Rabu, 22 Juli 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Ketika Saturnus dan Bulan Tampak Sangat Dekat Diamati dari Bumi

Padahal jaraknya sangat jauh. Bulan berada sekitar 384 ribu kilometer dari Bumi, sedangkan Saturnus berjarak lebih dari satu miliar kilometer.

Rabu, 8 Juli 2026
A A
Ilustrasi konjungsi Saturnus dan Bulan. Foto Quinnbrak/Pixabay.com.

Ilustrasi konjungsi Saturnus dan Bulan. Foto Quinnbrak/Pixabay.com.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Dalam astronomi, konjungsi adalah peristiwa ketika dua benda langit tampak berada sangat berdekatan apabila diamati dari Bumi. Kedekatan tersebut hanyalah efek perspektif karena kedua benda memiliki bujur ekliptika yang hampir sama, bukan karena benar-benar saling mendekat di ruang angkasa. Konjungsi merupakan fenomena alam yang dapat diprediksi secara ilmiah.

Seperti fenomena konjungsi Saturnus dan Bulan yang menghiasi langit pada 8 Juli 2026 lalu. Fenomena ini bisa diamati sejak sekitar pukul 23.40 WIB saat Bulan mulai terbit, kemudian Saturnus menyusul sekitar pukul 23.45 WIB. Keduanya akan terlihat berdekatan sepanjang dini hari hingga menjelang Matahari terbit sekitar pukul 05.52 WIB. Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah setelah keduanya sudah cukup tinggi di langit, sekitar pukul 01.00–05.00 WIB.

Walaupun terlihat berdekatan di langit, Bulan dan Saturnus sebenarnya dipisahkan oleh jarak yang sangat besar. Bulan berada sekitar 384 ribu kilometer dari Bumi, sedangkan Saturnus berjarak lebih dari satu miliar kilometer.

“Jadi, konjungsi hanya merupakan efek sudut pandang pengamat di Bumi,” jelas Dosen Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University, Izatul Hafizah.

Peristiwa astronomi ini dapat disaksikan dengan mata telanjang selama kondisi cuaca cerah dan langit bebas dari tutupan awan. Masyarakat tidak memerlukan teleskop. Bulan tampak sebagai objek yang sangat terang, sementara Saturnus terlihat seperti titik cahaya berwarna kekuningan. Namun, penggunaan binokular atau teleskop akan memberikan pengalaman observasi yang lebih baik karena cincin Saturnus dapat terlihat lebih jelas.

Lebih lanjut, Izatul menerangkan konjungsi Saturnus dan Bulan terjadi sebagai konsekuensi alami dari gerak orbit benda-benda langit. Seluruh planet di Tata Surya mengelilingi Matahari pada bidang orbit yang hampir sama, yaitu bidang ekliptika.

Di sisi lain, Bulan mengelilingi Bumi setiap sekitar 27,3 hari sehingga secara berkala melintasi posisi Saturnus di langit dari sudut pandang pengamat di Bumi.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB UniversityFenomena KonjungsiKonjungsi Satunus dan Bulan

Editor

Next Post
Ilustrasi orang mengalami heatstroke. Foto Cloud Purple/Pixabay.com.

Alarm Dua Kematian Bulan Juni, Heatstroke dan Heat Stress Belum Jadi Perhatian 

Discussion about this post

TERKINI

  • Dampak diberlakukannya penutupan TPA Piyungan mulai 23 Juli hingga 5 September, sejumlah tumpukan sampah mulai terlihat di Kota Yogyakarta. Foto Forpi Kota Yogyakarta.Proyek PSEL Yogyakarta Ditunda, Mengapa Konsorsium Pemenang Tender Sudah Diumumkan?
    In News
    Selasa, 21 Juli 2026
  • Ilustrasi regenerasi pohon. Foto Agnieszka/Pixabay.com.Mekanisme Regenerasi Pohon dan Nilai Spiritual Ekologis dalam Al-Qur’an
    In IPTEK
    Senin, 20 Juli 2026
  • Kebakaran di TPA Benowo di Surabaya, 19 Juli 2026. Foto Dok. DKPKP Surabaya.TPA Benowo Terbakar, Risiko Sistem Pemrosesan Sampah Open Dumping
    In Bencana
    Senin, 20 Juli 2026
  • Mengenal orangutan tapanuli. Foto Dok PPID Kemenlhk.Survei Terbaru Populasi Orangutan Sumatera dan Tapanuli Jadi Pijakan Kebijakan Konservasi
    In News
    Sabtu, 18 Juli 2026
  • Tanah longsor di Desa Petir, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Mei 2026. Foto BPBDKabupaten Bogor.Pulau Jawa Hadapi Tekanan Ekologis, Negara Harus Hentikan Perampasan Ruang Hidup
    In News
    Kamis, 16 Juli 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media