Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Temuan Tim Badan Geologi: Patahan Aktif Cipeles Penyebab Gempa Sumedang

Patahan atau sesar banyak bersebaran di daerah Sumedang. Bahkan ada patahan yang baru dipetakan dan termasuk aktif.

Jumat, 5 Januari 2024
A A
Sebaran patahan dan kelurusan di Sumedang. Foto esdm.go.id.

Sebaran patahan dan kelurusan di Sumedang. Foto esdm.go.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Perkiraan sebelumnya dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menyatakan penyebab gempa di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada 31 Desember 2023 akibat sesar aktif Cileunyi – Tanjungsari terpatahkan temuan terbaru dari Tim Tanggap Darurat Badan Geologi. Tim ini menemukan segmen patahan atau sesar baru, yaitu Patahan Cipeles yang berlokasi di Sungai Cipeles dengan arah segmen patahan dari Barat Daya – Timur Laut relatif ke arah Utara (NNE – SSW).

“Patahan Cipeles ini diduga menjadi penyebab gempa bumi yang berpusat di daerah Babakanhurip, Sumedang Utara,” kata Penyelidik Bumi Ahli Muda Pusat Survei Geologi (PSG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Sukahar Eka Adi Saputra dalam acara Geoseminar Mengupas Gempa Sumedang di Bandung, Jumat, 5 Januari 2024.

Eka menjelaskan, tim turun ke lapangan beberapa jam setelah gempa Sumedang untuk mengambil data kerusakan dan fenomena geologi. Tim melakukan peninjauan dampak kerusakan, kemudian mencari bukti-bukti kerusakan, seperti retakan-retakan tanah.

Baca Juga: Djati Mardiatno: Paham Risiko Bencana Permudah Lindungi Diri, Keluarga dan Komunitas

“Yang esensial, bagaimana gempa itu terjadi dan apa penyebabnya,” imbuh Eka.

Berdasarkan temuan yang didapat, rentetan gempa berlangsung selama tiga kali. Pertama, sekitar pukul 14.00 WIB. Kedua, pada pukul 16.00 WIB. Ketiga, pukul 20:00 WIB dan gempa paling besar dengan M 4,8.

Temuan Patahan Cipeles itu masih terus diperbaharui. Sebab tim masih berada di lapangan untuk melakukan penelitian lebih lanjut keberadaan lurusan dari patahan Cipeles itu.

Anggota tim, Joko Wahyudiono menambahkan, Patahan Cipeles yang baru saja ditemukan di lapangan adalah benar-benar sesar aktif yang muncul di permukaan tanah yang memotong rumah dan merobohkan rumah di lokasi gempa.

Baca Juga: Gerakan Mahasiswa UGM Tanam Pohon dari Gunung hingga Pesisir

“Jadi memang tidak terbantahkan sesar Cipeles ini sebuah sesar aktif,” ujar Joko.

Pantauan Cekungan Bandung
Pemantauan gempa bumi di sekitar Cekungan Bandung, termasuk wilayah Sumedang telah lama dilakukan oleh Pusat Survei Geologi (PSG) Badan Geologi. Jaringan seismometer ini diinstall pada tahun 1999 di empat lokasi, yakni di daerah Lembang, Padalarang, Ciparay dan Soreang.

Hasil pemantauan gempa bumi mikro memberikan gambaran adanya pusat-pusat gempa berasosiasi dengan beberapa kelurusan di sekitar Cekungan Bandung, salah satunya kelurusan Cileunyi -Tanjungsari. Kelurusan ini teridentifikasi dari citra landsat berarah relatif timur laut-barat daya dari sebelah barat kota Sumedang hingga sekitar Cileunyi. Hasil pemantauan gempa bumi mikro pada rentang waktu 1999 hingga 2008 terdapat dua event yang berada pada lajur kelurusan ini.

Baca Juga: Mengapa Tim Seismologi ITB Pasang 22 Seismograf Pascagempa Sumedang?

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: cekungan Bandunggempa SumedangKementerian ESDMpatana Cipelessesar Cileunyi-TanjungsariTim Tanggap Darurat Badan Geolog

Editor

Next Post
Pendaki Khansa Syahlaa mempersiapkan pendakian Gunung Aconcagua. Foto kemenparekraf.go.id.

Khansa akan Mendaki Gunung Aconcagua dalam Ekspedisi Seven Summit

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media