Sabtu, 26 September 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Masyarakat Dairi Tolak Pendanaan Cina untuk Tambang yang Memicu Bencana

Proyek tambang PT DPM bisa merenggut nyawa manusia, menghancurkan lingkungan. Tapi mengapa Cina mau mendanai proyek di Dairi yang bahkan tak penuhi standar di Cina sendiri?

Rabu, 12 Juni 2024
A A
Masyarakat Dairi, Sumatra Utara menggelar aksi tolak pendanaan Cina untuk tambang, 11 Juni 2024. Foto Jatam.

Masyarakat Dairi, Sumatra Utara menggelar aksi tolak pendanaan Cina untuk tambang, 11 Juni 2024. Foto Jatam.

Share on FacebookShare on Twitter

Menurut dia, KLHK melakukan kekonyolan karena memberikan persetujuan lingkungan kepada DPM. Sementara mandat kementerian adalah melindungi rakyat dan lingkungan. Sebaliknya, mereka justru mendukung tambang yang berbahaya yang berpeluang membunuh masyarakat dan meracuni lingkungan sekitar.

Baca Juga: Pemetaan Daerah Rawan Pascaerupsi Gunung Ibu, Waspada Banjir dan Gempa Bumi

“Saya mengutuk pendanaan tambang DPM, mengutuk KLHK karena memberikan Persetujuan Lingkungan DPM. Seolah kedua pemerintah, Indonesia dan Cina, tidak peduli dengan rakyat ataupun lingkungan,” tegas Rainim.

Warga masyarakat Desa Sumbari, Mangatur Lumbantoruan mengungkapkan bahwa seluruh permukaan tanah di area itu tidak stabil. Dunia pun tahu risiko yang bisa terjadi pada bendungan tailing di atas tanah yang tidak stabil.

“Bisa merenggut nyawa manusia. Menghancurkan lingkungan. Tapi mengapa lembaga negara Cina ini mendanai sesuatu yang akan membunuh kami? Yang bahkan tak akan diizinkan di Cina sendiri!” tukas Mangutur.

Baca Juga: Eka Djunarsjah, Perlindungan Lingkungan Laut Syarat Mutlak Pembangunan Berkelanjutan

Bakumsu, sebuah LSM yang membantu komunitas untuk masalah hukum mengingatkan kebocoran bendungan tailing di Brasil pada tahun 2015 telah mengakibatkan hilangnya 272 jiwa, hancurnya desa- desa, dan teracuninya sistem sungai. Kemudian BHP, perusahaan penambangan terbesar dunia, menawarkan kompensasi sebesar $25,7 miliar dolar karena runtuhnya bendungan tailing.

“Para pakar sudah mengatakan kepada kami bahwa bendungan yang diusulkan DPM dapat mengakibatkan kerusakan yang sama. Jujur, saya terkejut lembaga pemerintah Cina bisa ada di balik proyek DPM, terlebih dengan risiko-risiko ini. Sungguh tidak ada manfaatnya,” kata Direktur Bakumsu, Tongam Panggabean.

Ia menambahkan, dunia tengah mencari mineral dan logam untuk transisi energi global. Sebab orang ingin transisi energi yang ‘bersih’. Pemerintah Indonesia juga mengatakan negara ini akan menjadi pusat dunia (penambangan) mineral untuk transisi energi yang diambil secara bertanggung jawab.

Baca Juga: Hari Laut Sedunia, Walhi dan Masyarakat Pesisir Serukan Laut untuk Rakyat Bukan Korporasi

“Ini tidak akan terjadi apabila perusahaan seperti DPM terus mendapatkan persetujuan, dan pengadilan tidak melakukan apa pun,” kata Tongam.

Muhammad Jamil dari Jatam menambahkan, ada ribuan orang di Dairi dan Aceh yang dapat terkena dampak negatif dari tambang DPM ini. Sementara pembiayaan dan persetujuan yang diberikan kepada tambang yang terkait dengan bencana terjadi di seluruh Indonesia.

“Masyarakat tidak seharusnya menjadi korban dari keputusan finansial yang dilakukan secara gegabah,” tegas Jamil.

Baca Juga: Maikel Primus, Lestarikan Lingkungan Hidup di Papua yang Berkelanjutan

Butuh Dukungan MA

Sementara dalam aksi di depan Gedung MA Jakarta, perwakilan masyarakat mendesak pihak mahkamah atau pengadilan mempercepat proses kasasi untuk menentang penerbitan persetujuan lingkungan oleh pemerintah Indonesia untuk DPM. Mereka juga menyerukan mahkamah atau pengadilan memberikan pesan yang jelas bahwa persetujuan tersebut merupakan kesalahan dan dibatalkan.

“Belum terlambat. Pemodal dari Cina ini mungkin hanya kurang diberi informasi. Jika memang demikian, mereka seharusnya menarik dukungan mereka,” kata Mangatur.

Namun apabila mereka tetap berencana menjalankan proyek yang membahayakan itu, Rainim menyatakan sikap akan terus melawan.

“Tidak ada pilihan. Hidup kami, mata pencaharian kami, dan budaya adat kami terancam bahaya. Kami ingin para pemodal berhenti mendanai tambang yang berbahaya ini. Kami butuh MA untuk mengakhiri ini, dan melakukannya segera,” tegas Rainim. [WLC02]

Terkait

Page 2 of 2
Prev12
Tags: bendungan tailingKabupaten DairiPT Dairi Prima MineralSumatra Utara

Editor

Next Post
Tim KLHK dan Polda Banten berhasil menangkap 5 buronan pemburu badak Jawa di TNUK, 1 orang terpidana, 8 orang DPO, 11 Juni 2024. Foto PPID KLHK.

Dua Sindikat Pemburu Badak Jawa di Ujung Kulon, 6 Ditangkap dan 8 Buronan

Discussion about this post

TERKINI

  • Peoples’ Conservation Summit (PCS) 2026: Road to COP-17 CBD, Armenia, digelar sejak 1 hingga 3 September 2026 di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas, UGM, Yogyakarta.PCS 2026 Hasilkan Deklarasi Konservasi Rakyat Indonesia
    In News
    Sabtu, 5 September 2026
  • Ilustrasi anak-anak bermain di wilayah konservasi. Foto Sasint/Pixabay.com.PCS 2026: Kisah Masyarakat Adat Mengupayakan Konservasi, Melawan Marjinalisasi
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Ilustrasi satu kesatuan hubungan manusia dengan alam dalam konservasi. Foto Charlvera/AI/Pixabay.com.PCS 2026: Wilayah Konservasi Bukan Ruang Kosong, Ada Kesatuan Manusia dengan Alam
    In Lingkungan
    Jumat, 4 September 2026
  • Jaringan masyarkat sipil mendesak pemerintah menghentikan konflik agraria dan pelanggaran HAM di Desa Rakawuta, Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara, dan di wilayah Komunitas Adat Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur.Hentikan Konflik Agraria dan Pelanggaran HAM di Rakawuta dan Muara Tae
    In News
    Kamis, 3 September 2026
  • Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Foto Geopix.Karhutla Borneo, 25 Juta Hektar Wilayah Habitat Orangutan Kalimantan Terbakar
    In Lingkungan
    Kamis, 3 September 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media