Selasa, 21 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Kawanan Gajah Liar Mengamuk, Ini yang Boleh dan Tak Boleh Dilakukan Manusia

Masyarakat diminta untuk tidak panik dan melakukan hal-hal yang dapat memprovokasi kawanan gajah yang dapat memicu respons predator dari gajah.

Jumat, 3 Juli 2026
A A
Kawanan gajah yang melintas. Foto Martinfuchs/Pixabay.com.

Kawanan gajah yang melintas. Foto Martinfuchs/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Seorang petani di Lampung dilaporkan tewas setelah diduga diserang kawanan gajah liar saat berada di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS), Kabupaten Lampung Barat. Gubuk yang ditempati dalam kondisi rusak dan berantakan akibat amukan kawanan gajah. Menurut petugas TNBBS, pihaknya telah berulang kali menyosialisasikan larangan mendirikan pondok di kawasan tersebut karena merupakan jalur lintasan gajah yang kerap dilalui satwa liar tersebut.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Prof. Wisnu Nurcahyo menjelaskan terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan peningkatan konflik antara manusia dan gajah di alam liar. Faktor pertama, semakin menyusut dan terfragmentasinya habitat alami gajah akibat aktivitas manusia, seperti alih fungsi hutan, pembukaan perkebunan kelapa sawit, hingga deforestasi. Kondisi tersebut memaksa kawanan gajah keluar dari habitatnya untuk mencari sumber pakan dan air yang mencukupi.

“Kawanan gajah biasanya mendekati atau menyerang area manusia terutama karena menyusutnya atau terfragmentasinya habitat alami mereka. Mereka terpaksa mencari sumber pakan dan air di wilayah yang kini dihuni manusia. Perilaku ini sebenarnya respons alami gajah untuk bertahan hidup, bukan sekadar agresi,” papar Wisnu, Jumat, 3 Juli 2026.

Gajah sangat menyukai tanaman pertanian yang dibudidayakan masyarakat, seperti kelapa sawit, padi, dan pisang. Tanaman-tanaman tersebut dinilai mampu memenuhi kebutuhan nutrisi gajah secara lebih mudah dibandingkan sumber pakan yang semakin terbatas di habitat alaminya.

Selain keterbatasan sumber pakan, setiap kawanan gajah juga memiliki jalur migrasi tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Ketika jalur tersebut terhalang pembangunan jalan, permukiman, atau bangunan lain, gajah tetap akan berusaha melintasinya karena merupakan bagian dari perilaku alaminya.

“Gajah sudah memiliki rute jelajah sendiri yang turun-temurun dikenalkan kawanan sebelumnya. Jika jalur tradisional mereka terblokir oleh jalan atau bangunan, maka mereka akan menerobos wilayah tersebut karena insting alaminya,” ujar Wisnu.

Meski demikian, perilaku agresif gajah umumnya bukan terjadi tanpa sebab. Serangan terhadap manusia biasanya merupakan respons defensif ketika gajah merasa terancam, baik untuk melindungi dirinya maupun anak-anaknya. Upaya pengusiran yang dilakukan dengan cara tidak tepat, seperti menggunakan kekerasan, menimbulkan suara bising, atau melemparkan benda, dapat memicu kepanikan dan meningkatkan risiko serangan dari kawanan gajah.

Keberadaan pondok maupun aktivitas masyarakat yang menginap di dalam kawasan hutan juga meningkatkan risiko terjadinya konflik. Saat kawanan gajah melintas untuk mencari makan atau mengikuti jalur jelajah alaminya, bangunan yang berada di lintasan tersebut dapat dirobohkan dan membahayakan orang yang berada di dalamnya.

Atas dasar itu, penting penegakan aturan yang melarang pembukaan lahan, aktivitas berkebun, maupun pembangunan pondok di zona inti dan kawasan hutan konservasi. Upaya tersebut menjadi langkah penting untuk menjaga habitat alami gajah sekaligus mengurangi risiko konflik antara manusia dan satwa liar.

