Eko menjelaskan, penelitian ini berangkat dari kebutuhan untuk memahami ancaman megathrust di zona subduksi selatan Jawa yang hingga kini masih menyimpan banyak pertanyaan mengenai sejarah kejadian gempa dan tsunami besar.
Berdasarkan zona, subduksi selatan Jawa berpotensi menghasilkan gempa megathrust. Untuk memahami ancaman di masa depan, para peneliti berupaya merekonstruksi sejarah tsunami masa lalu melalui pendekatan paleotsunami, yaitu kajian terhadap jejak-jejak geologi yang ditinggalkan tsunami purba.
Selain alasan ilmiah, penelitian ini juga didorong kebutuhan praktis dalam mitigasi bencana mengingat ada potensi sepanjang pesisir selatan Jawa terekspos ancaman gempa bumi dan tsunami.
“Ini penting untuk penilaian risiko dan perencanaan ketahanan bencana,” ujar dia.
Sejarah tektonik dan vulkanik di Kuningan
Sementara di Jawa sisi utara, tim peneliti PRKG BRIN mengungkap bukti fisik aktivitas tektonik dan vulkanik pada zaman kuarter di wilayah lingkar timur Kuningan, Jawa Barat. Temuan ini berdasarkan analisis geokronologi dan pemetaan Light Detection and Ranging (LiDAR) presisi tinggi terhadap endapan distal Gunung Ciremai.
Latar belakang riset ini adalah masih terbatasnya data pentarikhan umur untuk endapan gunung api di Pulau Jawa. Padahal, endapan gunung api menutupi hampir seluruh wilayah Jawa.
“Endapan gunung api yang terganggu patahan dapat bercerita tentang sejarah masa lalu dan perulangan gempa bumi,” jelas Peneliti Ahli Muda PRKG sekaligus ketua tim penelitian, Sonny Aribowo, Selasa, 28 April 2026.
Lewat penelitian itu, para peneliti ingin mengetahui umur endapan gunung api Ciremai yang terganggu aktivitas tektonik. Deformasi tektonik di kaki Gunung Ciremai bukan sekadar aktivitas masa lalu, melainkan proses yang terekam secara sistematis dalam lapisan tanah.
Melalui metode carbon dating pada endapan di jalur Lingkar Timur Kuningan, ditemukan fakta geologi yang unik. Fakta tersebut yaitu, endapan berumur 22.000 tahun (22 ka) berada di atas endapan berumur 20.000 tahun (20 ka).
Posisi ini menjadi bukti kuat ada aktivitas sesar naik (thrusting) yang terjadi setelah periode 20.000 tahun lalu. Lapisan yang lebih tua terdorong ke atas lapisan yang lebih muda.
Selain sesar naik, ditemukan juga bukti sesar normal pada endapan berumur sekitar 16.000 tahun yang mengindikasikan ada fase penyeimbangan sedimen setelah tekanan tektonik besar.
“Dimungkinkan juga ada jejak kejadian gempa bumi besar pada periode tersebut,” imbuh dia.
Menurut Sonny, riset ini juga membedakan karakteristik material antara endapan jauh (distal) dan endapan dekat (proximal) Gunung Ciremai. Berdasarkan analisis unsur jejak (trace element) dan diagram TAS, endapan distal tergolong sebagai sedimen vulkanik basaltik sub-alkalin dengan kandungan besi tinggi dan silika rendah.
Sementara endapan proksimal, berdasarkan studi sebelumnya dalam disertasi Wildan Hamzah, menunjukkan area dekat puncak didominasi batuan andesit basaltik dengan seri magma medium-K.
Komposisi geokimia ini membantu peneliti menelusuri asal-usul material serta arah aliran erupsi purba Gunung Ciremai. Namun, hubungan antara endapan distal dan proksimal masih perlu dikaji lebih lanjut karena ada perbedaan karakteristik.
Di sisi lain, endapan distal yang berumur sekitar 15.000 tahun menunjukkan pernah terjadi letusan pada periode tersebut.
Penggunaan data LiDAR di lingkar timur Kuningan memungkinkan tim untuk melihat fitur permukaan bumi tanpa terhalang vegetasi. Hasilnya menunjukkan ada kemiringan lapisan (tilting) dan patahan (faulting) yang sangat jelas pada morfologi lahan.
“Data radiokarbon dan LiDAR ini memberikan pembaruan penting terhadap kronologi erupsi Gunung Ciremai. Temuan ini menunjukkan fase deformasi tektonik di wilayah Kuningan berlangsung beriringan dengan sejarah vulkanisme gunung tersebut,” papar Sonny.
Wilayah sekitar Gunung Ciremai, khususnya area Kuningan, memiliki kompleksitas geologi yang tinggi. Integrasi antara data erupsi eksplosif (sejak 40.800 tahun lalu hingga periode sejarah) dan data sesar aktif sangat krusial. Data tersebut dapat digunakan untuk menyusun tata ruang permukiman yang lebih aman, memperkirakan periode ulang gempa darat di jalur sesar aktif, serta meningkatkan sistem peringatan dini berbasis risiko multi-bahaya, baik vulkanik maupun tektonik.
Harapannya, semakin banyak data umur batuan yang terganggu aktivitas tektonik, periode perulangan dan sejarah kegempaan dapat diketahui dengan lebih baik. Potensi bahaya gempa dan vulkanik dapat dievaluasi secara lebih baik untuk mendukung pembangunan di masa depan. [WLC02]
Sumber: BRIN






Discussion about this post