Sabtu, 17 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Tradisi Brandu Diduga Memicu Penularan Wabah Antraks di Gunungkidul

Hasil riset, warga umumnya mengira kematian sapi-sapi itu disebabkan keracunan daun singkong muda. Padahal karena antraks.

Jumat, 2 Agustus 2024
A A
Ilustrasi daging sapi potong. Foto Dok. Ditjen PKH Kementan.

Ilustrasi daging sapi potong. Foto Dok. Ditjen PKH Kementan.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga: 13 Geosite di Kebumen Diajukan KNIU Menjadi Geopark Global UNESCO

Brandu Ditukar dengan Jimpitan

Jika dilihat melalui aspek sosio-kulturalnya, Allama menjelaskan, tradisi brandu dilakukan atas dasar gotong royong. Sifat kolektif masyarakat Padukuhan Jati yang masih sangat kuat ditunjukkan dari perilaku masyarakat yang saling membantu apabila ada warga yang mendapat musibah, seperti kematian sapi miliknya.

Sementara beternak sapi di salah satu padukuhan di Semanu, Gunungkidul dianggap sebagai tabungan yang dapat digunakan apabila ada kebutuhan yang besar seperti pendidikan anak. Tak heran, sektor peternakan memiliki peran vital bagi pengembangan ekonomi terutama untuk meningkatkan kesejahteraan peternak  di pedesaan.

Tradisi brandu bagi masyarakat di padukuhan tersebut merupakan sebuah ‘tata cara dusun’ atau norma sosial yang berlaku ketika terdapat warga yang kehilangan hewan ternaknya.

Baca Juga: Sensor Sap Flow Deteksi Daya Hidup Pohon secara Remote dan Real Time

“Norma tersebut yang menjadikan seluruh warga padukuhan tersebut wajib berpartisipasi dalam kegiatan brandu, tanpa terkecuali. Norma tersebut menimbulkan rasa pakewuh atau sungkan apabila tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan brandu,” terang Pamula.

Tradisi brandu dinilainya dapat membawa kebermanfaatan baik bagi masyarakat yang kehilangan hewan ternak maupun masyarakat yang membantu. Kebermanfaatan tersebut muncul dari sifat tradisi brandu yang resiprokal. Sifat resiprokal tersebut terwujud adanya harapan masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan brandu akan turut dibantu pula apabila suatu saat juga mengalami kehilangan hewan ternak.

Tim mahasiswa merekomendasikan agar warga yang masih ingin melanjutkan tradisi brandu tanpa menghilangkan tujuan untuk membantu sesama, sebaiknya menguburkan sapi yang telah mati dan memberikan jimpitan atau iuran yang diberikan setiap minggunya.

“Konsepnya juga sama, bertujuan untuk meringankan beban ekonomi bagi mereka yang kehilangan ternaknya,” kata dia. [WLC02]

Sumber: UGM

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: beternak sapiKabupaten GunungkidulTradisi BranduUniversitas Gadjah Madawabah antraks

Editor

Next Post
Gambar rancangan proyek Embung Gumelem di Magelang. Foto Dok. PUPR.

Riset BRIN, Embung Jadi Solusi Atasi Defisit Air di Pulau Bintan

Discussion about this post

TERKINI

  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
  • Gedung KPK | kpk.go.id.OTT KPK di BNPB, Kepala BNPB Langsung Diganti
    In News
    Kamis, 15 Oktober 2026
  • Dampak karhutla, wilayah Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, diselimuti kabut asap pada Kamis, 8 Oktober 2026. Foto BNPB.Respons Protes Negara Jiran Dampak Karhutla, Prabowo Perintahkan Penanganan Optimal
    In Bencana
    Selasa, 13 Oktober 2026
  • Bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, yang terjadi pada Jumat, 9 Oktober 2026. Foto BPBD Kabupaten Gayo Lues.Bencana Banjir dan Longsor Landa Aceh dan Sumatra Barat Ratusan Penduduk Mengungsi
    In Bencana
    Senin, 12 Oktober 2026
  • Aksi Hari Tani Nasional 2025 mengusung desakan reforma agraria, 24 September 2025. Foto KPA.Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Agraria Kritik Penunjukan Kepala BRAN
    In News
    Jumat, 2 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media