Kamis, 25 Juni 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ketebalan ‘Salju Abadi’ Jayawijaya 32 Meter Tahun 2010, Kini Tinggal 4 Meter

Monitoring gletser yang dilakukan BMKG ini menunjukan bukti nyata, bahwa pemanasan global telah terjadi.

Selasa, 3 Desember 2024
A A
Ketebalan 'salju abadi' Pegunungan Jayawijaya, Papua tinggal 4 meter pada 2024. Foto Dok. BMKG.
Penyusutan luasan 'salju abadi' Pegunungan Jayawijaya, Papua pada 2024. Foto Dok. BMKG.
Kondisi 'salju abadi' di Pegunungan Jayawijaya, Papua yang menyusut dalam monitring 2024. Foto Dok. BMKG.
Penyusutan luasan dan ketebalan 'salju abadi' di Pegunungan Jayawijaya, Papua dari 2010-2022. Foto Dok. BMKG.
Tim monitoring gletser Pegunungan Jayawijaya 2024 dari BMKG bekerja sama dengan PT Freeport. Foto Dok. BMKG.
Share on FacebookShare on Twitter

Baca Juga: Gunung Ibu Erupsi, Gunung Marapi Jadi Waspada

“Ketebalan es sudah menyusut signifikan dari hasil pengukuran BMKG sebelumnya, yaitu 32 meter pada tahun 2010 dan 5,6 meter saat November 2015 – Mei 2016,” ungkap dia.

Upaya monitoring gletser di Papua ini sudah dilakukan sejak tahun 2010 bekerja sama dengan PT. Freeport Indonesia. Tim ini memasang stake berupa beberapa potongan pipa yang disambungkan dengan tali, kemudian dimonitor secara berkala.

Baca Juga: Eksplorasi Rafflesia Terkecil hingga Burung Enggang di TWA Danau Sicike cike

Berapa potongan pipa yang sudah terekspos ke permukaan untuk menandakan luasan dan ketebalan es yang sudah mengilang. Tahun 2010 hingga 2017 monitoring dilakukan secara langsung hingga Puncak Sudirman. Namun setelah 2017 monitoring dilakukan secara visual melalui udara dengan flyover karena akses untuk sampai ke puncak sudah tidak memungkinkan.

Adanya monitoring ini, BMKG menunjukan bukti nyata pemanasan global telah terjadi dan berpotensi mengancam ikon berharga milik Indonesia, yaitu ‘salju abadi’. BMKG menyatakan berkomitmen untuk mengawal dan mendokumentasikan jelang kepunahan salju abadi masa yang akan datang. [WLC02]

Sumber: BMKG

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: monitoring gletserPapuaPegunungan Jayawijayapemanasan globalPuncak Sudirman Pegunungan Jayawijayasalju abadi

Editor

Next Post
Kasuari selatan remaja yang dilepasliarkan di Hutan Tinaruma, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, 30 November 2024. Foto Dok. BBKSDA Papua/DDCJ.

Pelepasliaran Kasuari Selatan di Hutan Keramat Masyarakat Adat Papua

Discussion about this post

TERKINI

  • Acara ISWBC 2026 bertema Beyond Species: Rethinking Conservation in an Era of Uncertainty, 11 Juni 2026. Foto Leoni/UGM.Pejabat Kehutanan Bicara Peran Masyarakat Adat Menjaga Biodiversitas Saat Krisis Iklim
    In News
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Para pejabat menunjukkan peta calon lokasi bandar antariksa di Distrik Biak Utara yang mengancam wilayah adat Warbon. Foto Istimewa.LBH Papua Nilai Rencana Pembangunan Bandar Antariksa di Wilayah Adat Warbon Cacat Hukum
    In Lingkungan
    Sabtu, 20 Juni 2026
  • Ilustrasi tawon yang berkoloni. Foto jcbeni.Pixabay.com.Tawon yang Berkoloni Mengenali Wajah Manusia yang Mengganggunya
    In IPTEK
    Jumat, 19 Juni 2026
  • Potret jejak bintang yang tampak berputar di langit. Foto Dok. BRIN.Memotret Jejak Bintang yang Tampak Berputar dengan Kamera DSLR di Timau
    In IPTEK
    Jumat, 19 Juni 2026
  • Ilustrasi nyamuk menggigit. Foto FotoshopTofs/pixabay.com.Anggapan Nyamuk Lebih Suka Golongan Darah O Ternyata Benar, Mengapa?
    In IPTEK
    Kamis, 18 Juni 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media