Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Varietas Padi untuk Lahan Rawa dan Kering di Luar Jawa Lewat Pemuliaan Tanaman

Perlu inovasi terus-menerus untuk menghasilkan bibit yang adaptif terhadap kondisi lingkungan yang berubah.

Sabtu, 1 Maret 2025
A A
Riset padi varieatas unggul lewat pemuliaan tanaman. Foto Dok. BRIN.

Riset padi varieatas unggul lewat pemuliaan tanaman. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Pemuliaan tanaman berperan penting dalam menciptakan varietas unggul yang mampu beradaptasi dengan kondisi ekstrem, seperti kekeringan, salinitas, dan serangan hama. Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini berfokus pada perakitan bibit unggul baru dengan berbagai sifat keunggulan.

Pemulia Padi dari Pusat Riset Tanaman Pangan BRIN, Aris Hairmansis menegaskan, bahwa inovasi dalam pemuliaan padi terus dikembangkan untuk memastikan produktivitas yang optimal dan keberlanjutan sektor pertanian di Indonesia.

“Kami mengembangkan varietas yang tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memiliki ketahanan terhadap hama dan penyakit. Juga ada upaya untuk meningkatkan nilai gizi padi melalui biofortifikasi guna membantu mengatasi permasalahan stunting di Indonesia,” papar dia.

Baca juga: Ambil Sampel di SPBU Jabodetabek, Lemigas Klaim Kualitas BBM Sesuai Standar

Dalam perjalanannya, pemuliaan tanaman menghadapi berbagai tantangan. Perubahan iklim yang drastis menyebabkan kondisi pertanian semakin tidak menentu.

“Dampaknya tidak hanya pada lingkungan seperti kekeringan dan banjir, tetapi juga meningkatkan dinamika hama dan penyakit yang semakin sulit dikendalikan,” ungkap Aris.

Perlu inovasi terus-menerus untuk menghasilkan bibit yang adaptif terhadap kondisi lingkungan yang berubah. Aris menjelaskan, tim riset BRIN juga tengah mengembangkan varietas yang mampu bertahan di lahan pesisir dengan tingkat salinitas tinggi, serta varietas yang tahan terhadap genangan akibat anomali cuaca.

Baca juga: Etty Riani, Kontaminasi Mikroplastik di Perairan di Indonesia Belum Bisa Disebut Pencemaran

“Kami juga sedang mengembangkan varietas yang mampu bertahan terhadap multiple stress, yaitu kombinasi antara kekeringan dan salinitas, agar dapat digunakan di berbagai kondisi lahan,” papar dia.

Proses pemuliaan tanaman tidaklah instan. Butuh waktu sekitar lima tahun untuk menghasilkan varietas baru yang siap dipasarkan.

“Kami memulai dari eksplorasi plasma nutfah, lalu melakukan persilangan dan seleksi bertahap di rumah kaca serta di lahan pertanian dengan kondisi ekstrem,” jelas Aris.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: BRINpemuliaan tanamanperubahan iklimvarietas unggul

Editor

Next Post
Pendaki Elsa (paling depan) dan Lilie (di belakangnya) usai memasang plakat untuk penghormatan sahabatnya yang meninggal di Puncak Cartensz, Timika, Papua, 28 Februari 2025. Foto @rropz/X.

Rombongan Pendaki Puncak Cartensz Diserang Hipotermia Akibat Cuaca Buruk, Dua Orang Meninggal

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media