Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tiga Spesies Baru Homalomena Ditemukan di Jambi, Sumatra Utara dan Riau

Homalomena sudah banyak dijual bebas di media sosial, tetapi tanpa nama ilmiah yang sah.

Minggu, 3 Agustus 2025
A A
Homalomena renda berasal dari kawasan Tiang Pumpung, Kabupaten Merangin, Jambi. Foto Dok. ITB.

Homalomena renda berasal dari kawasan Tiang Pumpung, Kabupaten Merangin, Jambi. Foto Dok. ITB.

Share on FacebookShare on Twitter

Penemuan dua spesies Homalomena ini menjadi pengingat bahwa kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia masih sangat luas dan banyak yang belum terungkap. Dengan pendekatan riset kolaboratif dan berkelanjutan, para ilmuwan berharap bisa terus mengungkap dan menjaga kekayaan alam Nusantara untuk generasi mendatang.

Baca juga: Peran Kebun Raya Mangrove Surabaya dari Konservasi hingga Ketahanan Pangan

Homalomena chikmawatiae di Riau

Sementara tim peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi (PRBE) BRIN bersama mitra taksonom berhasil mengidentifikasi satu spesies baru tumbuhan dari famili Araceae (aroid) yang ditemukan di Provinsi Riau. Spesies ini diberi nama Homalomena chikmawatiae sebagai bentuk penghargaan kepada Prof. Tatik Chikmawati dari IPB University atas dedikasinya dalam pengembangan ilmu biosistematika tumbuhan di Indonesia.

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN, Muhammad R. Hariri mengatakan, Homalomena chikmawatiae secara morfologi menyerupai genus Furtadoa. Ciri khas daun memerisai dan bagian steril cukup besar pada spadix.

Penelitian filogenetik berbasis sekuen ITS menunjukkan genus Furtadoa bersifat polifiletik dan seluruh spesiesnya kini direklasifikasikan ke dalam genus Homalomena. Temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan taksonomi integratif dalam memahami kompleksitas evolusi famili Araceae Malesia.

Baca juga: Forest Bathing, Terapi Redakan Stres Ringan hingga Sedang

“Penelitian kami menunjukkan keragaman morfologi dalam Homalomena, khususnya kelompok dengan spadix bertipe Furtadoa, jauh lebih kompleks dari yang selama ini diperkirakan,” ujar Hariri.

Ia menambahkan temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan taksonomi integratif dalam memahami kompleksitas evolusi famili Araceae di kawasan Malesia. Tindak lanjutnya, dua spesies sebelumnya dalam genus Furtadoa kini resmi diklasifikasikan ulang: Furtadoa indrae menjadi Homalomena indrae dan Furtadoa sumatrensis menjadi Homalomena sumatrensis. Studi ini juga menyusun kunci identifikasi terbaru untuk kelompok Homalomena bertipe spadix Furtadoa di wilayah Malesia.

Spesies baru Homalomena chikmawatiae dideskripsikan berdasarkan sejumlah ciri khas, antara lain daun berbentuk perisai (peltate), spadix dengan bagian steril (appendix) yang menonjol, serta bunga jantan yang hanya memiliki satu benang sari (monandrus).

Baca juga: Menjaga Mangrove Lewat Stop Buang Sampah, Terbitkan Regulasi dan Gandeng Kampus

Awalnya, tanaman ini ditemukan masyarakat lokal di Riau, kemudian dibudidayakan di Bogor. Tim BRIN selanjutnya melakukan pengamatan morfologi dan analisis molekuler terhadap spesimen tersebut.

“Tanaman ini memiliki kombinasi ciri yang tidak biasa dalam kelompoknya, terutama daun peltate dan appendix steril besar. Ini memperkaya pemahaman kita tentang variasi morfologi dan hubungan evolusi dalam Homalomena,” papar dia.

Secara filogenetik, H. chikmawatiae ditempatkan dalam Cyrtocladon Supergroup, meskipun beberapa cirinya menyimpang dari karakter umum kelompok tersebut. Ini menegaskan pentingnya pendekatan taksonomi integratif dalam memahami kompleksitas evolusi tumbuhan aroid di kawasan Malesia.

Baca juga: Wilayah Tektonik Kamchatka Mirip Pantai Barat Sumatra, Pantai Selatan Jawa dan Utara Halmahera

Saat ini, H. chikmawatiae hanya diketahui dari satu populasi, sehingga direkomendasikan berstatus Data Deficient (DD) berdasarkan pedoman IUCN. Selain mendeskripsikan spesies baru, studi ini juga menyusun kunci identifikasi terbaru untuk kelompok Homalomena dengan spadix bertipe Furtadoa di wilayah Malesia.

Hasil penelitian ini juga telah dipublikasikan dalam jurnal internasional Webbia. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi data morfologi dan molekuler dalam studi taksonomi tumbuhan, serta perlunya revisi sistematika agar mencerminkan hubungan evolusioner yang lebih akurat. Temuan ini tidak hanya memperkuat koleksi ilmiah nasional, tetapi juga membuka peluang baru bagi konservasi dan pengembangan riset biosistematika di Indonesia. [WLC02]

Sumber: BRIN, ITB

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BRINHomalomenaHomalomena rendaHomalomena siaisensisJambiSITH-ITBspesies baruSumatra Utara

Editor

Next Post
Ilustrasi kepiting. Foto Dok. DKKP Buleleng.

Ada 500 Resep Pangan Biru Warisan Leluhur Atasi Krisis Global

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media