Minggu, 31 Agustus 2025
wanaloka.com
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Hari Tani Nasional ke-62 Tahun dan Persoalan Lahan Pangan

Memperingati Hari Tani Nasional yang ke-62 tahun, komunitas perempuan petani lestari di Yogyakarta dan Jawa Tengah, mengemukakan persoalan lahan pangan, pola bercocok tanam hingga ancaman kehilangan lahan pangan dampak pembangunan infrastruktur.

Sabtu, 24 September 2022
A A
Hari Tani Nasional ke-62 Tahun dan persoalan lahan pangan. Foto Wanaloka.com

Hari Tani Nasional ke-62 Tahun dan persoalan lahan pangan. Foto Wanaloka.com

Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga: Pemerintah Indonesia akan Pensiunkan PLTU, Tapi Ada yang Dikecualikan

“Tidak pernah dalam sejarah petani (terutama petani padi) mengalami kenaikan harga jual gabah hingga dua puluh ribu. Ini baru padi, belum yang lainnya, seperti kacang hijau, kedelai. Sementara impor beras, kedelai terus dilakukan dan di bawah harga petani. Petani makin miskin,” ujar Messidah.

Perempuan petani lestari, Herni Saraswati menekankan pentingnya pola pertanian lestari dengan memanfaatkan dan menggunakan olahan daun dan kotoran ternak. Serta sistem pertanian non-monokultur.

Cara itu, kata Herni, tidak hanya menyehatkan tanah dan tanaman, namun dapat mengeluarkan petani dari kemiskinan. Petani dapat keluar dari situasi ketergantungan yang memiskinkan dan berdaulat atas pupuk (nutrisi), benih, dan harga jual.

Pola pertanian lestari ini diharapkan tak ada petani menjual seluruh hasil panen untuk biaya produksi, petani mendapatkan subsidi beras dari pemerintah, atau petani membeli beras di pasar.

Baca Juga: Lalat Bisa Membantu Pakar Forensik Mengungkap Kasus Kriminal

Bertempat di Pendopo Tegal Pule Banjararum, Kalibawang, Solidaritas Perempuan Kinasih bersama komunitas perempuan petani lestari Karisma Kulonprogo, Wadon Wadas menyampaikan tujuh tuntutan kepada pemerintah di momentum Hari Tani Nasional.

Tujuh tuntutan tersebut, menghentikan alih fungsi lahan produktif pertanian menjadi lahan non produktif; membatalkan rencana pertambangan, dan mencabut IPL di Wadas; menghentikan impor benih, gabah, dan beras; menghentikan pola pertanian mekanik yang merusak tanah, menjerat petani dan memiskinkan; mengembalikan pola pertanian lestari; memberikan jaminan kesejahteraan petani miskin, perempuan petani, dan buruh tani, dan; mewujudkan reformasi agraria dan pertanian yang adil gender.

Melansir laman resmi Pemerintah Provinsi DIY, Gubernur Sri Sultan HB X menyebutkan, total luas lahan pertanian DIY, sekitar 52.104 hektar. Untuk jumlah produksi padi DIY pada tahun 2021 mencapai 853.564 ton, sedangkan jumlah konsumsi hanya sekitar 680.000-an ton. Sisa produksi kemudian bisa menjadi stok pangan, disimpan berupa gabah dan ada pula yang diserap PNS dengan kebijakan Pemda DIY.

Penetapan Hari Tani Nasional berkaitan dengan ditetapkannya dan disahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agaria, pada 24 September 1960. [WLC01]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: Hari Tani NasionalKelompok Tani Karisma Kulonprogokrisis panganpenambangan batu andesit Desa Wadasperempuan Wadaspersoalan lahan panganpola pertanian lestariSolidaritas Perempuan Kinasih

Editor

Next Post
Konflik agraria SPI dengan PT PG Rajawali II, massa SPI berunjukrasa di Kementerian LHK pada Jumat, 23 September 2022. Foto SPI.

Konflik Agraria, SPI Beberkan Lima Poin Hasil Pertemuan dengan KLHK

Discussion about this post

TERKINI

  • Ginseng Jawa (Talinum paniculatum). Foto Alam Sari Petra.Ginseng Jawa Lebih Aman Dikonsumsi Ketimbang Ginseng Korea
    In Rehat
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Gelaran Indonesia Climate Justice Summit (ICJS) 2025 hari pertama di Jakarta, 26 Agustus 2025. Foto Dok. ARUKI.ICJS 2025, Masyarakat Rentan Menuntut Keadilan Iklim
    In Lingkungan
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Kepala BMKG melakukan kunjungan ke UPT Stasiun Meteorologi (Stamet) Kelas I Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, Riau, 24 Agustus 2025. Foto BMKG.Akhir Agustus 2025, Potensi Karhutla di Riau Meningkat
    In News
    Selasa, 26 Agustus 2025
  • Lalat buah. Foto CABI Digital Library/digitani.ipb.ac.id.Pengendalian Lalat Buah dengan Teknologi Nuklir, Amankah?
    In IPTEK
    Senin, 25 Agustus 2025
  • Presiden Prabowo Subianto memimpin pertemuan tertutup soal penertiban tambang ilegal di Hambalang, Bogor, 19 Agustus 2025. Foto Laily Rachev/BPMI Setpres.Alasan Prabowo Tertibkan Tambang Ilegal agar Negara Tetap Memperoleh Pendapatan
    In Lingkungan
    Senin, 25 Agustus 2025
wanaloka.com

©2025 Wanaloka Media

  • Tentang
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2025 Wanaloka Media