Selasa, 20 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Peran Ekologis Tapir, Si Penyebar Biji di Hutan Tropis

Tapir juga dikenal sebagai keystone species, umbrella species, sekaligus flagship species yang menjadi simbol penting keberhasilan konservasi hutan.

Selasa, 7 Juli 2026
A A
Ilustrasi Tapir Asia. Foto Rdwittle/Pixabay.com.

Ilustrasi Tapir Asia. Foto Rdwittle/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Kemunculan tapir di sekitar permukiman bukanlah fenomena yang lazim, melainkan sinyal ekosistem hutan sedang mengalami gangguan serius. Seperti kemunculannya di kawasan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), Register 45, Kabupaten Mesuji, Lampung hingga kabar pembunuhannya oleh sekelompok warga menjadi pengingat penting, bahwa kondisi habitat satwa liar semakin tertekan.

“Padahal tapir adalah satwa pemalu yang sangat bergantung pada habitat hutan. Kemunculannya di lingkungan manusia penanda ada sesuatu yang salah terhadap habitatnya,” ujar Pakar Konservasi IPB University, Abdul Haris Mustari.

Tapir Asia atau Tapir Malaya (Tapirus indicus) merupakan satu-satunya spesies tapir yang hidup di Benua Asia. Satwa mamalia berkuku ganjil ini memiliki panjang tubuh sekitar 1,8 meter dengan bobot mencapai 300–350 kilogram. Ia dikenal sebagai herbivora murni yang mengonsumsi beragam jenis tumbuhan.

Tapir memiliki belalai pendek yang merupakan hasil modifikasi hidung dan bibir atas selama proses evolusi jutaan tahun. Organ tersebut berfungsi untuk memilih makanan, mendeteksi bau, mengenali kondisi lingkungan, hingga membantu navigasi di habitatnya.

Tapir Asia hidup di hutan dataran rendah lembap dan sangat bergantung pada sumber air untuk minum, berkubang, serta menjaga suhu tubuh. Di Lampung, spesies ini menjadi indikator kesehatan hutan.

Tapir memiliki peran ekologis yang sangat penting sebagai penyebar biji (seed disperser) di hutan tropis, terutama di hutan hujan dataran rendah di Sumatera dan Kalimantan. Berbagai biji tumbuhan yang dikonsumsinya akan tersebar melalui feses dan tumbuh menjadi vegetasi baru. Bahkan sejumlah jenis biji baru dapat berkecambah setelah melewati proses pencernaan satwa tersebut sehingga tapir berkontribusi besar terhadap regenerasi hutan.

Selain itu, tapir juga dikenal sebagai keystone species, umbrella species, sekaligus flagship species yang menjadi simbol penting keberhasilan konservasi hutan.

Dari sisi konservasi, tapir Asia berstatus Endangered dalam Daftar Merah IUCN, tercantum pada Appendix I CITES. Juga dilindungi melalui berbagai regulasi nasional, termasuk Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 1999, dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Permen LHK) Nomor 106 Tahun 2018.

Menurut Mustari, penyebab utama tapir keluar dari habitat alaminya adalah semakin luasnya alih fungsi hutan menjadi perkebunan, permukiman, kawasan pertambangan, maupun pembukaan lahan. Kondisi ini mempersempit wilayah jelajah satwa, mengurangi ketersediaan pakan, dan meningkatkan potensi konflik dengan manusia.

“Tapir yang keluar dari hutan, seperti kasus di Mesuji, kemungkinan telah menempuh perjalanan panjang dalam kondisi lemah, kekurangan makan dan air, serta sesungguhnya sedang mencari tempat yang aman. Sangat disayangkan jika satwa yang dilindungi justru berakhir tragis akibat tindakan manusia,” papar dia.

Atas peristiwa ini, Mustari mengajak masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap satwa liar dan menjaga kelestarian habitatnya. Keberadaan satwa merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keseimbangan ekosistem.

“Apabila satwa dan tumbuhan terus mengalami kepunahan akibat rusaknya hutan, akhirnya manusia juga akan merasakan dampaknya. Melindungi tapir berarti menjaga keberlangsungan hutan dan kehidupan kita bersama,” jelas dia.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Fakultas Biologi UGMKOBIPakar Konservasi IPB UniversitySatwa liarTapir AsiaTapir MalayaTapirus Indicus

Editor

Next Post
Ilustrasi konjungsi Saturnus dan Bulan. Foto Quinnbrak/Pixabay.com.

Ketika Saturnus dan Bulan Tampak Sangat Dekat Diamati dari Bumi

Discussion about this post

TERKINI

  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
  • Gedung KPK | kpk.go.id.OTT KPK di BNPB, Kepala BNPB Langsung Diganti
    In News
    Kamis, 15 Oktober 2026
  • Dampak karhutla, wilayah Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, diselimuti kabut asap pada Kamis, 8 Oktober 2026. Foto BNPB.Respons Protes Negara Jiran Dampak Karhutla, Prabowo Perintahkan Penanganan Optimal
    In Bencana
    Selasa, 13 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media