Kamis, 24 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ana Nadhya Abrar: Nilai Kemanusiaan Jadi Batas Kanan Jurnalisme dalam Penulisan Biografi

Menulis biografi seseorang bisa dilakukan siapa saja. Namun ada hal berbeda ketika biografi ditulis oleh wartawan. Apakah itu?

Jumat, 11 Maret 2022
A A
Prof. Ana Nadya Abrar. Foto ugm.ac.id.

Prof. Ana Nadya Abrar. Foto ugm.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Menulis biografi menjadi semacam pekerjaan kekinian. Apalagi sudah banyak orang yang getol memproklamasikan dirinya sebagai biograf. Banyak pula tokoh yang menyambut tawaran biograf tersebut.

“Dan sebagian besar biograf di Indonesia berprofesi sebagai wartawan,” kata Dosen Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UGM, Prof. Ana Nadhya Abrar dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar  yang berjudul Menarik Garis Batas Jurnalisme dalam Penulisan Biografi sebagaimana dilansir dari laman ugm.ac.id, 10 Maret 2022.

Pernyataan Abrar mengutip data penelitian Safari Daud terhadap 30 biograf di Indonesia. Meskipun juga ada penulis biografi dari kalangan sejarawan, intelektual, aktivis, politisi, pensiunan  tentara dan sastrawan. Abrar menyebutkan ada dua mantan wartawan yang bisa digolongkan sebagai biograf terkenal Indonesia yakni Ramadhan KH dan Alberthiene Endah.

Baca Juga: Usai Liburan Malah Tak Bersemangat, Itu Tanda-tanda Post-Holiday Blues

Lantas seperti apa penulisan biografi di tangan wartawan?

Bagi Abrar, wartawan yang menulis biografi bertujuan untuk meningkatkan intelektualitas khalayak. Umumnya wartawan menjadikan bahasa sebagai alat interaksi antara dirinya dan khalayak. Dalam menulis biografi, wartawan menggunakan teknis jurnalisme berkaitan dengan keterampilan menggunakan bahasa jurnalistik. Meskipun menggunakan bahasa jurnalistik sekalipun, tetap memiliki ciri khas menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baku dan benar.

“Lewat kemampuan itu, seorang biograf harus menunjukkan keterampilannya menulis. Jika tidak terampil menulis, biografi yang mereka tulis tidak akan memperoleh sambutan yang hangat dari khalayak,” kata Abrar.

Dalam menciptakan narasi dan kisah biografi menggunakan bahasa jurnalistik, wartawan punya kesempatan yang luas untuk menghasilkan biografi yang mengutamakan nilai kemanusiaan.

Baca Juga: Obituari Widodo: Petani Melawan Penambangan Pasir Besi dengan Menanam

“Pengutamaan nilai kemanusiaan inilah yang menjadi batas kanan jurnalisme dalam penulisan biografi,” imbuh Abrar.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Ana Nadya Abrarbahasa jurnalistikbiografbiografijurnalismenilai kemanusiaanwartawan

Editor

Next Post
Aksi damai warga Wadas di Kantor Kementerian ESDM, 24 Februari 2022. Foto Dok. Gerakan Bersihkan Indonesia.

Eksaminasi Putusan IPL Wadas: Majelis Hakim Tak Anggap Amicus Curiae Jadi Pertimbangan Putusan

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media