Baca juga: Kayu Hanyutan untuk Huntara di Aceh Utara dan Sumatra Utara Capai Ribuan Meter Kubik
“Ada potensi akan menyebabkan sistem kekebalan manusia menjadi tidak mampu untuk melawan, dan konsekuensi lainnya, seperti penularan yang lebih cepat,” terang Tri.
Gejalanya serupa dengan flu biasa seperti demam, batuk, dan nyeri otot. Namun mutasi pada varian ini meningkatkan kekhawatiran akan risiko komplikasi seperti pneumonia bagi kelompok rentan.
Dalam menghadapi lonjakan kasus influenza, Agung menekankan vitalnya peran laboratorium mikrobiologi klinik dalam melakukan diagnosis yang akurat. Metode Real-Time PCR (RT-PCR) tetap menjadi standar emas (gold standard) untuk membedakan influenza dengan virus pernapasan lainnya seperti SARS-CoV-2 atau RSV.
“Diagnosis cepat bukan sekadar untuk menentukan obat, tetapi juga untuk surveilans strain. Kami perlu memantau apakah virus yang beredar telah mengalami resistensi terhadap antiviral yang ada saat ini,” jelas Agung.
Baca juga: Kondisi Darurat Bencana Belum Usai, Gubernur Aceh Perpanjang Ketiga Kali
Langkah pencegahan dan pengobatan
Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan adalah pentingnya vaksinasi influenza tahunan. Vaksinasi diklaim cara paling efektif untuk menekan risiko keparahan akibat Superflu. Mengingat sifat virus yang terus bermutasi (antigenic drift), pembaruan vaksin secara rutin sangat perlu agar kekebalan tubuh tetap relevan dengan strain yang sedang bersirkulasi di masyarakat.
“Vaksinasi dan proteksi pribadi adalah kunci utama. Jika individu terlindungi, maka risiko penularan secara komunitas juga akan ikut menurun,” tegas Agung.
Baca juga: Bukan Solusi Krisis Sampah, Walhi Desak Percepatan PSEL Dihentikan
Pencegahan dari penularan varian virus ini dengan cara menerapkan etika batuk yang baik, menggunakan masker bagi untuk orang yang sedang mengalami gejala flu, mencuci tangan secara periodik, beristirahat cukup, serta memastikan ruangan memiliki ventilasi yang cukup.
Vaksinasi tetap dilakukan untuk kelompok rentan. Terutama bagi anak-anak, orang lansia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit kronis. Dari sisi pengobatan, pemberian antiviral seperti Oseltamivir masih dinilai efektif jika diberikan dalam waktu kurang dari 48 jam sejak gejala pertama muncul.
Agung mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan gejala flu, terutama di tengah musim hujan dan munculnya varian baru. Kesadaran akan diagnosis dini dan kelengkapan vaksinasi diharapkan dapat mencegah terjadinya wabah yang lebih luas di Indonesia. [WLC02]
Sumber: Unair, UGM







Discussion about this post