Selasa, 8 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

La Nina Triple Dip Berulang hingga 2023, Waspada Penyakit Musim Penghujan

Tampaknya, fenomena La Nina masih berlanjut hingga awal 2023. Tak hanya ancaman bencana hidrometeorologi, melainkan perlu pencegahan penyakit musim hujan.

Selasa, 18 Oktober 2022
A A
Banjir Sintang, enam desa di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, dilanda banjir setinggi 2 meter. Foto Dok BNPB.

Banjir Sintang, enam desa di Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, dilanda banjir setinggi 2 meter. Foto Dok BNPB.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan fenomena La Nina “triple-dip” 2020-2023 (tiga tahun beruntun) menjadi ancaman bagi Indonesia dan banyak negara di dunia. Fenomena serupa pernah terjadi pada 1973 -1975 serta 1998-2001.

“Fenomena ini berpengaruh pada pola cuaca dan iklim di Indonesia. Seperti sebagian wilayah mengalami musim hujan lebih awal,” kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam acara Mini Symposium 17th Annual Indonesia – U.S. BMKG – NOAA Partnership Workshop secara virtual, 14 Oktober 2022. Selain Dwikorita, pembicara lain adalah Sidney Thurston, Andri Ramdhani, Mike McPhadden, Amsari Setiawan, dan Chidong Zhang.

Lalu, apakah La Nina itu? Dwikorita menjelaskan, La Nina adalah fenomena suhu permukaan laut (SML) di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang mendingin hingga di bawah kondisi normal.

Baca Juga: UNS Kembangkan Alarm Warna-Warni untuk Peringatan Dini Banjir Bagi Difabel

Sebaliknya, pendinginan SML di Samudra Pasifik itu diikuti menghangatnya SML di perairan Indonesia. Akibatnya, mendorong pertumbuhan awan awan hujan sehingga meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia secara umum.

Fenomena ini sudah dimulai pada pertengahan 2020 dan diprediksi tetap berlangsung hingga akhir 2022. Bahkan bisa berlanjut hingga awal 2023.

“Jadi diberi nama Triple Dip,” kata Dwikorita.

Triple Dip La Nina adalah fenomena unik. Masyarakat dan pemerintah pusat hingga daerah perlu mewaspadai terjadinya bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir, bandang, angin kencang, cuaca ekstrem, tanah longsor, dan lain sebagainya.

Baca Juga: Potensi Cuaca Ekstrem Berlanjut hingga 21 Oktober 2022, Ini Rekomendasi BMKG

Pola cuaca La Nina adalah salah satu dari tiga fase El Nino Southern Oscillation (ENSO). Ini mengacu pada suhu permukaan laut dan arah angin di Pasifik. Kondisi ini dapat beralih antara fase hangat yang disebut El Nino, fase yang lebih dingin dengan sebutan La Nina, dan fase netral.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Bencana HidrometeorologiBMKGEl NinoKepala BMKG Dwikorita KarnawatiLa NinaLa Nina Triple DipNational Oceanic and Atmospheric Administrationsuhu permukaan laut

Editor

Next Post
Bangkai gajah betina di kebun warga di Aceh Timur. Foto ppid.menlhk.go.id

Gajah Betina Mati di Aceh Timur Diduga Makan Bahan Pupuk

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media