Sementara Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, memastikan BMKG akan menurunkan tim ahli untuk melakukan pemetaan makroseismik (sebaran kerusakan) dan mikroseismik (gempa susulan).
“Seluruh UPT BMKG di daerah telah berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk survei gempa bumi merusak dan monitoring dampak dari gempa tersebut,” terang Ayu.
Pascaperistiwa ini, Faisal mengimbau masyarakat tetap tenang dan terus waspada dengan melakukan langkah antisipasi, mitigasi, serta perlindungan diri terhadap gempa bumi dan tsunami demi mewujudkan nol korban (zero victim).
Faisal memastikan BMKG bersiaga selama 24 jam dan terus memperkuat pemantauan dengan memasang ribuan sensor di seluruh Indonesia agar informasi peringatan dini dapat tersampaikan secepat mungkin kepada masyarakat.
“Kami mengajak masyarakat menerapkan struktur tahan gempa. Masyarakat dapat berdiskusi dan konsultasi dengan para ahli, perguruan tinggi setempat, dan kantor BMKG yang tesebar di 191 lokasi di Indonesia,” tutur Faisal.
Kerusakan bangunan di Sulawesi
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus memantau dan melakukan penanganan pascagempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara tersebut. Guncangan gempa dirasakan di sejumlah wilayah di Sulawesi Utara, termasuk Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud, Kota Manado, dan Kabupaten Minahasa Utara.
Berdasarkan pembaruan informasi, Senin, 8 Juni 2026 pukul 12.30 WIB, BPBD setempat melaporkan ada 27 kepala keluarga (KK) terdampak yang terdiri dari 20 KK di Kabupaten Kepulauan Sangihe dan 7 KK di Kabupaten Kepulauan Talaud.
Selain itu, tercatat kerusakan pada 27 unit rumah di dua wilayah tersebut. Juga kerusakan pada 2 unit gereja, 1 unit sekolah, 1 unit rumah dinas guru, dan 1 unit gedung GMIM 76 di Kabupaten Minahasa Utara. Seluruh data tersebut masih bersifat sementara dan akan terus diperbarui seiring proses asesmen di lapangan.
“Warga yang rumahnya terdampak kerusakan diharapkan tetap berhati-hati dan melaporkan kondisi bangunan yang berpotensi membahayakan kepada aparat setempat,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari.
Dampak guncangan gempa dirasakan di beberapa kecamatan, yaitu di Kabupaten Kepulauan Sangihe meliputi Kecamatan Marore, Tabukan Tengah, Tabukan Selatan, Tabukan Selatan Tengah, Tahuna, dan Tahuna Barat. Di Kabupaten Kepulauan Talaud, guncangan dirasakan di Kecamatan Rainis, sementara di Kabupaten Minahasa Utara dirasakan di Kecamatan Likupang Barat. Di Kota Manado, gempa dirasakan dengan intensitas sedang selama beberapa detik.
Pada saat kejadian, masyarakat di Kabupaten Kepulauan Sangihe merasakan guncangan cukup kuat selama sekitar 3–4 detik yang sempat menimbulkan kepanikan. Sementara itu, di wilayah lainnya seperti Talaud, Manado, dan Minahasa Utara, guncangan dirasakan lemah hingga sedang dengan durasi sekitar 2–4 detik. BPBD di masing-masing wilayah segera melakukan pemantauan, pengumpulan data, serta asesmen cepat untuk memastikan dampak yang ditimbulkan. [WLC02]






Discussion about this post