Sabtu, 22 Agustus 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Husin Alatas: Fenomena Aphelion Bukan Penyebab Batuk Pilek

Pemanasan global disinyalir menjadi penyebab cuaca ekstrim sehingga memicu kemunculan berbagai penyakit. Bukan disebabkan fenomena Aphelion.

Selasa, 1 Maret 2022
A A
Prof. Husin Alatas. Foto ipb.ac.id.

Prof. Husin Alatas. Foto ipb.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Sempat tersiar kabar, fenomena Aphelion, yaitu ketika posisi bumi berada pada titik terjauh dari matahari, disebut sebagai penyebab batuk dan pilek. Guru Besar IPB University Bidang Fisika Teori, Prof. Husin Alatas sekaligus pengajar mata kuliah Fisika Sistem Kompleks pada Program Studi Sarjana (S1) Fisika menjelaskan secara ilmiah untuk memverifikasi berita yang beredar.

Husin menjelaskan, setiap tahun posisi Aphelion bumi berlangsung pada kisaran awal bulan Juli dan tahun 2022 ini diperkirakan akan jatuh pada tanggal 4. Sementara, titik Perihelion dicapai bumi pada tanggal 4 Januari 2022 yang lalu. Jika dibandingkan dengan rata-rata jarak antara bumi dengan matahari, maka penyimpangan titik aphelion hanya 1.68 persen, demikian juga dengan titik perihelion. Hal ini bersesuaian dengan nilai eksentrisitas orbit bumi yang bernilai 0.01671 atau dengan kata lain orbit bumi pada hakikatnya hampir berupa lingkaran.

Baca Juga: Manusia hingga Parasit Jadi Penyebab Gajah Sumatera Hampir Punah

Jika efek yang ditimbulkan oleh kemiringan poros rotasi bumi dibandingkan terhadap bidang orbit sebesar 23 derajat yang menimbulkan perbedaan musim antara bumi bagian utara dan selatan, maka efek dari Aphelion dan Perihelion praktis relatif sangat kecil terhadap cuaca di bumi.

Sehingga cuaca ekstrim yang dapat menimbulkan dampak bagi kesehatan, seperti munculnya gejala batuk dan pilek, kecil kemungkinan disebabkan oleh kedua posisi bumi dari matahari tersebut.

“Justru pemanasan global tampaknya berpeluang untuk lebih memberikan dampak yang signifikan bagi terjadinya kondisi cuaca ekstrim belakangan ini,” kata Sekretaris Eksekutif Center for Tranadisciplinary and Sustainability Sciences (CTSS) IPB University ini.

Baca Juga: Kesemutan Separuh Badan, Waspada Gejala Stroke

Fenomena Aphelion hanya berlangsung sangat singkat. Untuk tahun 2022 ini, aphelion akan terjadi pada tanggal 4 Juli 2022 pukul 14.10 Waktu Indonesia bagian Barat (WIB). Jarak antara bumi dengan jarak matahari mencapai 152.098.455 kilometer. Sementara, perihelion terjadi pada tanggal 4 Januari pukul 13.52 WIB dengan jarak bumi dan matahari mencapai 147.105.052 kilometer.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Aphelion dan PerhelionCuaca Ekstremfenomena AphelionIPB Universitypemanasan globalperihelion

Editor

Next Post
Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Foto wanaloka.com.

Mengenang Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta Lewat Relief

Discussion about this post

TERKINI

  • Diskusi dan pemutaran film Film dokumenter “Jejak Kolonial di Hutan Jawaˮ dalam Festival Udin 2026, 15 Agustus 2026. (Dok. Festival Udin 2026)Co-firing Biomassa dari Proyek Bioenergi Kayu di Jawa Korbankan Ekosistem Hutan dan Masyarakat
    In Lingkungan
    Selasa, 18 Agustus 2026
  • Upacara rakyat di Kendeng, Kabupaten Pati, 17 Agustus 2026. (Foto Istimewa)Upacara Rakyat di Kendeng Dihadiri Warga dan Petani yang Melawan Penambangan Karst
    In News
    Senin, 17 Agustus 2026
  • Upacara peringatan kemerdekaan RI oleh warga Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri di lahan pertaniannya, 17 Agustus 2026. (Foto Istimewa)Warga Pracimantoro: Kami Bukan Melawan Pembangunan, Kami Menjaga Kehidupan
    In News
    Senin, 17 Agustus 2026
  • Ilustrasi gerhana matahari total. Foto Dok. BMKG.Masyarakat Indonesia Bisa Saksikan Fase Gerhana Matahari Total 12 Agustus di Kanal NASA
    In News
    Minggu, 9 Agustus 2026
  • Bencana ekologis di Sumatra. Foto Walhi.Deklarasi Desk Disaster Walhi: Hentikan Narasi “Bencana Alam” untuk Menghapus Tanggung Jawab
    In Lingkungan
    Rabu, 5 Agustus 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media