Rabu, 13 Mei 2026
wanaloka.com
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video
No Result
View All Result
wanaloka.com
No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

Membaca Bencana Ekologis Sumatra

Jumat, 12 Desember 2025
A A
Dampak bencana hidrometeorologi, banjir bandang di wilayah Lubuk Minturun, Koto Tengah, Kota Padang, Sumatra Barat, 27 November 2025. Foto BPBD Padang.

Dampak bencana hidrometeorologi, banjir bandang di wilayah Lubuk Minturun, Koto Tengah, Kota Padang, Sumatra Barat, 27 November 2025. Foto BPBD Padang.

Share on FacebookShare on Twitter

Wanaloka.com – Indonesia diguncang rangkaian bencana ekologis. Saat ini, bencana ekolgis melanda Sumatra, Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, dengan kerusakan masif yang berdampak pada kehidupan rakyat.

Data BNPB hingga Jumat, 12 Desember 2025, korban meninggal yang telah ditemukan 985 orang, dan 226 orang masih dalam pencarian. Bencana melanda 52 kabupaten dan kota di tiga provinsi itersebut, menyebabkan 158 ribu rumah penduduk rusak.

Musibah ekologis yang kini melanda Sumatra, secara historis disulut lewat kebijakan politik dan ekonomi yang telah dibangun sejak enam dekade lalu. Hal ini mengmuka dalam forum diskusi “Petaka Keruk #3” pada Rabu malam, 10 Desember 2025, diselenggarakan di Kechub, Yogyakarta.

Diskusi menghadirkan pembicara Andreas Budi Widyanta (SOREC UGM), Muhammad Risyad Hanafi (mahasiswa Aceh), Orthiz Enko Tanggiz (mahasiswa Papua), Syahrial Adi Putra (Persaudaraan Pekerja Regional Medan), dan Rimbawana (Pemerhati isu 65/Radio Buku).

Baca juga: Hari HAM, Dua Warga Pembela Lingkungan Hidup di Poso dan Ketapang Dikriminalisasi

Dalam paparan AB Widyatna menyampaikan, bencana sosial-ekologis yang terjadi di Indonesia merupakan bentuk perpetuasi spiral kejahatan yang dilakukan secara sadar oleh negara, pasar, dan relasi sosial-kultural, dalam bentuk genosida, ekosida, femisida dan epistemisida.

Kekerasan ini saling terhubung satu sama lain, dan kerap mengorbankan masyarakat adat dan komunitas lokal.

“Bencana yang ditimpakan pada mereka salah satunya merupakan bentuk pemiskinan terstruktur ­melalui laku kolonialisme oleh negara. Ini ditunjukkan tidak hanya lewat pengambilalihan lahan secara paksa, tapi juga penghapusan kedaulatan dan pengetahuan lokal,” ungkapnya.

Orthiz Enko Tanggiz mahasiswa asal Papua, mengungkapkan, pengalaman panjang ekstraksi mulai dari kehadiran Freeport sebagai proyek investasi asing pertama hingga Program Strategis Nasional yang mendorong eksploitasi skala besar hari ini menunjukkan kontinuitas struktur kekuasaan yang tidak pernah benar-benar berakhir.

Terkait

Page 1 of 2
12Next
Tags: Bencana SumatraIzin Ekstraktifizin TambangKrisis Ekologi

Editor

Next Post
FAMM Indonesia bersama Kaoem Telapak menggelar "FAMM Fest: mempertemukan Suara, Seni, dan Rasa" di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dalam rangka peringatan 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan (16 HAKTP) pada 10 Desember 2025.

Perempuan di Garis Depan Krisis Ekologis

Discussion about this post

TERKINI

  • Mengapati dan mendokumentasikan letusan Gunung Sakurajima di Jepang pada 2013 dari jauh. Foto Dok. Mirzam Abdurrachman.Erupsi Dukono, Pentingnya Pemahaman Risiko dan Peringatan Dini yang Mudah Dipahami
    In Rehat
    Selasa, 12 Mei 2026
  • Salah satu jenis anggrek Merapi. Foto Dok. TNG Merapi.Anggrek Merapi, Beraroma Wangi dan Mampu Bertahan Saat Erupsi
    In Rehat
    Selasa, 12 Mei 2026
  • Ilustrasi ,krisis air bersih. Foto Andres_maura_ph/Pixabay.com.Pemerintah Harus Antisipasi Krisis Sampah dan Air Bersih Dampak Godzilla El Niño 2026
    In Lingkungan
    Senin, 11 Mei 2026
  • Ilustrasi tikus pembawa virus. Foto Sipa/Pixabay.com.Mengenal Virus Hanta Tipe HFRS di Indonesia dan Tipe HPS di Kapal Pesiar
    In Rehat
    Senin, 11 Mei 2026
  • Tim SAR gabungan membawa kantong jenazah korban erupsi gunung api Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, 10 Mei 2026. Foto Basarnas.Pendakian Gunung Dukono Ditutup April 2026, Tiga Pendaki Tewas Mei 2026
    In Traveling
    Minggu, 10 Mei 2026
wanaloka.com

©2026 Wanaloka Media

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber

No Result
View All Result
  • Home
  • Indepth
  • Lingkungan
  • Sosok
  • News
  • Foto
  • Bencana
  • Traveling
  • IPTEK
  • Rehat
  • Video

©2026 Wanaloka Media