Minggu, 8 November 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Sonni Setiawan, Potensi Gelombang Panas di Indonesia Tak Seekstrem di Eropa

Di Indonesia, suhu panas ekstrem lebih banyak dipicu perubahan penggunaan lahan dan efek urban heat island yang umum terjadi di kawasan perkotaan.

Kamis, 2 Juli 2026
A A
Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB University, Sonni Setiawan. Foto Dok. FMIPA IPB University.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi FMIPA IPB University, Sonni Setiawan. Foto Dok. FMIPA IPB University.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa dalam beberapa waktu terakhir menjadi perhatian dunia. Suhu yang menembus rekor di berbagai wilayah memunculkan pertanyaan mengenai penyebab fenomena tersebut serta sejauh mana kaitannya dengan perubahan iklim global.

Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Sonni Setiawan menjelaskan gelombang panas di Eropa tidak disebabkan satu faktor saja.

“Fenomena ini merupakan hasil interaksi antara pemanasan daratan yang luas pada musim panas dengan perambatan gelombang Rossby di atmosfer lintang menengah, di mana Eropa berada pada zona wilayah ini,” jelas dia.

Ia menerangkan, gelombang Rossby merupakan gangguan atmosfer berskala besar yang memengaruhi pola tekanan udara, angin, dan suhu di wilayah lintang menengah. Gelombang ini memiliki panjang sekitar 4.000 hingga 6.000 kilometer dan terbentuk ketika angin baratan melintasi pegunungan besar, seperti Pegunungan Rocky di Amerika Utara dan Pegunungan Andes di Amerika Selatan.

Saat musim panas di belahan bumi utara, posisi matahari menyebabkan daratan mengalami pemanasan maksimum. Sebab daratan memiliki kapasitas menyimpan panas yang lebih rendah dibandingkan lautan, suhu udara di atasnya meningkat lebih cepat. Pemanasan berskala benua tersebut kemudian memperkuat gangguan suhu yang dibawa gelombang Rossby hingga memicu terjadinya gelombang panas.

Kondisi tersebut semakin diperparah pelemahan aktivitas gelombang Rossby pada musim panas. Pergerakan gelombang yang lebih lambat membuat massa udara panas bertahan lebih lama di suatu wilayah. Situasi ini diperkuat fenomena Omega Block, yakni pola tekanan tinggi yang menjebak udara panas sehingga suhu ekstrem dapat berlangsung selama beberapa hari bahkan lebih lama.

“Pada musim panas, gelombang Rossby bergerak lebih lambat sehingga medan suhu tinggi bertahan lebih lama pada satu wilayah. Ditambah adanya fenomena Omega Block, udara panas menjadi terperangkap sehingga gelombang panas berlangsung lebih lama,” jelas dia.

Menanggapi anggapan peningkatan frekuensi gelombang panas merupakan bukti langsung perubahan iklim, ia menilai hal tersebut perlu dikaji secara ilmiah dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer alami.

“Dinamika atmosfer alami tetap harus menjadi bagian penting dalam analisis sebelum menyimpulkan pengaruh perubahan iklim terhadap suatu kejadian panas ekstrem,” kata dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: FMIPA IPB Universitygelombang panasGelombang RossbySonni Setiawansuhu panas

Editor

Next Post
Kawanan gajah yang melintas. Foto Martinfuchs/Pixabay.com.

Kawanan Gajah Liar Mengamuk, Ini yang Boleh dan Tak Boleh Dilakukan Manusia

Discussion about this post

TERKINI

  • Kaoem Telapak desak pemerintah usut tuntas dugaan pembalakan liar dan pencucian kayu Merbau di Nabire, Papua Tengah. Foto Kaoem Telapak.Kaoem Telapak Desak Pemerintah Usut Tuntas Dugaan Pembalakan di Nabire
    In News
    Rabu, 4 November 2026
  • Media alternatif, Gejayan.id menggelar walking tour bertema “Tribute to Udin” #1 ke bekas Kantor Harian Bernas, Kota Yogyakarta. Foto Istimewa.Gejayan Civic Memory Lab: Napak Tilas Jurnalistik Udin di ‘Kantor Bernas’
    In News
    Senin, 2 November 2026
  • Episenter gempa 6,4 magnitudo di Laut Banda, Maluku, pada Kamis, 29 Oktober 2026. Foto tangkap layar BMKG.Laut Banda Maluku Digoyang Gempa Menengah 6,4 Magnitudo
    In News
    Kamis, 29 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Karhutla 2026, HRWG Tuntut Pemerintah Transparan Soal Data Lahan Terbakar dan Mengusut Pihak Bertanggungjawab
    In Lingkungan
    Senin, 26 Oktober 2026
  • Pertemuan 20 organisasi masyarakat sipil kawasan Asia Pasifik dalam Asia Pacific System Change Convergence 2026 di Yogyakarta, pada 17-21 Oktober 2026. Foto Istimewa.Organisasi Masyarakat Sipil Asia Pasifik Serukan Perubahan Sistem Mengakhiri Krisis Ekologis dan Ketidakadilan Global 
    In News
    Sabtu, 24 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media