Senin, 19 Oktober 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ketika Saturnus dan Bulan Tampak Sangat Dekat Diamati dari Bumi

Padahal jaraknya sangat jauh. Bulan berada sekitar 384 ribu kilometer dari Bumi, sedangkan Saturnus berjarak lebih dari satu miliar kilometer.

Rabu, 8 Juli 2026
A A
Ilustrasi konjungsi Saturnus dan Bulan. Foto Quinnbrak/Pixabay.com.

Ilustrasi konjungsi Saturnus dan Bulan. Foto Quinnbrak/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Dalam astronomi, konjungsi adalah peristiwa ketika dua benda langit tampak berada sangat berdekatan apabila diamati dari Bumi. Kedekatan tersebut hanyalah efek perspektif karena kedua benda memiliki bujur ekliptika yang hampir sama, bukan karena benar-benar saling mendekat di ruang angkasa. Konjungsi merupakan fenomena alam yang dapat diprediksi secara ilmiah.

Seperti fenomena konjungsi Saturnus dan Bulan yang menghiasi langit pada 8 Juli 2026 lalu. Fenomena ini bisa diamati sejak sekitar pukul 23.40 WIB saat Bulan mulai terbit, kemudian Saturnus menyusul sekitar pukul 23.45 WIB. Keduanya akan terlihat berdekatan sepanjang dini hari hingga menjelang Matahari terbit sekitar pukul 05.52 WIB. Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah setelah keduanya sudah cukup tinggi di langit, sekitar pukul 01.00–05.00 WIB.

Walaupun terlihat berdekatan di langit, Bulan dan Saturnus sebenarnya dipisahkan oleh jarak yang sangat besar. Bulan berada sekitar 384 ribu kilometer dari Bumi, sedangkan Saturnus berjarak lebih dari satu miliar kilometer.

“Jadi, konjungsi hanya merupakan efek sudut pandang pengamat di Bumi,” jelas Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Izatul Hafizah.

Peristiwa astronomi ini dapat disaksikan dengan mata telanjang selama kondisi cuaca cerah dan langit bebas dari tutupan awan. Masyarakat tidak memerlukan teleskop. Bulan tampak sebagai objek yang sangat terang, sementara Saturnus terlihat seperti titik cahaya berwarna kekuningan. Namun, penggunaan binokular atau teleskop akan memberikan pengalaman observasi yang lebih baik karena cincin Saturnus dapat terlihat lebih jelas.

Lebih lanjut, Izatul menerangkan konjungsi Saturnus dan Bulan terjadi sebagai konsekuensi alami dari gerak orbit benda-benda langit. Seluruh planet di Tata Surya mengelilingi Matahari pada bidang orbit yang hampir sama, yaitu bidang ekliptika.

Di sisi lain, Bulan mengelilingi Bumi setiap sekitar 27,3 hari sehingga secara berkala melintasi posisi Saturnus di langit dari sudut pandang pengamat di Bumi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB UniversityFenomena KonjungsiKonjungsi Satunus dan Bulan

Editor

Next Post
Ilustrasi orang mengalami heatstroke. Foto Cloud Purple/Pixabay.com.

Alarm Dua Kematian Bulan Juni, Heatstroke dan Heat Stress Belum Jadi Perhatian 

Discussion about this post

TERKINI

  • Bencana Sumatra. Foto Walhi.Tidak Tetapkan Bencana Sumatra Sebagai Bencana Nasional, Prabowo Digugat
    In News
    Senin, 19 Oktober 2026
  • Kondisi Desa Sei Gita, Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah, diselimuti kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada Selasa, 13 Oktober 2026. Foto Dok Borneo Is Burning.Mitigasi Krisis Iklim, Suhu Permukaan Meningkat Tren Curah Hujan Menurun
    In Lingkungan
    Sabtu, 17 Oktober 2026
  • Ratusan Perempuan Adat dari berbagai wilayah Nusantara berkumpul dalam Temu Nasional (Temunas) IV di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Foto Dok Perempuan AMAN.Temunas IV Perempuan AMAN: Perempuan Adat Perkuat Kepemimpinan dan Kedaulatan
    In News
    Jumat, 16 Oktober 2026
  • Gedung KPK | kpk.go.id.OTT KPK di BNPB, Kepala BNPB Langsung Diganti
    In News
    Kamis, 15 Oktober 2026
  • Dampak karhutla, wilayah Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, diselimuti kabut asap pada Kamis, 8 Oktober 2026. Foto BNPB.Respons Protes Negara Jiran Dampak Karhutla, Prabowo Perintahkan Penanganan Optimal
    In Bencana
    Selasa, 13 Oktober 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media