Minggu, 27 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Awal 2025, Ribuan Ternak Sapi Terpapar Penyakit Mulut dan Kuku

Senin, 6 Januari 2025
A A
Ilustrasi ternak sapi. Foto Wanaloka.com

Ilustrasi ternak sapi. Foto Wanaloka.com

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Berdasarkan Laporan Dinas Ketahanan Pangan dan Pangan (DPKP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sebanyak 824 sapi terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) per 1 Januari 2025. Dari jumlah tersebut, 21 ekor sapi dilaporkan mati. Ratusan ternak, terutama sapi di DIY yang terpapar PMK itu terjadi di Gunungkidul, Bantul, Sleman, dan Kulon Progo.

Jenis wabah yang menyerang hewan berkuku belah, seperti sapi, babi, kerbau, hingga domba ini mengalami lonjakan kasus sejak awal Desember 2024 lalu. Hingga saat ini, total kasus PMK secara nasional yang telah dilaporkan mencapai 8.483 kasus dengan jumlah kematian 223 kasus dan pemotongan paksa sebanyak 73 kasus. Data tersebut tersebar di sembilan provinsi, termasuk Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pakar sekaligus Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM, Prof. Aris Haryanto mengatakan kemungkinan lonjakan kasus PMK karena proses vaksinasi yang belum menyeluruh dan berkala.

Baca juga: Trekking ke Situ Gunung Sukabumi Lewat Jembatan Gantung Setengah Kilometer

“Kasus PMK kali ini merupakan gelombang kedua. Sebelumnya sudah pernah (vaksinasi) dan peternak sekarang sudah terinformasi. Namun karena kasusnya mereda, jumlah vaksinasinya juga menurun,” tutur Aris, Senin, 6 Januari 2025.

Penyakit PMK menular lewat udara

Penyakit PMK yang bernama lain apthae epizootica (AE), aphthous fever, atau foot and mouth disease (FMD) ini disebabkan virus RNA, genus Apthovirus yang termasuk dalam keluarga Picornaviridae. Meskipun virus ini memiliki berbagai serotipe, yakni O, A, C, Southern African Territories (SAT – 1, SAT – 2 dan SAT – 3) dan Asia – 1, kasus di Indonesia diyakini bertipe O.

Aris menjelaskan, penyebarannya sangat cepat dan menular pada hewan ternak, baik secara langsung, tidak langsung, maupun melalui udara. Penyebaran lewat udara inilah yang membedakan virus ini dengan jenis virus lainnya.

Baca juga: Pemerintah Terapkan Biodiesel B40 Berbasis Minyak Sawit Per 1 Januari 2025

“Virus ini bisa menyebar secara langsung melalui udara. Jika hewan itu ditempatkan berdampingan, kemungkinan tertularnya besar. Bahkan ada kasus di mana penularannya bisa sampai 200 km jaraknya,” terang Aris.

Soal penyebab penyakit PMK cepat merebak dalam beberapa tahun terakhir, menurut Aris berawal dari kasus pertama di Indonesia ditemukan di Jawa Timur dan Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Gelombang kedua wabah PMK kali ini juga muncul di kedua daerah tersebut.

Mitigasi lewat vaksinasi dan biosekuriti

Vaksin PMK yang terus digalakkan pemerintah adalah jenis vaksin sesuai dengan tipe virus yang muncul dalam kasus nasional. Sayangnya, produksi vaksin dalam negeri masih belum mencukupi kebutuhan vaksinasi untuk hewan-hewan ruminansia ternak yang rentan terkena PMK.

Baca juga: Waspada Wabah Virus HMPV Merebak di Cina, Berisiko Bagi Anak-anak dan Lansia

“Vaksinasi itu harus dilakukan minimal dua kali. Jarak antara vaksin pertama dan kedua itu sebulan. Setelah itu tetap harus divaksin setiap enam bulan sekali,” jelas dia.

Soal mitigasi wabah PMK, Aris menilai perlu dilakukan secara bertahap sesuai gejala yang muncul. Pada tahap pertama, hewan yang terkena PMK akan mengalami demam tinggi. Peternak diharapkan bisa bersikap tanggap dengan memberi analgesik dan antibiotik untuk meredakan nyeri dan demam.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: beternak sapipenyakit mulut dan kukuSatgas Penanggulangan PMKvaksinasi

Editor

Next Post
Peringatan 44 tahun banjir bandang dan longsor di Sangiang, 26 Desember 2024. Foto Dok. Tim Peneliti Prodi Ilmu Sejarah FIB Unpad.

Melengkapi Data Terserak 44 Tahun Banjir Bandang Sangiang

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media