Selasa, 12 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Temuan Tim Badan Geologi: Patahan Aktif Cipeles Penyebab Gempa Sumedang

Patahan atau sesar banyak bersebaran di daerah Sumedang. Bahkan ada patahan yang baru dipetakan dan termasuk aktif.

Jumat, 5 Januari 2024
A A
Sebaran patahan dan kelurusan di Sumedang. Foto esdm.go.id.

Sebaran patahan dan kelurusan di Sumedang. Foto esdm.go.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Perkiraan sebelumnya dari Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang menyatakan penyebab gempa di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat pada 31 Desember 2023 akibat sesar aktif Cileunyi – Tanjungsari terpatahkan temuan terbaru dari Tim Tanggap Darurat Badan Geologi. Tim ini menemukan segmen patahan atau sesar baru, yaitu Patahan Cipeles yang berlokasi di Sungai Cipeles dengan arah segmen patahan dari Barat Daya – Timur Laut relatif ke arah Utara (NNE – SSW).

“Patahan Cipeles ini diduga menjadi penyebab gempa bumi yang berpusat di daerah Babakanhurip, Sumedang Utara,” kata Penyelidik Bumi Ahli Muda Pusat Survei Geologi (PSG) Badan Geologi Kementerian ESDM, Sukahar Eka Adi Saputra dalam acara Geoseminar Mengupas Gempa Sumedang di Bandung, Jumat, 5 Januari 2024.

Eka menjelaskan, tim turun ke lapangan beberapa jam setelah gempa Sumedang untuk mengambil data kerusakan dan fenomena geologi. Tim melakukan peninjauan dampak kerusakan, kemudian mencari bukti-bukti kerusakan, seperti retakan-retakan tanah.

Baca Juga: Djati Mardiatno: Paham Risiko Bencana Permudah Lindungi Diri, Keluarga dan Komunitas

“Yang esensial, bagaimana gempa itu terjadi dan apa penyebabnya,” imbuh Eka.

Berdasarkan temuan yang didapat, rentetan gempa berlangsung selama tiga kali. Pertama, sekitar pukul 14.00 WIB. Kedua, pada pukul 16.00 WIB. Ketiga, pukul 20:00 WIB dan gempa paling besar dengan M 4,8.

Temuan Patahan Cipeles itu masih terus diperbaharui. Sebab tim masih berada di lapangan untuk melakukan penelitian lebih lanjut keberadaan lurusan dari patahan Cipeles itu.

Anggota tim, Joko Wahyudiono menambahkan, Patahan Cipeles yang baru saja ditemukan di lapangan adalah benar-benar sesar aktif yang muncul di permukaan tanah yang memotong rumah dan merobohkan rumah di lokasi gempa.

Baca Juga: Gerakan Mahasiswa UGM Tanam Pohon dari Gunung hingga Pesisir

“Jadi memang tidak terbantahkan sesar Cipeles ini sebuah sesar aktif,” ujar Joko.

Pantauan Cekungan Bandung
Pemantauan gempa bumi di sekitar Cekungan Bandung, termasuk wilayah Sumedang telah lama dilakukan oleh Pusat Survei Geologi (PSG) Badan Geologi. Jaringan seismometer ini diinstall pada tahun 1999 di empat lokasi, yakni di daerah Lembang, Padalarang, Ciparay dan Soreang.

Hasil pemantauan gempa bumi mikro memberikan gambaran adanya pusat-pusat gempa berasosiasi dengan beberapa kelurusan di sekitar Cekungan Bandung, salah satunya kelurusan Cileunyi -Tanjungsari. Kelurusan ini teridentifikasi dari citra landsat berarah relatif timur laut-barat daya dari sebelah barat kota Sumedang hingga sekitar Cileunyi. Hasil pemantauan gempa bumi mikro pada rentang waktu 1999 hingga 2008 terdapat dua event yang berada pada lajur kelurusan ini.

Baca Juga: Mengapa Tim Seismologi ITB Pasang 22 Seismograf Pascagempa Sumedang?

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: cekungan Bandunggempa SumedangKementerian ESDMpatana Cipelessesar Cileunyi-TanjungsariTim Tanggap Darurat Badan Geolog

Editor

Next Post
Pendaki Khansa Syahlaa mempersiapkan pendakian Gunung Aconcagua. Foto kemenparekraf.go.id.

Khansa akan Mendaki Gunung Aconcagua dalam Ekspedisi Seven Summit

Discussion about this post

TERKINI

  • Ilustrasi ,krisis air bersih. Foto Andres_maura_ph/Pixabay.com.Pemerintah Harus Antisipasi Krisis Sampah dan Air Bersih Dampak Godzilla El Niño 2026
    In Lingkungan
    Senin, 11 Mei 2026
  • Ilustrasi tikus pembawa virus. Foto Sipa/Pixabay.com.Mengenal Virus Hanta Tipe HFRS di Indonesia dan Tipe HPS di Kapal Pesiar
    In Rehat
    Senin, 11 Mei 2026
  • Tim SAR gabungan membawa kantong jenazah korban erupsi gunung api Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, 10 Mei 2026. Foto Basarnas.Pendakian Gunung Dukono Ditutup April 2026, Tiga Pendaki Tewas Mei 2026
    In Traveling
    Minggu, 10 Mei 2026
  • Suasana salah satu tempat pembuangan sampah sementara di Kota Yogyakarta. Foto Dok. Forpi Kota YogyakartaKritik Walhi Yogyakarta, PSEL Menyeret Daerah Tergantung pada Pasokan Sampah
    In Lingkungan
    Sabtu, 9 Mei 2026
  • Official trailer film Pesta Babi. Foto Indonesia Baru/YouTube.SIEJ: Larangan Nobar Pesta Babi Sensor Pengungkapan Peminggiran Hak Masyarakat Adat
    In News
    Sabtu, 9 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media