Senin, 14 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Chusnul Arif: Metode SRI, Budidaya Padi Hemat Air dan Mengurangi Emisi

Fenomena perubahan iklim tak mungkin terelakan. Perlu langkah mitigasi krisis pangan, salah satunya lewat metode SRI dalam budidaya padi di sawah.

Jumat, 27 Januari 2023
A A
Dosen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University, Dr.Chusnul Arif. Foto ipbtraining.com.

Dosen Teknik Sipil dan Lingkungan IPB University, Dr.Chusnul Arif. Foto ipbtraining.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Petani Indonesia masih mengandalkan genangan air berjumlah besar dalam budidaya padi di sawah. Padahal cara tersebut dapat menyebabkan emisi gas rumah kaca dan gas metan. Dosen Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknologi Pertanian IPB University, Doktor Chusnul Arif menyebut ada metode budidaya padi sawah yang lebih ramah lingkungan, yakni metode System of Rice Intensification (SRI). Metode yang telah dipelajari Chusnul dan dipublikasi sejak 2008 itu juga diyakini bisa menjadi mitigasi kekeringan akibat perubahan iklim.

“Sistem SRI mulai diperkenalkan di Madagaskar untuk membudidayakan padi di lahan kering,” jelas Chusnul dalam PodSIL (Podcast Teknik Sipil dan Lingkungan) kampusnya.

Ada enam prinsip dalam metode SRI. Pertama, benihnya muda sehingga hanya membutuhkan 7-14 hari dan dapat memotong waktu semai. Kedua, padi ditanam dengan jarak agak lebar untuk memberi ruang tanaman dan anakan untuk tumbuh. Ketiga, satu lubang ditanami satu tanaman.

Baca Juga: Peluncuran Portal I-LEAD Berisi Putusan Hukum Kasus Lingkungan di Indonesia

Keempat, sistem irigasi lebih efektif dengan metode intermiten atau berselang. Kelima, penyiangan secara intensif untuk mengurangi gulma sekaligus meningkatkan aerasi tanaman. Keenam, direkomendasikan untuk menggunakan pupuk organik agar menghasilkan produk lebih sehat.

Beberapa kelebihan metode ini, seperti penggunaan benih lebih sedikit, sehingga lebih hemat. Jumlah air yang digunakan pun hemat hingga 40 persen.

“Kondisinya lebih kering, sehingga gas metan atau emisinya dapat dikurangi,” kata Chusnul.

Baca Juga: JM-PPK ke Istana, Tagih Pelaksanaan Rekomendasi KLHS Kendeng dan Pengesahan RPP Karst

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Dr. Chusnu ArifEmisi gas rumah kacaIPB Universitymetode SRIperubahan iklimswasembada berasSystem of Rice Intensification

Editor

Next Post
Desain ruang publik ramah lingkungan di perkotaan karya mahasiswa ITS. Foto its.ac.id.

Desain Ruang Publik Ramah Lingkungan dengan Teknologi Piezoelectric Energy

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media