Jumat, 26 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ini Cara Mahasiswa Unair Sulap Sampah Plastik Jadi Material Bangunan

Sampah yang dihasilkan bisa punya nilai ekonomis, asalkan kreatif mengolahnya. Jadi solusi mengurangi tumpukan sampah juga bukan?

Minggu, 6 Agustus 2023
A A
Mahasiswa Unair mengolah sampah plastik pesisir Banyuwangi menjadi paving block. Foto unair.ac.id.

Mahasiswa Unair mengolah sampah plastik pesisir Banyuwangi menjadi paving block. Foto unair.ac.id.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Problematika sampah menjadi fokus program mahasiswa Universitas Airlangga, baik untuk Kuliah Kerja Nyata (KKN) maupun program pendanaan. Mengingat sampah menjadi masalah setiap daerah tanpa ada penyelesaian hingga tuntas.

Persoalannya, tak semua daerah punya program pengelolaan sampah. Pun tak semua daerah punya teknologi untuk mengolah sampah.

Untuk mengimplementasikan programnya, mahasiswa ini menggandeng masyarakat di lingkungan tersebut sebagai mitra. Seperti ibu-ibu PKK maupun pemuda Karang Taruna. Mereka juga mengawali dengan memberikan edukasi dan pelatihan pengolahan sampah yang dimaksud.

Baca Juga: Tiga Masalah Krisis Bumi Tantangan KTT Perubahan Iklim di Dubai

Apa saja program solusi pengelolaan sampah yang dilakukan mahasiswa Unair?

Ubah Plastik Jadi Paving Block
Adalah Isac Muhamad Kahlil Gibran (SIKIA, Angkatan 2021) dengan anggota Raihan Bintang Kurniawan P (SIKIA, Angkatan 2021), Siti Nur Aini (FPK, Angkatan 2021), dan Salfa Dwi Firmansyah (FKH, Angkatan 2021), mahasiswa Unair yang tergelitik atas sebaran sampah-sampah plastik di sejumlah kawasan pesisir Banyuwangi, Jawa Timur. Lewat pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa Skema Pengabdian Masyarakat (PKM-PM), tim ini mengangkat judul Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir Pulau Santen Melalui Program Penguatan Mental Training dan Potensi Sampah Plastik Menjadi Paving Block.

“Pembuatan paving block akan mengurangi sampah plastik yang akan terus berdatangan di Pulau Santen menjadi produk yang memiliki nilai guna,” kata Ketua tim, Isac yang meraih medali setara perak dalam PIMNAS 2022.

Baca Juga: Ini Inovasi Teknologi Pengelolaan Sampah dari UGM

Mahasiswa Akuakultur SIKIA tersebut menjelaskan proses pembuatan paving block dimulai dari pemanasan drum selama kurang lebih 10 menit. Setelah mencapai suhu panas yang sesuai, sampah plastik dimasukkan ke dalam drum itu hingga mencair.

“Cairan sampah plastik tersebut akan dimasukkan ke dalam cetakan yang berbentuk paving block,” kata Isac.

Cetakan yang berisi cairan sampah plastik tersebut diletakkan pada drum yang berisi air hingga paving blok dapat terlepas dari cetakan dengan sendirinya. Paving block tersebut dapat digunakan untuk alas tumpuan langkah di atas tanah kawasan pesisir Pulau Santen maupun dikomersialkan.

Baca Juga: Ronny Rachman Noor: Satwa Liar Bukan Hewan Peliharaan

Ecobricks Pengganti Bata Merah
Mahasiswa KKN Belajar Bersama Komunitas (BBK) Periode 2 Unair di Desa Sidomulyo, Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri, Jawa Timur membuat program kerja pelatihan ecobricks untuk upaya pemilahan dan pengolahan sampah plastik.

Pelatihan itu dipilih karena banyak warga yang membuang sampah sembarangan, baik di jalanan maupun di sungai. Bahkan masih ada sebagian warga yang membakar sampah rumah tangga.

“Itu mengakibatkan polusi udara di sekitar,” kata Ketua kelompok, Safira Trisna Syahbani.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: ecobricksKKN BBK Unairmahasiswa Unairpaving blockpupuk cairsampah plastik

Editor

Next Post
Guru Besar Bidang Ilmu Kimia dan Pengelolaan Tanah Fakultas Pertanian UGM Prof. Benito Heru Purwanto. Foto researchgate.net.

Benito Heru: Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Lewat Pertanian Organik

Discussion about this post

TERKINI

  • Laskar Talijiwo dari Pracimantoro, Wonogiri sampaikan penolakan tambang dan pabrik semen kepada Bupati Wonogiri, 25 Juni 2026. Foto Dok. Laskar Talijiwo.Temui Bupati Wonogiri, Laskar Talijiwo Sampaikan Tolak Tambang Gamping dan Pabrik Semen
    In News
    Jumat, 26 Juni 2026
  • Ilustrasi sampah organik dari sisa buah-buahan. Foto Artis Digital/pixabay.com.Temuan Ombudsman DIY, Aktivitas TPS 3R Sokowaten Tak Berizin dan Sebabkan Pencemaran
    In News
    Senin, 22 Juni 2026
  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Para pejabat menunjukkan peta calon lokasi bandar antariksa di Distrik Biak Utara yang mengancam wilayah adat Warbon. Foto Istimewa.LBH Papua Nilai Rencana Pembangunan Bandar Antariksa di Wilayah Adat Warbon Cacat Hukum
    In Lingkungan
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Ilustrasi tawon yang berkoloni. Foto jcbeni.Pixabay.com.Tawon yang Berkoloni Mengenali Wajah Manusia yang Mengganggunya
    In IPTEK
    Jumat, 19 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media