Alarm krisis ekologis

Lebih lanjut, Wisnu turut menyoroti keberadaan penyerangan gajah mengindikasikan adanya krisis ekologis. Melalui penyusutan lahan, deforestasi, dan fragmentasi habitat gajah yang tentunya mengancam kelestarian populasi satwa. Dengan begitu, kualitas habitatnya pun menurun dan berakibat pada meningkatnya frekuensi keluar masuknya gajah dari kawasan hutan. Timbul konflik di antara gajah dan lingkungannya, dalam konteks ini manusia, karena ruang bergeraknya yang semakin menyempit.

“Adanya ruang gerak yang menyempit dapat meningkatkan konflik yang tinggi,” imbuh dia.

Langkah aman untuk menghadapi kawanan gajah liar adalah dengan menjaga jarak minimal 50 meter, mencari tempat berlindung di balik pohon besar, dan bergerak melawan arah angin agar aroma manusia tidak terdeteksi. Masyarakat diminta untuk tidak panik dan melakukan hal-hal yang dapat memprovokasi kawanan gajah yang dapat memicu respons predator dari gajah.

“Namun hal-hal yang terpenting adalah tetap tenang dan tidak panik karena gajah memiliki pendengaran dan penciuman yang tajam, kepanikan atau teriakan justru dapat memicu respons defensif mereka,” tutur dia.

Melalui perspektif kesehatan satwa dan konservasi, dampak yang diciptakan konflik ini tidak hanya menurunkan kesejahteraan satwa melalui cedera atau stres kronis, tetapi juga mengancam kelestarian populasi gajah. Saat stres kronis, kekebalan tubuh gajah dapat menurun dan tingkat reproduksi gajah juga ikut menyusut.

Teknologi mitigasi konflik

Sistem pemantauan dan mitigasi konflik manusia dan gajah sebenarnya telah dilakukan melalui beberapa usaha, seperti pelacakan pergerakan melalui GPS, pembentukan unit respons lokal, dan zonasi habitat. Namun implementasinya masih bersifat reaktif sehingga perlu pencegaan optimal melalui pendekatan yang lebih kuat terhadap perilaku hewan dan manajamen lanskap.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Balai Taman Nasional Way KambasFakultas Kedokteran Hewan UGMgajah liarGajah SumateraKementerian Kehutanankonflik gajah dan manusiaTaman Nasional Bukit Barisan Selatan

Editor

Next Post
Menteri KLH/BPLH Moh umhur Hidayat dan Pangeran Charles dalam JCLAW 2026 di London. Foto Dok. KLH/BPLH.

Kritik Diplomasi Iklim Indonesia, Pidato di Panggung Global Tak Sesuai Realita Dalam Negeri

Discussion about this post

TERKINI

  • Dampak diberlakukannya penutupan TPA Piyungan mulai 23 Juli hingga 5 September, sejumlah tumpukan sampah mulai terlihat di Kota Yogyakarta. Foto Forpi Kota Yogyakarta.Proyek PSEL Yogyakarta Ditunda, Mengapa Konsorsium Pemenang Tender Sudah Diumumkan?
    In News
    Selasa, 21 Juli 2026
  • Ilustrasi regenerasi pohon. Foto Agnieszka/Pixabay.com.Mekanisme Regenerasi Pohon dan Nilai Spiritual Ekologis dalam Al-Qur’an
    In IPTEK
    Senin, 20 Juli 2026
  • Kebakaran di TPA Benowo di Surabaya, 19 Juli 2026. Foto Dok. DKPKP Surabaya.TPA Benowo Terbakar, Risiko Sistem Pemrosesan Sampah Open Dumping
    In Bencana
    Senin, 20 Juli 2026
  • Mengenal orangutan tapanuli. Foto Dok PPID Kemenlhk.Survei Terbaru Populasi Orangutan Sumatera dan Tapanuli Jadi Pijakan Kebijakan Konservasi
    In News
    Sabtu, 18 Juli 2026
  • Tanah longsor di Desa Petir, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Mei 2026. Foto BPBDKabupaten Bogor.Pulau Jawa Hadapi Tekanan Ekologis, Negara Harus Hentikan Perampasan Ruang Hidup
    In News
    Kamis, 16 Juli 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media