Jumat, 25 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Varietas Padi untuk Lahan Rawa dan Kering di Luar Jawa Lewat Pemuliaan Tanaman

Perlu inovasi terus-menerus untuk menghasilkan bibit yang adaptif terhadap kondisi lingkungan yang berubah.

Sabtu, 1 Maret 2025
A A
Riset padi varieatas unggul lewat pemuliaan tanaman. Foto Dok. BRIN.

Riset padi varieatas unggul lewat pemuliaan tanaman. Foto Dok. BRIN.

Share on FacebookShare on Twitter

Baca juga: Fraksi Demokrat Minta Menhut Tunjukkan Lokasi 20,6 Juta Ha untuk Pangan dan Energi

Untuk varietas yang membutuhkan ketahanan lebih tinggi terhadap penyakit, metode inovatif seperti radiasi dan rekayasa genetik juga mulai diterapkan.

Varietas unggul

Saat ini, Indonesia telah memiliki lebih dari 400 varietas unggul padi. Namun hanya sekitar 10 varietas yang mendominasi lebih dari 70 persen lahan pertanian nasional. Faktor adaptasi lingkungan dan preferensi pasar menjadi penyebab terbatasnya penyebaran varietas baru.

“Kebanyakan masyarakat Indonesia menyukai beras dengan tekstur pulen, sehingga varietas dengan karakteristik ini lebih diminati,” ujar Aris.

Baca juga: Mohammad Adib, Wujudkan Keadilan Lingkungan Lewat Antropologi Ekologi

Selain itu, BRIN juga berupaya mengembangkan varietas padi yang cocok untuk lahan-lahan marginal di luar Pulau Jawa, seperti lahan rawa dan lahan kering.

“Sekitar 60 persen produksi beras nasional masih terpusat di Pulau Jawa. Padahal banyak wilayah di luar Jawa yang memiliki potensi pertanian yang belum tergarap optimal,” tambah dia.

Harapan ke depan, riset pemuliaan tanaman terus mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan sektor swasta. Dukungan yang diperlukan adalah terhadap pendanaan yang berkelanjutan, akses terhadap fasilitas penelitian seperti kebun percobaan, serta kolaborasi dengan berbagai pihak agar inovasi yang dihasilkan dapat segera diimplementasikan.

Ia menjelaskan, pemuliaan tanaman bukan sekadar upaya peningkatan produksi, tetapi juga strategi adaptasi terhadap perubahan iklim dan dinamika kebutuhan pangan masyarakat. Dengan sinergi antara riset, kebijakan, dan implementasi di lapangan, Indonesia dapat mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan dan mandiri. [WLC02]

Sumber: BRIN

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: BRINpemuliaan tanamanperubahan iklimvarietas unggul

Editor

Next Post
Pendaki Elsa (paling depan) dan Lilie (di belakangnya) usai memasang plakat untuk penghormatan sahabatnya yang meninggal di Puncak Cartensz, Timika, Papua, 28 Februari 2025. Foto @rropz/X.

Rombongan Pendaki Puncak Cartensz Diserang Hipotermia Akibat Cuaca Buruk, Dua Orang Meninggal

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media