersebut penting untuk mengurangi peningkatan suhu permukaan sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan terhadap dampak perubahan iklim.
Walaupun Indonesia tidak mengalami gelombang panas seperti di Eropa, adaptasi tetap perlu dilakukan melalui reboisasi, penanaman pohon, dan pengaturan alih fungsi lahan agar dampak peningkatan suhu dapat diminimalkan. [WLC02]
Sumber: IPB University







Discussion about this post